Kali Pertama Siaran Radio Pribumi Solo Bisa Menjangkau Negeri Belanda Terjadi Tahun 1936

0
314
Alat pemancar radio SRV Kambing pernah digunakan untuk siaran langsung ke negeri Belanda-foto-suwandi
Alat pemancar radio SRV Kambing pernah digunakan untuk siaran langsung ke negeri Belanda-foto-suwandi

Tidak disangka, sebelum Indonesia merdeka, sebuah radio swasta milik pribumi bernama Soloche Radio Vereeniging (SRV) telah mengudara hingga luar negeri, termasuk negeri Belanda. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1936. Sebuah gending Jawa melantun merdu di Kerajaan Belanda, untuk mengiringi tari Srimpi dalam resepsi pernikahan Ratu Yuliana dan Pangeran Benhard, tepatya di Istana Noordine, Den Haag, Belanda.

Tari Srimpi dibawakan oleh Gusti Nurul (yang terkenal sangat cantik dan anti poligami) putri Sri Mangkunegara VII. Gusti Nurul menari live di hadapan ratu penguasa Belanda yang sedang menikah itu dengan diiringi sebuah gending Jawa, yang juga disiarkan langsung dari Solo, tepatnya dari gedung Sasana Suka (yang sekarang disebut Monumen Pers Nasional) dan dipancarkan langsung ke Negeri Belanda. Di istana itulah siaran gending Jawa dari radio SRV dapat diterima melalui pesawat radio kemudian digunakan untuk mengiringi tari Srimpi. Peristiwa itu merupakan rekor siaran radio swasta pribumi mengudara terjauh sebelum kemerdekaan.

Gedung Monumen Pers Nasional Surakarta telah berusia 100 tahun-foto-dani
Gedung Monumen Pers Nasional Surakarta telah berusia 100 tahun-foto-dani

Sejarah tentang siaran langsung radio swasta pribumi terjauh dari Kota Solo ke negeri Belanda itu hanya bisa dilacak di Museum Monumen Pers Nasional Surakarta yang berada di Jalan Gajah Mada 59 Surakarta, Jawa Tengah. Ketika Tembi menyambangi museum tersebut, mendapat sambutan hangat dari pengelola museum yang kebetulan sudah akrab. Hingga saat ini, gedung (berdiri tahun 1918) yang awalnya digunakan sebagai balai pertemuan (sosieteit) ini masih terawat dengan baik, walaupun sudah berumur 100 tahun. Gedung tersebut diarsiteki oleh Mas Abukasan Atmodirono, (ejaan lama: Mas Aboekasan Atmadirana) pribumi kelahiran Wonosobo. Di tempat ini pula, di kemudian hari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) terbentuk pada tanggal 9 Februari 1946.

Koran terbitan se-nusantara yang menjadi koleksi di Monumen Pers Nasional Surakarta-foto-suwandi
Koran terbitan se-nusantara yang menjadi koleksi di Monumen Pers Nasional Surakarta-foto-suwandi

Monumen Pers Nasional yang banyak mengoleksi benda-benda museum bersejarah berkaitan dengan pers, memang perlu untuk terus-menerus diungkap keberadaannya. Sebab dari tempat inilah, sejarah dunia pers diabadikan. Untuk itu, tidak heran jika di tempat ini terdapat banyak koleksi yang patut diketahui oleh umum. Setidaknya ada sekitar 500 media cetak yang pernah disimpan di museum ini. Media cetak itu terbitan tahun 2000—2015 berasal dari Aceh hingga Papua.

Pengunjung memanfaatkan e-paper di Monumen Pers Nasional Surakarta-foto-suwandi
Pengunjung memanfaatkan e-paper di Monumen Pers Nasional Surakarta-foto-suwandi

Bukan hanya itu, media cetak kuno terbitan sebelum kemerdekaan sejumlah sekitar 97 buah juga disimpan di tempat ini. Tentu saja semuanya yang kuno-kuo sudah didigitalisasi. Proses digitalisasi juga terus dilakukan terhadap media cetak yang mengirimkan cetakannya ke museum ini. Sayangnya, saat ini hanya tinggal sekitar 20 media cetak yang tetap aktif mengirim cetakannya ke museum ini. Sementara majalah sekitar 10 buah yang juga masih aktif mengirimkannya.

Ruang digitalisasi media cetak di Monumen Pers Nasional Surakarta-foto-suwandi
Ruang digitalisasi media cetak di Monumen Pers Nasional Surakarta-foto-suwandi

Ada banyak koleksi lainnya yang pantas untuk diungkap selanjutnya, di antaranya kamera wartawan Udin Yogyakarta, film tsunami Aceh, pemancar radio SRV/RRI “kambing”, plat cetak pertama koran KR Yogyakarta, dan lain-lain. Selain koleksi-koleksi unggulan, Monumen Pers Nasional juga memiliki ruang perpustakaan dan ruang pameran yang representatif. Di bagian depan, koran-koran baru dipajang untuk dibaca oleh masyarakat Solo. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here