Koleksi Lesung dan Legenda Rawa Pening

0
384
Suasana telaga Rawa Pening yang dipenuhi enceng gondok-foto-istimewa
Suasana telaga Rawa Pening yang dipenuhi enceng gondok-foto-istimewa

Masyarakat Jawa banyak menciptakan kisah cerita yang berkaitan dengan alam sekitar, satu di antaranya adalah kisah terjadinya Telaga Rawa Pening (dalam bahasa Jawa kata pening varian dari kata bening). Uniknya lagi, dalam kisah itu, masyarakat Jawa selalu mengaitkan dengan alat-alat dapur atau pertanian, salah satunya adalah lesung. Saat ini keberadaan lesung lebih banyak sebagai koleksi museum di negeri ini.

Pada tulisan yang lalu pernah dikisahkan lesung dalam cerita Jawa yang berkaitan dengan Jaka Tarub dan Candi Roro Jonggrang, maka kali ini akan dikisahkan mengenai hubungan lesung dengan kisah Telaga Rawa Pening, Yang berada di wilayah Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Masyarakat yang menghuni di sekitarnya adalah masyarakat Jawa.

Masyarakat Jawa tempo dulu percaya bahwa Telaga Rawa Pening terjadi karena kemurkaan seorang anak kecil yang disia-siakan oleh penduduk Rawa Pening. Penduduk tidak mengetahui bahwa sebenarnya seorang anak kecil itu adalah penjelmaan seorang satria sakti bernama Baru Klinthing yang bertapa di hutan sekitar situ. Ketika bertapa satria sakti itu berubah wujud menjadi seekor naga besar.

Singkat cerita, naga besar itu dibunuh oleh warga dan dagingnya dibagi rata kepada semua penduduk Rawa Pening. Suatu saat, ada seorang anak kecil menguji kedermawanan semua penduduk Rawa Pening. Ia mencoba untuk meminta makanan dari semua penduduk di situ. Namun tidak berhasil. Bahkan ia diusir karena badannya penuh koreng dan berbau amis. Untunglah ada seorang nenek tua yang baik hati. Ia mau memberi makanan kepada anak kecil itu dengan tulus ikhlas. Atas kebaikannya itu, anak kecil itu (yang sebenarnya jelmaan dari seorang satria sakti) berpesan kepada nenek tua itu, apabila suatu waktu terjadi air bah, segeralah naik ke atas lesung sambil membawa enthong (pengaduk nasi).

Konten Terkait:  Kamus Ini untuk Memudahkan Belajar Bahasa Jawa 
Lesung koleksi Museum Tembi sedang digunakan untuk kesenian gejog lesung-foto-tembi
Lesung koleksi Museum Tembi sedang digunakan untuk kesenian gejog lesung-foto-tembi

Setelah berpesan kepada nenek tua itu, anak kecil segera membuat sayembara kepada penduduk Rawa Pening. Barang siapa bisa mencabut lidi yang ditancapkan di tanah, maka akan diberi hadiah istimewa. Banyak penduduk yang penasaran dengan sayembara itu. Bahkan banyak yang meremehkan. Satu-persatu penduduk mencobanya, namun tidak ada satu pun yang berhasil mencabutnya. Karena tidak ada yang memenangkan sayembara, anak kecil itu yang mencabutnya sendiri. Setelah lidi dicabut, keluarlah air di situ. Awalnya air keluar kecil, tetapi lama-kelamaan menjadi sangat besar. Kalau sekarang kisahnya mirip dengan lumpur Lapindo. Air besar itu akhirnya menggenangi perkampungan Rawa Pening. Melihat gelagat itu, nenek tua telah menyiapkan lesung dan enthong untuk menyelamatkan diri. Sementara semua penduduk lainnya tidak sempat menyelamatkan diri dan akhirnya tenggelam bersama dengan perkampungannya.

Tarian kolosan yang mengisahkan cerita Rawa Pening-foto-istimewa
Tarian kolosan yang mengisahkan cerita Rawa Pening-foto-istimewa

Selamatlah nenek tua yang dermawan itu karena telah menolong anak kecil. Sebaliknya anak kecil juga telah menolong nenek tua, dengan memberitahu cara menyelamatkan diri, yaitu dengan naik lesung. Sekali lagi, lesung mempunyai kisah unik bagi masyarakat Jawa. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here