Makna Bahasa Sketsa Mulyana Gustama

0
262
Andong Jogja, ink on paper, 21 cm x 32 cm, 2017, karya S.Gustama Mulyana-Foto-A.Sartono
Andong Jogja, ink on paper, 21 cm x 32 cm, 2017, karya S.Gustama Mulyana-Foto-A.Sartono

Sketsa dalam dunia seni rupa, menurut Mikke Susanto, dapat dipilah menjadi tiga jenis yaitu sketsa sebagai catatan (rekaman), sketsa sebagai tahapan untuk melukis atau menggambar, dan sketsa sebagai sebuah karya yang purna. Salah satu ciri atau hakikat sketsa adalah kesederhanaan atau kebersahajaannya. Oleh karena itu pula karya sketsa memang minim material. Umumnya hanya berupa kertas dan tinta. Pun umumnya minim warna (hitam-putih). Namun demikian, dalam kesederhanaannya itu sesungguhnya juga terletak nilai-nilai kedalaman dan “kesempurnaan’-nya.

S Gustama Mulyana dan Mikke Susanto dalam pembuikaan pameran tunggal sketsa Bahasa Sketsa, karya S.Gustama Mulyana-Foto-A.Sartono
S Gustama Mulyana dan Mikke Susanto dalam pembuikaan pameran tunggal sketsa Bahasa Sketsa, karya S.Gustama Mulyana-Foto-A.Sartono

Sketsa itulah yang dipamerkan oleh S Mulyana Gustama di Galeri Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantun, yang dibuka secara resmi oleh kurator Mikke Susanto pada Rabu malam, 14 Februari 2018. Pembukaan pameran itu dimeriahkan dengan penampilan beberapa gendhing dari kelompok Kongkang dan performing art dari kelompok Anjing Tanah. Pameran diselenggarakan mulai 14 Februari – 6 Maret 2018. Pameran yang dibingkai dalam tema Bahasa Sketsa ini diberi pengantar oleh Indarto Agung Sukmono (seorang pekerja seni yang tinggal di Kudus), Totok Barata (Kepala Bidang Budaya, Tembi Rumah Budaya), Mukti Sutarman Espe (penyair), dengan kurator Joseph Wiyono.

Apeman Fiest, ink on paper, 21 cm x 33 cm, 2017, karya S. Gustama Mulyana-Foto-A.Sartono
Apeman Fiest, ink on paper, 21 cm x 33 cm, 2017, karya S. Gustama Mulyana-Foto-A.Sartono

Dalam sebuah catatannya Gustama menuliskan, melalui garis dan goresan kuhadirkan cita dan cerita atas objek yang ada di hadapanku. Tiada jarang emosiku terlibat di dalamnya. Ini semua karena memorable atas setiap benda… dan kebahagiaan itu ada, karena sesiapa merasakan hal yang sama. Catatan ini mungkin menjadi bagian atau cara Gustama untuk membuka dan sedikit menyingkap pesan akan karya-karya sketsanya yang dibuat on the spot.

Old, coffee on paper, 21 cm x 33 cm, 2017, karya S. Gustama Mulyana-Foto-A.Sartono
Old, coffee on paper, 21 cm x 33 cm, 2017, karya S. Gustama Mulyana-Foto-A.Sartono

Selama ini pameran karya sketsa tergolong jarang dipamerkan di galeri, apalagi sebagai pameran tunggal. Jadi, sketsa-sketsa Mulyana Gustama mengisi kelangkaan itu. Pameran tunggal Gustama ini juga menunjukkan bahwa sketsa adalah karya seni rupa yang serius dan patut diapresiasi sebagaimana halnya lukisan atau seni rupa lainnya. Sketsa bukan sekadar coretan tinta. Hal lain yang patut dicatat adalah proses membuat karya sketsanya yang dilakukan on the spot. Proses semacam ini barangkali menguatkan greget Gustama karena dibuat pada saat emosinya masih dalam durasi berkontak langsung dengan subjeknya. Mungkin juga karena proses penyerapannya menjadi lebih intens. Demikian papar Totok Barata dalam pengantarnya.

Konten Terkait:  Leng: Environmental Art dari Wisnu Aji Tama
Pertapaan Eyang Loka Jaya, ink water colour on aquatelle paper, 28 cm x 38 cm, 2017, karya S. Gustama Mulyana-Foto-A.Sartono
Pertapaan Eyang Loka Jaya, ink water colour on aquatelle paper, 28 cm x 38 cm, 2017, karya S. Gustama Mulyana-Foto-A.Sartono

Lebih jauh Joseph Wiyono menyampaikan dalam catatan kuratorialnya bahwa mengamati karya-karya Gustama akan menjadi catatan tersendiri bahwa sketsa adalah ketegasan dalam bentuk sebuah proses berkarya yang tiada henti. Bukan sebuah jeda, akan tetapi keberlangsungan dari rangkaian panjang jejak seorang perupa yang kelak akan membentuk karakter dan daya intensinya dalam mencipta. Rekam jejak proses kreatif Gustama adalah hal yang penting karena dari situlah orang akan mengenal secara intim siapa Gustama. Tarikan garis dan eksplorasi artistiknya dalam menaklukkan keterbatasan media menjadi tidak ternilai jika dari situ ia mampu menjadikan sketsa sebagai representasi dari apa pun yang ia rasa.

Hidup adalah Anugerah, pen, oil, pastel, ink, water color on paper, 33 cm x 21 cm, 2017, karya S. Gustama Mulyana-Foto-A.Sartono
Hidup adalah Anugerah, pen, oil, pastel, ink, water color on paper, 33 cm x 21 cm, 2017, karya S. Gustama Mulyana-Foto-A.Sartono

Banyak kemungkinan yang akan tersaji dalam karya-karya sketsanya sebanyak kemungkinan yang akan berkembang ketika orang larut menghayati destinasi kenangan, catatan, harapan, romantisme, maupun hal sublim yang ada dalam endapan jiwa. Demikianlah Bahasa Skesta oleh S Mulyana Gustama.

(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here