Menyatu Energi dalam Kolaborasi Musik Tradisi

0
333
Kuroki Yuta mengekspresikan gerak dalam sesi kolaborasi-foto-Indra
Kuroki Yuta mengekspresikan gerak dalam sesi kolaborasi-foto-Indra

Berpadunya bunyi dan harmoni merupakan ungkapan yang paling dapat dimengerti bagi kebanyakan orang. Manusia mempunyai rasa yang setiap saat mampu diolah tanpa memandang siapa dan di mana harus berada. Perbedaan bangsa maupun bahasa hanyalah sekat tipis yang mampu ditembus ketika ungkapan tersebut berbuah menjadi hal yang dinamis. Dua nuansa dari dua negara yang berbeda sekiranya memberi contoh betapa pengolahan rasa dalam wujud harmonisasi nada itu seakan tak bersekat.

“When The Differences Meet” merupakan pertunjukan musik kolaborasi antara Indonesia dan Jepang. Pertunjukan yang terselenggara pada Kamis, 1 Maret 2018 merupakan kerja sama Forum Musik Tembi dan Radikal Nol Sembilan Art Organizer, yang menampilkan musisi tradisi dari kedua negara: Chikuyusha (Jepang) dan Swara Nusa (Indonesia).

Penampilan dari masing-masing delegasi tersebut seakan menyampaikan nuansa yang berbeda akan tetapi bukan berarti penonton tidak terpana. Ya, suguhan dari Chikuyusha yang digawangi Kousuke Kumaki (Shakuhachi), Fuka Mariwo (Shamisen) serta seorang penari tradisi Jepang Kuroki Yuta bagaikan “oleh-oleh” yang tak ternilai harganya. Bagaimana tidak, nuansa otentik Negeri Sakura amat kental terasa sejak alunan pertama Chikuyusha.

Penampilan Swara Nusa-foto-Indra
Penampilan Swara Nusa-foto-Indra

Beda halnya dengan Swara Nusa, penampilannya tak kalah luar biasa, sehingga istilah ‘etalase Nusantara’ cocok melekat pada grup yang beranggotakan anak-anak muda tersebut. Berbeda tanah kelahiran, berbeda tradisi dan budaya tak menghalangi para personil Swara Nusa untuk berkarya. I Kadek Dwi Santika dan Kadek Anggara Rismandika (Bali), Primadana Afandi (Kalimantan), Primadini Dwi Maulinda (Banyuwangi), M. Fabian Arrizqi (Lampung), Frendy Satria Palindo (Padang) seakan mampu “memanfaatkan perbedaan” dan mengolahnya secara dinamis sehingga kekayaan irama Nusantara terangkum dalam karya mereka.

Penampilan Chikuyusha-foto-Indra
Penampilan Chikuyusha-foto-Indra

Pertunjukan diakhiri dengan berbagai macam kolaborasi idiom musik Nusantara, seperti Bali, Lampung, Padang, Kalimantan, Banyuwangi dan Palu yang digabung dengan idiom musik Jepang. Sentuhan musik modern mampu beriringan dengan harmonis dalam kolaborasi tersebut. Tak hanya berkutat pada musik saja, pertunjukan kolaborasi ini melibatkan penari tradisi Jepang untuk dapat berekspresi dan bereksplorasi dalam gerak dengan berbagai nuansa.

Kolaborasi Chikuyusha dan Swara Nusa-foto-Indra
Kolaborasi Chikuyusha dan Swara Nusa-foto-Indra

Saling berbagi energi antara penampil dan audien tercermin sepanjang pertunjukan berlangsung. Bukan tentang jumlah audien ataupun durasi pertunjukan yang menjadi patokan, namun pertunjukan malam itu terasa pas sehingga mampu menciptakan momen yang berkesan. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here