Inspirasi Daun Atas Tas Kulit Rancangan Krisna Wahyudi M

0
138
2 (Loro), 30 x 7 x 25 cm, jahit tangan dan jahit mesin, 2017, karya Krisna Wahyudi M-Foto-A.Sartono
2 (Loro), 30 x 7 x 25 cm, jahit tangan dan jahit mesin, 2017, karya Krisna Wahyudi M-Foto-A.Sartono

Untuk memunculkan desain atau kreasi yang berbeda dari yang mainstream memang dibutuhkan keberanian atau bahkan “kegilaan”. Umumnya orang memang selalu berusaha mencari sesuatu yang baru, yang berbeda dari yang lain atau dari yang sudah ada. Demikian pun dalam hal asesori atau kelengkapan keperluan hidup. Wadah bukan saja menjadi wadah sesuai fungsinya, namun ia juga harus tampil cantik, unik, lain dari yang lain. Tampaknya itulah yang menjadi kodrat manusia hidup di dunia. Selain ingin sama dengan sesamanya, pada sisi-sisi lain manusia juga ingin berbeda dengan yang lainnya. Muncullah apa disebut sebagai pembeda itu. Hal yang menjadi pembeda sering dipandang menjadi penting untuk menyatakan, merepresentasikan diri bahwa dirinya berbeda dengan orang lain. Berbeda kelasnya, golongan, gaya hidup, selera, identitas, dan seterusnya.

Desain tampaknya berpusar pada masalah-masalah itu, selain berkutat pada masalah fungsi atau guna dan teknis. Hal itu pulalah yang tampaknya digeluti Krisna Wahyudi M dalam mempresentasikan karya tugas akhirnya di Jurusan Kriya Seni ISI Yogyakarta. Krisna menampilkan kreasi Kriya Seni Kulit di Gedung Kriya Kulit Lantai II ISI Yogyakarta mulai pertengahan hingga akhir Februari 2018. Krisna memamerkan tujuh buah karya kriya kulit yang berwujud tas dengan berbagai varian desain dan pernak-perniknya.

12 (Rolas, 25 x 7 x 23 cm, jahit tangan dan jahit mesin, 2017, karya Krisna Wahyudi M-Foto-A.Sartono
12 (Rolas, 25 x 7 x 23 cm, jahit tangan dan jahit mesin, 2017, karya Krisna Wahyudi M-Foto-A.Sartono

Lembaran daun hijau yang tampak tulang-tulang daunnya menjadi inspirasinya. Tidak aneh jika semua desain tasnya bertemakan daun. Apabila orang mengenakan tas hasil kreasi Krisna ini maka orang tersebut akan tampak seperti membawa tas yang terbuat dari daun hijau. Jika tidak demikian, maka orang akan melihat bahwa tas-tas karya Krisna sepertinya “dikawinkan” dengan lembar-lembar daun dimana hal itu menambahkan aksentuasi atau tekanan tentang “daun” pada desain tasnya.

Konten Terkait:  Klasikisme Pameran Foto Kekinian dengan Tampilan Masa Lalu
Nyemi (Semi), 30 x 10 x 25 cm, jahit mesin dan jahit tangan, 2017, karya Krisna Wahyudi M-Foto-A.Sartono
Nyemi (Semi), 30 x 10 x 25 cm, jahit mesin dan jahit tangan, 2017, karya Krisna Wahyudi M-Foto-A.Sartono

Penciptaan kreasi desain tas kulit seperti yang dilakukan Krisna tentu tidak lepas dari bangku studinya di Jurusan Kriya Seni, khususnya kriya kulit. Seperti diketahui bahwa kulit binatang tidak bisa serta merta digunakan begitu saja untuk dibuah menjadi barang jadi. Akan tetapi kulit tersebut harus melalui tahapan apa yang disebut penyamakan terlebih dulu. Penyamakan kulit dilakukan untuk mengubah sifat kulit yang labil dan mudah rusak terhadap pengaruh fisik, kimia, dan biologi. Kulit samak memiliki sifat khusus yang sangat berbeda dengan kulit mentahnya, baik sifat fisik maupun sifat khemisnya. Kulit mentah mudah membusuk dalam keadaan kering, keras, dan kaku. Sedangkan kulit yang sudah disamak memiliki sifat awet dan mudah dibentuk menjadi segala macam jenis barang seperti yang dilakukan oleh Krisna. Kulit yang digunakan oleh Krisna adalah kulit tersamak yang tidak berbulu karena di samping itu ada pula kulit tersamak yang berbulu.

Nekuk (lipat), 30 x 6 x 40 cm, jahit tangan, 2017, karya Krisna Wahyudi M-Foto-A.Sartono
Nekuk (lipat), 30 x 6 x 40 cm, jahit tangan, 2017, karya Krisna Wahyudi M-Foto-A.Sartono

Dari sisi desain, sesungguhnya ada dua hal yang harus ditempuh oleh Krisna atas karyanya. Pertama adalah desain tasnya itu sendiri. Kemudian yang kedua adalah desain daun sebagai kelengkapan, aksentuasi, dan pembentukan karakter akan tampilan tasnya. Jadi, prakis ada dua desain yang disatukan untuk menjadi satu wujud. Selain itu pewarnaan atas “daun” yang menjadi ciri khas tas rancangannya juga menjadi demikian penting karena daun tersebut menjadi “ruh” atas desain tas kulitnya.

Untuk mencapai hasil akhir Krisna menerapkan teknik jahit mesin dan jahit tangan karena memang ada bagian-bagian yang tidak memungkinkan untuk dilakukan dengan teknik jahit mesin. Hal itu terutama dalam pelekatan daun dan asesri lainnya. Pada akhirnya tsa kulit rancangan Krisna memang tampil lain dari yang lain.
(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here