Mengenal Aneka Upacara Tradisional Jawa

0
264
Upacara Tradisional Jawa b
Upacara Tradisional Jawa b

Di lubuk hati terdalam masyarakat Jawa selalu merasa bersama dan tak pernah berpisah dengan Sang Pencipta, yang disembah di mana pun, kapan pun serta dalam keadaan yang bagaimana pun. Menjaga hubungan yang harmonis dengan alam lingkungan adalah cara untuk memuliakan dan menyembah Sang Pencipta. Agar tercipta keharmonisan, lingkungan alam perlu dirawat dan diruwat. Cara-cara ini dapat dilihat dan diperhatikan ketika masyarakat Jawa mengadakan berbagai ritual atau upacara tradisional. Ritual atau upacara tradisional ini penuh dengan bahasa simbol yang memiliki nilai falsafah tinggi. Harapannya Sang Pencipta akan memberikan restu dalam kehidupan manusia, sehingga segala sesuatunya dapat berjalan lancar dan selamat.

Dengan memahami simbol dan berusaha melaksanakan dengan baik dan benar kehidupan akan menjadi lebih harmonis. Seseorang akan menjalani hidup dengan hati-hati, tidak sekadar hidup, tapi berusaha menjalankan amanah hidupnya sesuai kehendak Sang Pencipta. Seseorang juga akan menjalani hidup dengan lebih bersemangat karena sudah memahami hidup dan apa tujuan kehidupan. Akhirnya sikap hidupnya menjadi benteng dan penyemangat untuk menyongsong masa depan bagi kemanusiaan.

Upacara tradisi masyarakat Jawa sangat banyak, baik yang dilakukan oleh perorangan, keluarga, dan masyarakat/komunitas. Upacara tradisi yang dilakukan perorangan misal bancakan wetonan (syukuran atas hari kelahiran) dan ruwatan (untuk menghilangkan hal-hal yang menyebabkan kesengsaraan hidup). Dalam lingkaran daur hidup manusia ada upacara tradisi perkawinan, saat hamil, kelahiran, tedhak siten, dan kematian. Dalam masyarakat/komunitas ada upacara bersih desa, upacara tradisi 1 Sura (menyongsong tahun baru Jawa). Keraton Yogyakarta dan Surakarta memiliki tadisi perayaan Garebeg. Keraton Mangkunegara dan Surakarta mempunyai upacara tradisi Rajawedha.

Upacara Tradisional Jawa d
Upacara Tradisional Jawa d

Buku ini berisi berbagai contoh upacara tradisional yang dilakukan perorangan, masyarakat, dan keraton. Walaupun penjelasannya hanya singkat dan secukupnya saja, buku ini menjadi menarik karena disertai lampiran berbagai foto yang ada. Upacara tradisional yang penuh makna dan falsafah ini sebenarnya dapat menjadi media belajar bagi siapa pun. Bahwa masyarakat Jawa dalam menyampaikan sesuatu sering kali tidak secara langsung, tetapi melalui bahasa simbol. Misal ketan kolak apem. Ketan bersifat lekat atau menempel, melambangkan ‘kelekatan’ kita dengan leluhur sebagai makhluk Sang Pencipta. Kolak, terbuat dari pisang dan ubi yang direbus dengan santan bersama gula jawa. Pisang buah yang tergantung, melambangkan bahwa manusia harus selalu ingat Sang Pencipta. Umbi tumbuh di bumi, tempat manusia berpijak sehingga manusia harus memelihara kelestarian bumi, mamayu hayuning bumi. Apem, terbuat dari tepung beras yang dicampur gula jawa dan parutan kelapa muda, rasanya manis, melambangkan sikap dan sifat saling memaafkan dengan seutuh-utuhnya, yang dilambangkan dengan bentuk apem yang bulat.

 

Judul                 : Upacara Tradisional Jawa
Penulis              : Suryo S. Negoro
Penerbit             :
Bahasa              : Indonesia
Jumlah halaman : xxiii + 348

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here