Permainan Dakon yang Kini Lebih Gampang Ditemui di Museum

0
366
Papan Dakon dari Berbagai Ukuran - Bachtiar
Papan Dakon dari Berbagai Ukuran - Bachtiar

Permainan tradisional congklak konon berasal dari Jazirah Arab yang dibawa ke Nusantara melalui para pedagang. Di tanah Jawa permainan yang dulu sangat populer ini disebut dakon atau congkak.

Permainan ini menggunakan sebuah dakon (papan) dengan 5-7 lobang kecil yang disebut kampung dan 2 lobang besar sebagai lumbung atau rumah, serta kecik (biji) sebagai alat bermain. Dakon atau kecik sesuai perkembanganya memiliki beragam variasi dan juga terkadang bentuk dan kualitas papan dakon menjadi penanda strata sosial dari si pemiliknya. Mulai dari kayu dengan motif ukiran indah pada dahulu kala sering digunakan oleh para bangsawan, kayu polos tanpa ukiran yang digunakan oleh rakyat biasa hingga berbahan plastik yang sangat familiar di zaman ini.

Kecik pula memiliki beragam jenis yang berasal dari beragam biji-bijian. Kecik tanjung berwarna coklat sedikit kehitaman dan lonjong, kecik srikaya dari buah srikaya sedikit berwarna hitam coklat mengkilat, kecik sogo telik berwarna merah terang berbentuk bulat, kecik klungsu atau biji asem berwarna coklat dengan bentuk sedikit gepeng, kecik sawo berwarna coklat pucat dengan bentuk oval, kecik plastik berwarna hitam bulat, kecik lerak berwarna hitam dengan bentuk bulat halus, dan yang terakhir kecik sirsat berwarna hitam legam.

Untuk Bermain Dakon cukup mudah, berikut aturan mainya:

1. Dua pemain saling berhadapan, cara memulai permainannya dilakukan secara serentak. Dengan memasukkan butir dakon ke kampung masing-masing dan berjalan searah dengan jarum jam.

2. Permainan terus dilanjutkan sampai butir yang terakhir yang ada di tangan masuk ke dalam kampung sendiri atau lawan, jika sudah begitu pemain sebaiknya berhenti.

3. Kemudian lawan mengambil giliran dan melanjutkan hingga butirnya mati. Umpamanya jika buah yang terakhir jatuh pada rumah sendiri, maka pemain dapat melanjutkan permainan dengan cara mengambil butir yang ada sebanyak-banyaknya di kampung sendiri. Sebaliknya jika butir berhenti di kampung lawan maka permainan sudah sampai d isini saja.

foto biji Dakon dari bermacam biji-bijian - Bachtiar
foto biji Dakon dari bermacam biji-bijian – Bachtiar

4. Setelah berakhir ronde pertama, setiap pemain mengisi rumahnya dengan butir yang ada di kampungnya, jika rumahnya tidak terisi maka itu dianggap terbakar. Rumah itu tidak bisa di isi pada ronde ini dan ronde selanjutnya sampai pihak lawan mengakui kekalahan.

5. Diakhir ini adalah penentuan, butir dakon dari rumah masing-masing dihitung. Pemenang adalah pemain yang memiliki butir paling banyak.

Permainan yang menjadi aset sejarah saat ini semakin ditinggalkan oleh generasi sekarang. Padahal permainan ini memiliki berbagai manfaat mulai dari melatih berhitung, strategi dan sportifitas . Itulah yang menjadi alasan Tembi Rumah Budaya turut melestarikan permainan ini yang tertata dengan apik di ruang museum sebagai aset bersejarah serta sebagai edukasi bagi masyarakat. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here