Mengungkap Makna Rumah Jawa

1
715

Rumah atau omah dalam bahasa Jawa mempunyai arti tempat tinggal. Dalam pandangan orang Jawa rumah bukan sekadar tempat tinggal, bernaung atau berkumpulnya keluarga. Rumah yang juga disebut wisma merupakan simbol harkat, martabat dan juga kesempurnaan terutama bagi laki-laki.

Rumah dalam masyarakat Jawa merupakan rangkaian gugusan bangunan yang dapat diumpamakan pohon dengan bagian-bagiannya yang saling mendukung dan membutuhkan. Rumah tanpa pendapa bagaikan pohon tanpa batang. Rumah tanpa dapur diumpamakan rumah tanpa buah, tidak ada yang diharapkan. Rumah tanpa kandang diumpamakan pohon tanpa daun, tidak bisa untuk berteduh. Rumah tanpa gapura/tempat berdoa diumpamakan pohon tanpa akar, tidak bisa menopang kehidupan.

Bagi masyarakat Jawa, rumah yang ideal dibangun sesuai dengan lingkungan dan tidak berlawanan dengan hukum kosmologi. Alasannya, dari rumahlah segalanya berawal dan rumah merupakan sumber penghidupan.

Bagian rumah tradisional Jawa yang paling mudah untuk diidentifikasikan adalah bagian atap,yang mengambil filosofi bentuk dari gunung. Dalam kehidupan masyarakat Jawa, gunung berkaitan dengan hal-hal yang sakral. Perwujudan gunung dalam atap rumah tradisional Jawa dapat dilihat dalam bentuk tajug, joglo, limasan dan kampung. Struktur bangunan atap ditopang oleh tiang (saka). Bagian utama penyangga atap disebut saka guru yang berjumlah empat buah, lambang arah mata angin.

Dalam membangun rumah, masyarakat Jawa menggunakan perhitungan-perhitungan tertentu. Hal ini dianggap penting, karena rumah yang nantinya akan ditempati akan membawa pengaruh bagi yang menempati. Mereka pasti memperhitungkan lokasi, jenis dan kemiringan tanah jangan sampai salah pilih. Kayu yang dipakai terutama untuk bagian-bagian tertentu seperti, molo, saka dan penggeret, juga ada perhitungan-perhitungan tertentu yang menjadi pertimbangan, misal lokasi tumbuh, jenis dan keadaan pohon, saat penebangan serta saat pembuatannya.

Konten Terkait:  Uang Kuno Melengkapi Koleksi Museum Tembi Rumah Budaya

Sebelum membangun rumah, menebang pohon, membuat molo, atau aktivitas tertentu yang dianggap penting ada sesaji dan ritual tertentu. Tujuannya adalah memohon keselamatan dan ketenteraman bagi yang mengerjakan dan nantinya bagi yang menempati. Rumah tradisional Jawa umumnya menghadap utara atau selatan, berorientasi terhadap sumbu kosmis utara-selatan yaitu Gunung Merapi dan Laut Jawa.

Untuk membuat rumah dan lingkungan sekitar menjadi nyaman, aman, sehat dan asri masyarakat Jawa juga memanfaatkan tumbuhan dan binatang. Tumbuhan dan binatang ini tentu saja dipilih yang mempunyai nilai guna tertentu, misal dari segi ekonomi, kesehatan, keindahan, keamanan, harkat dan martabat. Tumbuhan dan binatang ini tidak sedikit yang memiliki nilai-nilai filosofi tinggi. Misal sawo kecik, mempunyai makna sarwo becik atau selalu dalam keadaan baik. Kuda, merupakan hewan tunggangan untuk memerlancar aktivitas, sekaligus lambang agar seseorang selalu menuju ke kehidupan yang lebih baik.

Judul                 : Filosofi Rumah Jawa. Mengungkap Makna Rumah Orang Jawa
Penulis              : Asti Musman
Penerbit            : Pustaka Jawi, 2017, Yogyakarta
Bahasa              : Indonesia
Jumlah halaman : x + 297

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here