Kisah Gua Kiskendo Kulonprogo Menurut Majalah Kejawen

0
292
Gua Kiskendo terletak di Kulonprogo DIY-foto-istimewa
Gua Kiskendo terletak di Kulonprogo DIY-foto-istimewa

Sejak zaman abad IX, kisah wayang purwa telah dikenal baik oleh masyarakat Jawa, walaupun sumber cerita berasal dari India. Dalam kehidupan sehari-hari, kisah wayang telah menyatu dengan kehidupan masyarakat. Kisah wayang seolah-olah ada dan terjadi di sekitarnya. Maka tidak ayal banyak nama orang dan tempat di Jawa yang mengambil nama-nama wayang purwa, salah satunya adalah Gua Kiskendo yang ada di wilayah Kulonprogo, DIY.

Entah sejak kapan, secara turun-temurun masyarakat di sekitar gua itu telah menyebutnya Gua Kiskendo. Padahal gua Kiskendo adalah sebuah nama gua yang ada dalam cerita wayang purwa. Mungkin bagi masyarakat Jawa zaman dulu, kisah wayang adalah kisah leluhur mereka. Maka nama gua pun dinamakan Gua Kiskendo.

Kisah gua Kiskendo ini pernah ditulis dalam majalah berbahasa dan beraksara Jawa, yakni Majalah Kajawen. Pada Kajawen edisi 68 tanggal 24 Agustus 1932 halaman 1.063—1.065, ditulis bahwa Gua Kiskendo (tertulis: guwa Kiskrendha) terletak di Pegunungan Menoreh perbatasan Purworejo dan Kulonprogo (tertulis: dumunung ing pareden Manoreh tapel watesing paresidhenan Bagelen lan Gupermen Ngayogyakarta).

Menurut kisah masyarakat Jawa setempat, Gua Kiskendo merupakan petilasan Prabu Maesasura. Ia menyuruh Patih Lembusura untuk melamar putri Batara Endra bernama Dewi Tara. Namun lamaran ditolak. Maka Lembusura mengamuk. Semua dewa kalah. Kemudian Batara Endra membuat sayembara, barang siapa yang bisa mengalahkannya, akan dihadiahi Dewi Tara. Satriya yang ikut sayembara di antaranya adalah Subali dan Sugriwa. Keduanya segera menuju gua Kiskendo.

Halaman sampul majalah Kajawen yang mengisahkan cerita gua Kiskendo-foto-suwandi
Halaman sampul majalah Kajawen yang mengisahkan cerita gua Kiskendo-foto-suwandi

Pertama, Sugriwa segera masuk ke gua itu dan berperang melawan mereka. Tetapi ia kalah. Kemudian ia keluar gua dan menyampaikan kekalahannya kepada kakaknya, Subali. Sekarang giliran Subali hendak melawan Prabu Maesasura. Sebelum masuk gua, Subali berpesan kepada adiknya, jika air sungai mengalir berwarna merah, berarti Prabu Maesasura dan bawahannya telah kalah. Tetapi apabila air sungai mengalir berwarna putih, berarti Subali tewas dan mulut gua diminta untuk segera ditutup dengan batu. Lalu Subali masuk gua.

Perang segera terjadi. Subali bisa menewaskan mereka. Bahkan otak mereka ikut dihancurkan sehingga bercampurlah isi otak berwarna putih dengan darah berwarna merah. Air sungai yang mengalir berubah warna menjadi putih dan merah. Sugriwa yang menjaga mulut gua, secara otomatis menutup gua dengan batu. Ia mengira Subali ikut tewas dalam pertempuran itu.

Prabu Maesasura penghuni gua Kiskendo dalam cerita wayang purwa-foto-suwandi
Prabu Maesasura penghuni gua Kiskendo dalam cerita wayang purwa-foto-suwandi

Singkat cerita, Sugriwa lalu ke kahyangan dan bertemu dengan Batara Endra. Ia mengisahkan perjalanannya itu. Kemudian Sugriwa dijodohkan dengan Dewi Tara. Sementara Subali masih hidup dan berada di dalam Gua Kiskendo. Kisah selanjutnya bisa dibaca lengkap dalam Majalah Kajawen koleksi Perpustakaan Tembi Rumah Budaya Yogyakarta. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here