Para Pembaca Puisi di Sastra Bulan Purnama

0
240
Ida Fitri
Ida Fitri

Sastra Bulan Purnama, yang diselenggarakan setiap bulan di Tembi Rumah Budaya, tidak hanya menampilkan penyair membacakan puisi karyanya, tetapi juga menampilkan para pecinta puisi untuk membacakan puisi karya penyair yang buku puisinya sedang diluncurkan di Tembi Rumah Budaya.

Pada Sastra Bulan Purnama edisi 78, Jumat 2 Maret 2018, di pendapa Tembi Rumah Budaya, yang diisi dengan peluncuran tiga buku puisi karya tiga penyair, dua di antaranya, selain dibacakan penyairnya, juga dibacakan oleh para pecinta puisi, yang sering datang di Sastra Bulan Purnama, dan bukan baru pertama kali membaca puisi.

Para pembaca itu di antaranya Ida Fitri, seorang penyiar radio swasta, dan Margono penyiar radio RRI Yogya, Tosa Santosa, seorang pegiat fashion show di Yogya, Latifah, seorang guru dan Nunung Rita pegiat seni dari Sanggarbambu. Tidak ketinggalan Choen Supriyatmi seorang guru sekaligus perempuan penyair.

Choen Supriyatmi membacakan puisi karya Bambang Widiatmoko dalam buku puisi berjudul “Silsilah yang gelisah’. Dalam membaca puisi Choen diiringi musik dari kendang dan alat musik lainnya hasil kreasi Otokbima Sidharta.

Nunung Rita dan Latifah juga membacakan puisi karya Bambang Widiatmoko. Jadi, selain dibacakan sendiri oleh penyairnya, karya Bambang Widiatmoko dibacakan oleh dua perempuan, yang berbeda profesi. Latifah, tampaknya baru kali pertama membaca puisi di Sastra Bulan Purnama.

Tiga pembaca lain, Ida Fitri, Margono dan Tosa Santosa membacakan puisi karya Handry TM, penyair dari Semarang yang meluncurkan buku puisi berjudul ‘Eventide’. Ida Fitri membaca dua puisi, Margono dua puisi dan Tosa Santosa membaca satu puisi.

“Saya akan membaca satu puisi saja, karena yang lain sudah membaca lebih dari satu puisi,” kata Tosa Santosa.

Nunung Rita
Nunung Rita

Ida Fitri, yang mengenakan kebaya warna biru, sudah beberapa kali membaca puisi di Sastra Bulan Purnama, dan terlihat dia menikmati setiap kali membaca puisi. “Saya tidak terlalu bisa membaca puisi, bahkan bisa dikatakan hanya biasa saja dalam membaca puisi, tetapi setiap kali diminta membaca puisi oleh Pak Ons, saya merasa susah untuk mengelak,” kata Ida Fitri mengawali.

Lain lagi dengan Margono, seorang penyiar radio RRI Yogya, yang mempunyai kemampuan berbahasa Jawa sangat bagus, dia merasa perlu protes diminta membaca puisi di Tembi, lebih-lebih kali ini pada peluncuran buku puisi Handry TM.

“Saya diminta membaca 2 puisi dan tidak boleh memilih, dua puisi sudah dipilihkan oleh kanjeng Ons, dan saya harus mempelajari untuk dibacakan,” kata Margono berkelakar. Tentu, kelakarnya disambut tawa oleh hadirin yang hadir.

Margono
Margono

Karena mungkin sudah terbiasa tampil membaca puisi, dan tidak hanya di Tembi. Para pembaca puisi yang tampil di Sastra Bulan Purnama edisi 78 ini terlihat tidak canggung. Bahkan ekspresinya mengesankan, setidaknya dilihat dari ekspresi mimik muka, gerakan tangan dan intonasi suaranya. Margono, yang belakangan sering tampil membaca naskah Jawa dalam satu pertunjukan terlihat sekali menghayati puisi yang dibacanya.

Ida Fitri, bahkan merasa perlu mengekspersikan melalui bibirnya, sehingga terlihat bibirnya, kalau dalam istilah jawa disebut njaprut. Penampilan yang lain, Rita, Choen, Tosa dan Latitah, gerak tangan dan gerak tubuhnya adalah bentuk dari ekspresinya.

Sastra Bulan Purnama, rasanya, selama ini telah memberi atmosfir pada pecinta sastra di Yogya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here