Katarsis, Menikmati Karya Rupa Melalui Psikologi

1
257
After The Disconstruction, acryllic and pastel on canvas, 150 x 150 cm, 2017, karya Bayu A.P. Asmoro-Foto-A.Sartono
After The Disconstruction, acryllic and pastel on canvas, 150 x 150 cm, 2017, karya Bayu A.P. Asmoro-Foto-A.Sartono

Katarsis adalah salah satu cara untuk menyalurkan emosi yang terpendam atau pelepasan kecemasan dan ketegangan yang ada di dalam diri seseorang, misalnya dengan curhat, menulis, dan tentunya juga dengan berkarya bagi seniman. Katarsis itulah yang dipilih sebagai tema dalam pameran seni rupa bersama antara Bayu AP Asmoro, Bio Andaru, Boby Prabowo, Rangga Anugrah Putra, dan Siam Candra Artista di Redbase Gallery, Jurug, Bangunharjo, Sewon, Bantul, mulai 21 Februari-17 Maret 2018.

Tema Katarsis dalam pameran ini mengingatkan pada teori psikoanalisa yang diperkenalkan oleh seorang neurolog dari Austria bernama Sigmund Freud. Hal demikian tidak meleset karena pameran ini memang mengaitkan dunia seni rupa dengan dunia psikologi. Pada galibnya dunia seni dan dunia psikologi melibatkan dua hal, atau lebih cabang teori psikologi. Hal ini bergantung pada studi persepsi, studi tentang emosi, dan studi imajinasi dari seniman yang muncul lewat karyanya.

Bloom in Pressure, Acryllic on Canvas, 150 x 180 cm, 2017, karya Rangga Anugrah Putra-Foto-A.Sartono
Bloom in Pressure, Acryllic on Canvas, 150 x 180 cm, 2017, karya Rangga Anugrah Putra-Foto-A.Sartono

Dengan demikian (kadang-kadang) untuk membaca karya seni melalui sudut pandang psikologi setidaknya dimulai bukan dengan membahas tentang pengalaman estetika dasar, namun dengan dua bidang masalah lainnya, yaitu emosi dan imajinasi. Karena pada dasarnya memang semua sistem psikologi yang mencoba menjelaskan seni hanyalah kombinasi dari teori imajinasi dan emosi.

Barangkali memang tidak satu pun dari teori yang ada dapat menjelaskan wujud hubungan erat antara perasaan dan obyek yang dilihat. Namun orang sering merasakan ketika melihat sebuah karya seni yang akhirnya membawa orang larut dalam suasana emosional selalu mencakup beberapa hal, di antaranya adalah kontradiksi, perasaan saling bertentangan, serta hubungan arus pendek imajinasi. Hal tersebut adalah efek sebenarnya dari sebuah karya seni.

Imajinasi di 00.01 Dunia Nyata Rasa Surgawi, ink on plastic, 240 x 100 cm, 5 panels, 2017-2018, karya Siam Candra Artista-Foto-A.Sartono
Imajinasi di 00.01 Dunia Nyata Rasa Surgawi, ink on plastic, 240 x 100 cm, 5 panels, 2017-2018, karya Siam Candra Artista-Foto-A.Sartono

Dengan menghadirkan pembacaan ulang jati diri seniman beserta karyanya dengan menggunakan analisa katarsis, pameran ini berupaya mengidentifikasi jangkauan kesadaran seniman. Upaya ini hendak menangkap konflik intim apa saja yang terlihat dalam sebuah makna dan wujud fisik karya seni yang akhirnya muncul dalam fungsi logika imajinasi berkarya. Padqa sisi-sisi itu apresian dipersilakan untuk merasakan, apakah emosi terpendam seniman mampu dimunculkan atau justru dilemahkan oleh imajinasi mereka.

Konten Terkait:  Setelah Pameran Lalu Mau Bagaimana, Catatan Pameran Aksi Artsy
Loner Barricade, mortar, steel, an paint, 210 x 50 x 35cm, 2018, karya Bio Andaru-Foto-A.Sartono
Loner Barricade, mortar, steel, an paint, 210 x 50 x 35cm, 2018, karya Bio Andaru-Foto-A.Sartono

Oleh karena pameran ini ditampilkan dengan pendekatan teori analisa psikologi, maka dalam setiap karya perupa juga disajikan ulasan singkat mengenai karya perupa dengan kondisi psikologi perupanya. Contohnya, perupa Bayu AP Asmoro dalam analisa psikologinya disebutkan bahwa konflik utama yang ditunjukkan oleh karyanya didominasi oleh rasa tertekan dan perasaan tidak mampu. Hal ini disebabkan oleh pengalaman ketika bekerja menjadi buruh pabrik dan beberapa pengalaman masa kecil yang membuatnya merasa tidak nyaman dan tertekan dalam bawah sadarnya. Ada kelelahan emosional dan energi yang rendah sehingga kurang dapat mengontrol diri dan membutuhkan dorongan serta kasih sayang dan bantuan orang lain dalam mencapai tujuannya, serta dorongan agresi guna menunjukkan kemampuan yang dimiliki.

Suicide Province, mixed media variable dimentions, 2018, karya Boby Prabowo-Foto-A.Sartono
Suicide Province, mixed media variable dimentions, 2018, karya Boby Prabowo-Foto-A.Sartono

Kondisi berbeda ada pada diri perupa Boby Prabowo. Konflik yang terlihat dalam karya Boby adalah agresi yang tinggi dan dapat diamati orang-orang di sekitarnya. Konflik yang dialami pada masa lalunya adalah konflik dengan sosok ibu, menjadi berpengaruh dalam menentukan langkahnya di masa depan, agar tidak mengulangi masalah yang dialaminya pada masa lalu. Hal ini kemudian menyebabkan adanya kebutuhan akan dorongan orang lain untuk mencapai kesuksesannya dikarenakan juga adanya khayalan atau keinginan yang melebihi kemampuannya, sehingga tidak bisa ia capai sendiri.

Kajian psikologi ini menjadi menarik untuk menyusup lebih dalam bagaimana karya itu muncul dari relung emosi dan imajinasi perupa berkait dengan kesadaran dan “ketidaksadarannya” sejauh-jauh yang bisa “dibaca” oleh kaca mata psikologi. (*)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here