Mantradisi Membawa Macapatan Dapat Dinikmati Semua Kalangan

0
193
Goro Goro Diponegoro oleh Mantradisi (Foto Oleh Titin Natalia)
Goro Goro Diponegoro oleh Mantradisi (Foto Oleh Titin Natalia)

Mantradisi adalah kelompok seni yang didirikan oleh Paksi Raras Alit pada tahun 2016, beranggotakan Dibya Imam, Rizky Sepandi, Jaeko, Nikko Yas. Mantradisi berfokus pada penciptaan musik puisi dengan karya Sastra Jawa sebagai obyeknya.

Mantradisi mengembangkan sastra Macapat karya puisi Jawa klasik dengan kekhasan batasan-batasan dalam bentuk penulisannya (guru gatra, lagu, wilangan) yang pada sejarahnya, sastra macapat disajikan dalam bentuk tembang dengan iringan gamelan slendro/pelog. Mantradisi berupaya melakukan tafsir baru penyajian sastra macapat dalam sajian musik tradisi baru dengan kolaborasi instrumen musik gamelan etnik instrumen musik digital.

Macapat merupakan tembang atau puisi tradisional Jawa. Dari berbagai sumber, macapat adalah “maca pat lagu”, yang artinya tembang waosan yang keempat, yaitu tembang cilik atau macapat. Namun banyak masyarakat yang salah kaprah mengartikan macapat sebagai kependekan dari kalimat maca papat-papat (membaca empat-empat). Dalam macapat, setiap baitnya mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu. Di Jawa Tengah, macapat diperkirakan muncul pada akhir masa Majapahit dan dimulainya pengaruh Walisanga, namun di Jawa Timur dan Bali, macapat telah dikenal sebelum datangnya Islam.

Mantradisi (Foto Oleh Rosiana
Mantradisi (Foto Oleh Rosiana

Pementasan tembang macapat biasanya diiiringi oleh gamelan. Pada kali ini Mantradisi, berupaya melakukan tafsir baru penyajian sastra Macapat dalam sajian musik tradisi baru dengan kolaborasi instrumen musik gamelan etnik dan instrumen musik digital, pada 4 Februari 2018 lalu di Galeri Indoensia Kaya, Jakarta Pusat yang bertajuk Goro-Goro Diponegoro (GGP).

GGP adalah sebuah adaptasi babak sejarah Perang Jawa (1825-1830) dengan Pangeran Diponegoro sebagai lakon sentral pada peristiwa yang mengubah sejarah perebutan kekuasaan Belanda melawan rakyat Jawa; dan cikal bakal negara Indonesia dimana kedua pihak bertikai saling mengalami penderitaan besar akibat peperangan akbar tersebut. Perang yang menyita perhatian bangsa Barat, sehingga Belanda mengambil tindakan lebih ketat terhadap setiap gerak-gerik bangsa Indonesia setelahnya, agar tidak lagi kecolongan oleh bangkitnya perjuangan perlawanan rakyat, dengan berbagai strategi lanjutan untuk meredam gejolak bangunnya mental “bertarung” bangsa ini, hingga hari ini.

Mantradisi bersama Penikmat Seni Galeri Indonesia Kaya (Foto Oleh Rosiana)
Mantradisi bersama Penikmat Seni Galeri Indonesia Kaya (Foto Oleh Rosiana)

Adaptasi tersebut diinterpretasikan melalui tembang macapat sebagai pemaparan cerita yang diiringi menggunakan alat musik tradisional dengan melibatkan musik digital dan visual animasi sebagai penanda keluwesan harmonisasi tradisi dan modernitas, merupakan kecerdasan yang tidak bisa dianggap biasa. Tidak banyak, generasi muda saat ini sadar akan peninggalan adiliuhung sastra Jawa ini, namun Mantradisi memiliki kesadaran akan tradisi yang harus dijaga dan dilestarikan. Mereka berhasil menghipnotis penonton hingga akhir pertunjukan,. Terlihat banyak penonton turut menembangkan naskah macapat dalam buku program yang diberikan, dan tepuk tangan meriah menghiasi auditorium seusai pertunjukan.

Macapat biasanya hanya dinikmati oleh kalangan tertentu atau penonton yang mengerti bahasa Jawa kromo inggil. Namun Mantradisi membawa macapat bisa dimerngerti dan dinikmati hingga semua kalangan. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here