Puisi Bontot Sukandar

0
84

Perempuan bergaun pelangi

Perempuan bergaun pelangi
berjalan menghitung waktu
Mendaki bulatnya bumi
mengukur batu batu
mengukir angka-angka
menghitungnya agar tak lagi hampa

perempuan bergaun pelangi
mengumpulkan bebunyian malam
menyelaraskan dengan do re mi
melahirkan nyanyian tangis alam
mencoba mengeringkan air mata
agar tak terlihat putus asa

perempuan bergaun pelangi
berdiri diatas gelombang laut
menyimpan rembulan dan matahari
melahirkan kalut
membaca malam dan siang
agar hidup tak terlalu gersang

dan akupun masih berenang dikedalamannya

-Tegal –

Melepas wajah

melepas wajah
seusai hujan resah
menghitung langkah gelisah

wajahkukah yang kau lupa
disela dawai harpa
diruang-ruang hampa
direlung hati papa

melepas wajah
disaat belum usai mawar merekah
melupa jejak kering dan basah

wajahkukah yang kau lupa
di wajah pagi dengan kopi sedikit gula
di eskalator menuju ujung senja
di salon mengubah rupa

melepas wajah sunyi
seperti menanggalkan kesegaran pagi
melupa tapak kecup di pipi

wajahkukah yang kau buang
tak juga seberkas bayang
melepas kisah di mega dan mega
di anggrek layu sebatas dada

– Tegal –

Orkestra sunyi

tadi malam kau bilang
sleeping beauty waltz Tchaikovsky romantis dan berapi-api
pengantar merebahkan malam dalam pemanas imaji
seterusnya
tak ada bulan sepotongpun menelusup dibawah bantal
pun matahari tak mampu membakar
mencairkan otak menjadi tinta rasa
menapakkan jejakjejak dari sebuah kilas pertemuan sunyi
hanya pergumulan orkestra sunyi di meja makan

tadi malam kau bilang
sleeping beauty waltz Tchaikovsky romantis dan berapi-api
meninabobokan malam membakar hati
sekobaran jiwa menyanyikan lagu negri
bukan lagu nostalgia yang dinyanyikan anak tiri
sedang anak bajang tak bisa melesat sebab berjalan satu kaki
tak bisa menghitung anak-anak meninggalkan negri
menghitung pundi-pundi tetangga negeri
sebab bumi dan isi perutnya dibeli sendiri
selanjutnya
dimeja makan yang ada hanya orkestra sunyi

Tegal –

Merebahkan lelah

: di sepi purnama

merebahkan lelah dari sebuah perjalanan
menumpuk batubatu dari sebuah peradaban
lelah batubatu mencair pada sebuah pertemuan
menyisir sendi-sendi tubuh impian
sodorkan segenggam senyuman
biarkan Jonggrang jadi batu tak jadi tuba
agar tak lagi memedih perihkan kasta kasta
agar prambanan berselimut keindahan purnama

merebahkan lelah dari sebuah perjalanan
memutari batu batu sebuah peradaban
melilitkan pelangi pada sebuah harapan
agar dada tak jadi sandaran sebuah lingkaran

merebahkan lelah dari sebuah perjalanan
sembari mengemas petuah maharesi
menyodorkan mimpi mimpi
terisi
sepi
(selanjutnya tak ada ketuk purnama disekotak pintu)

– Tegal –

Saat kuingat kamu

jarak terasa semakin tak terukur
waktu terasa semakin tak genap
seperti angin
hanya sebatas ingin

harapan telah terbungkus peti kemas
diterbangkan pada sebuah entah

ya, seperti angin
ada dan tiada
seperti bola
ditenggelamkan dan muncul lagi

ataukah
seperti bermain layang-layang
seperti bermain yoyo

ataukah
harus memilih
ditangkap
atau dilepas

– Tegal –

Bontot Sukandar lahir di Tegal, sejak di bangku SLTA telah menggeluti kesenian, terutama teater. Ia menggeluti dunia menulis bermula dari menjadi wartawan di sebuah mingguan Jakarta dari tahun 1990 hingga tahun 2000, tidak hanya menulis berita, tetapi juga menulis esai, cerpen, dan puisi. Karya puisinya tergabung di berbagai antologi bersama, diantaranya, Cinta Gugat (Sastra Reboan), Requim Bagi Rocker (Taman Budaya Surakarta) Puisi Menolak Korupsi (PMK) 1,2, dan 5, Memandang Bekasi (Dewan Kesenian Bekasi) dan masih banyak lagi.

TINGGALKAN KOMENTAR