Swagayugama Bersama Keraton Melestarikan Tari Klasik Gaya Yogyakarta

0
213
Beksan Golek Lambangsari oleh Djati Yudhaningtyas, Wulansari, Sari Dewi Utami, Lucky Krysnawati Utami, Stella Marissa, foto Matheus Raoul.
Beksan Golek Lambangsari oleh Djati Yudhaningtyas, Wulansari, Sari Dewi Utami, Lucky Krysnawati Utami, Stella Marissa, foto Matheus Raoul.

Masa peralihan dari fase akil balik menuju fase dewasa seorang remaja putri sungguh menarik jika diamati dari gerak-geriknya. Yaitu ketika ia sedang mematut diri menggerakan-nggerakan tubuhnya berlama-lama di depan cermin, kemudian dilanjutkan merias diri dengan membedaki wajah (tasikan/pupuran), menggambar alis (celakan), memakai lipstick, menggincu, menggelung rambut (ukelan), memasang hiasan kepala (atrap jamang), memasang hiasan telinga (atrap sumping) memasang cunduk kepala (atrap cundhuk) memasang sabuk emas (atrap slepe), mengurai rambut (miwir rikma), memegang-megang subang (dolanan supe).

Polah tingkah di depan cermin itulah yang menginspirasi para empu untuk kemudian mengolahnya menjadi rangkaian gerakan tari yang halus dan indah. Maka kemudian lahirlah tari Golek, yang artinya mencari. Mencari jati diri. Ada beberapa jenis tari Golek yang diciptakan para empu dari Keraton Yogyakarta, Surakarta, Pakualaman dan Mangkunegaran.

Salah satunya adalah Tari Golek Lambangsari yang dibakukan menjadi tari golek klasik gaya Yogyakarta. Tari Golek Lambangsari ini merupakan tarian putri yang berkarakter alus, diciptakan oleh KRT Purbaningrat pada zaman Hamengku Buwana VII.

Pada hari Minggu pagi 25 Februari 2018, tari Golek Lambangsari ini dipentasakan di Bangsal Srimanganti Keraton Yogyakarta oleh para mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang diwadahi dalam Swagayugama (Seni Jawa Gaya Yogya Universitas Gadjah Mada). Pentas tersebut bertujuan, selain untuk menjamu para wisatawan yang berkunjung ke Keraton Yogyakarta juga untuk mengenalkan seni tari klasik gaya Yogyakarta kepada masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan misi Swagayugama yang ingin menjaga keaslian, menghidupi kegunaan, serta mengembangan kebaruan kesenian Jawa gaya Yogyakarta khususnya karawitan dan tari, agar tetap lestari, diterima oleh masyarakat yang hidup di zamannya.

Beksan Srikandhi Bhisma oleh RA Keshari Adiarasti P dan I Made Christian Wiranata Rediana foto Matheus Raoul
Beksan Srikandhi Bhisma oleh RA Keshari Adiarasti P dan I Made Christian Wiranata Rediana foto Matheus Raoul

Selain Tari atau beksan Golek Lambangsari yang ditarikan oleh Djati Yudhaningtyas, Wulansari, Sari Dewi Utami, Lucky Krysnawati Utami, Stella Marissa, ditampilkan pula beksan Klana Raja oleh Majduddin Taufan Ikram Zakiy, beksan Klana Topeng Gagah oleh Prabowo Hanifianto dan beksan Srikandhi Bhisma oleh RA Keshari Adiarasti P dan I Made Christian Wiranata Rediana.

Konten Terkait:  Pameran Kelompok Tiga Kota, We Ar(t)e Here

Tidak jauh berbeda dengan beksan Golek, beksan Klana adalah beksan yang menggambarkan sebuah proses pencarian seorang laki-laki yang bernama Prabu Klana Sewandana untuk menemukan pasangan hidup yaitu Dewi Candrakirana. Dalam proses pencarian tersebut, Prabu Klana melakukan berbagai penyamaran. Ada kalanya menyamar menjadi raja, menjadi ksatria dan bahkan pernah menyamar menjadi seekor yuyu (kepiting). Pada mulanya dinamakan beksan Klana, karena tarian tersebut memakai topeng Klana tokoh antagonis pada serat Panji.

Beksan Klana Raja oleh Majduddin Taufan Ikram Zakiy foto Matheus Raoul
Beksan Klana Raja oleh Majduddin Taufan Ikram Zakiy foto Matheus Raoul

Dalam proses pencarian tersebut, baik yang dilakukan oleh seorang gadis untuk mencari jati diri yang matang dan dewasa, maupun pencarian yang dilakukan seorang laki-laki dewasa untuk menemukan pasangan hidupnya, membutuhkan keberanian untuk menyingkirkan penghalang. Seperti yang diekspresikan lewat beksan wireng Srikandhi Bhisma. Sebagai senopati perang, mereka berdua mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk mengalahkan lawannya demi kejayaan negerinya.

Beksan Klana Topeng Gagah oleh Prabowo Hanifianto foto Matheus Raoul
Beksan Klana Topeng Gagah oleh Prabowo Hanifianto foto Matheus Raoul

Dari keempat beksan yang ditampilkan, dapat dimaknai bahwa sesungguhnya sebuah proses mencari dan menjadi pribadi dewasa yang matang, dapat memilah dan memilih masa depan, jodoh yang sesuai dan tepat bagi dirinya, seseorang membutuhkan keberaniaanya untuk berperang dan mengalahkan penghalang yang ada dalam dirinya dan penghalang yang ada di luar dirinya.

Demikian juga halnya yang dihadapi Swagayugama dalam usahanya, mengajak masyarakat jaman sekarang untuk mengenal, mencintai, menghidupi. memperbaharui serta melestarikan seni tari dan karawitan gaya Yogyakarta yang adi luhung, membutuhkan proses terus menerus untuk nggoleki ‘sing pas,’ dan menemukan ‘sing cocok.’ Dan itu membutuhkan keberanian untuk berperang melawan nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai keadiluhungan warisan para leluhur. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here