Endah Raharjo, Gadis di Padang Sampah

0
269
Endah Raharjo
Endah Raharjo

Endah Raharjo, seorang arsitek, ibu dari satu anak, sudah beberapa kali tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama. Kali ini, Endah membacakan satu cerpen berjudul ‘Tawa Gadis Padang Sampah’ karya Ahmad Tohari di Sastra Bulan Purnama edisi 78, Jumat 2 Maret 2018 di pendapa Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Mengenakan kebaya warna biru terlihat kontras dengan rambutnya yang putih, ditambah lipstik merah di bibirnya. Penampilannya memang menunjukkan Endah bukan gadis, dia seorang perempuan cantik yang sudah menerbitkan novel dan juga menerjemahkan. Jadi, dalam dunia menulis kiranya Endah tidak tinggal di Padang Sampah.

Cover buku karya AhmadTohari
Cover buku karya AhmadTohari

“Saya akan membacakan satu cerpen karya Pak Ahmad Tohari yang berjudul ‘Tawa Gadis Padang Sampah’, yang digunakan sebagai judul buku kumpulan cepen karya Tohari,” kata Endah mengawali sembari menunjukkan buku cerpen yang akan dibaca.

Dalam buku cerpen karya Ahmad Tohari yang diberi judul ‘Tawa Gadis Padang Sampah’ terdapat 7 cerpen. Diterbitkan penerbit ‘Kunca Wacana’, Yogyakarta. Dari 7 cerpen yang semuanya sudah pernah dipublikasikan di media cetak, tetapi belum pernah diterbitkan dalam bentuk buku, Endah memilih satu judul untuk dibacakan.

“Korep, Carmi, dan sopir Dalim adalah tiga di antara banyak manusia yang sering datang ke padang pembuangan sampah di pinggir kota. Dalim tentu manusia dewasa, sopir truk sampah berwarna kuning dengan dua awak. Dia pegawai negeri, suka lepas pakai kaca matanya yang berbingkai tebal. Carmi sebenarnya masih terlalu muda untuk disebut gadis. Korep anak laki-laki yang punya noda bekas luka di atas matanya. Keduanya pemulung paling belia di antara warga padang sampah,” Endah Raharjo mengawali membaca sambil diiringi musik secara spontan oleh Otokbima Sidharta.

Endah berhenti sejenak, mencoba mengatur nafas, mungkin sekaligus berupaya membangun imajinasi padang sampah dan seorang gadis yang tertawa riang, setidaknya persis sepetu judul cerpennya. Lalu dia meneruskan pada alinea-alinea berikutnya dengan ekspresi yang berbeda-beda, terkadang sambil menegandah, atau bahkan mulutnya menganga.

Konten Terkait:  Nyanyian Angsa Versi Jawa oleh Komunitas Sekar Setaman

“Belasan pemulung sudah berdiri berkerumun di sisi selatan. Mereka sedang menunggu truk sampah datang. Ada pemulung perempuan memasang puntung rokok di mulutnya. Lalu bergerak ke sana ke mari meminta api. Ada tangan terjulur ke arah mulutnya. Api menyala dan asap segera mengepul. Tetapi perempuan itu kemudian berteriak. Rupanya tangan lelaki pemegang korek api kemudian mencolek pipinya. Dia kejar si lelaki dan mencubit punggungnya. Mereka bergelut. Mendadak muncul tontonan yang meriah. Korep dan carmi ikut bersorak-sorak. Ada luapan suka cita dan teriakan-teriakan yang riuh. Begitu riuh sehingga burung-burung gereja yang sedang cari makan di tanah serentak terbang ke udara. Seekor anjing yang merasa terusik segera menghilang di balik mesin pengeruk sampah, yang telah lama rusak, menjadi sampah juga,” Endah membacanya penuh impresi.

Cerpen yang dibaca Endah Raharjo memang tidak panjang, sehingga di tengah sejumlah puisi yang dibacakan di Sastra Bulan Purnama, cerpen Ahmad Tohari yang dibacakan tidak menyita waktu. Bahkan, cerpen dibacakan selang seling dengan puisi. Endah Raharjo yang mengenakan kebaya biru maju bersama dengan Ida Fitri yang juga mengenakan kebaya biru. Keduanya saling bergantian membaca. Ida Fitri membaca satu puisi karya Handry TM disusul Endah Raharjo membaca satu cerpen karya Ahmad Tohari dan ditutup satu puisi yang dibacakan oleh Ida Fitri.

Jadi, Sastra Bulan Purnama edisi 78 cerpen berdampingan dengan puisi, dan suasananya terasa biru, karena Endah Raharjo dan Ida Fitri mengenakan kebaya warna yang sama: biru. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here