Aneka Rupa Setan Dimunculkan di Bentara Budaya Yogyakarta

0
583
Imajinasi demit Jawa dalam gambar umbul-Foto-A.Sartono
Imajinasi demit Jawa dalam gambar umbul-Foto-A.Sartono

Manusia mempercayai bahwa di luar dirinya ada makhluk-makhluk gaib yang tak tampak oleh mata telanjang. Tidak aneh juga jika hal itu juga menimbulkan banyak tafsir, dugaan, pendapat, dan mungkin hipotesa tentang wujudnya jika digambarkan dalam dunia nyata. Semua menjadi seperti itu justru karena memang dunia lain adalah dunia yang memang tidak sepenuhnya gamblang, namun dipercayai sebagai ada dan bertetangga dengan manusia.

Kepercayaan semacam itu mungkin menjadi “nyata” atau riil dengan penampakan gejalanya, seperti misalnya dalam tampilan jailangkung, nini thowong, tenung, kesurupan, dan sebagainya di mana gejala fisik yang bisa dilihat mata memang dapat dialami oleh manusia biasa.

Alat-alat Tenung, koleksi Subiyanto Klaten-Foto-A.Sartono
Alat-alat Tenung, koleksi Subiyanto Klaten-Foto-A.Sartono

Pada sisi lain hal ini juga memunculkan kreativitas orang untuk dapat “menghadirkan” wujud nyata dunia demit atau hantu dalam gambar atau lukisan. Hal ini pun pernah menjadi semacam tren di masa lalu. Para pelaku seni tradisional, katakanlah Citro Walujo dan beberapa seniman lain yang tidak mencantumkan nama diri dalam karyanya (anonim) pernah menghidupkan dunia yang tak tampak oleh mata telanjang ini dalam karya seninya.

Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) pun tertarik dengan pelestarian dan ingin mendokumentasikan seni rupa tradisional semacam itu. BBY berupaya untuk menampilkan karya-karya seni rupa tradisi ini berdampingan dengan seni rupa modern untuk membuat suasana lebih segar. Oleh karena itu BBY menggelar Pameran Seni Rupa Demit Baju Barat. Pameran dilakukan mulai 7-15 Februari 2018.

Demit E-KTP, 85 cm x 25 cm x 105 cm, wayang, vcb, kayu, cat prada, 2018, karya Hermanu-Foto-A.Sartono
Demit E-KTP, 85 cm x 25 cm x 105 cm, wayang, vcb, kayu, cat prada, 2018, karya Hermanu-Foto-A.Sartono

Sesuai dengan tema, pameran menggelar karya-karya Citro Walujo dari Miji Pinilihan Surakarta yang menggarap tema pesugihan seperti Pesugihan Kandang Bubrah, Bulus Jimbun, Jaran Penoleh, Buto Ijo, dan lain-lain. Selain itu BBY juga memamerkan gambar umbul setan-setanan yang digambar ulang dari aslinya karena gambar aslinya berukuran kecil. Gambar setan-setanan ini jumlahnya mencapai 100 buah.

Jailangkung, patung pemanggil roh halus, koleksi Subiyanto Klaten-Foto-A.Sartono
Jailangkung, patung pemanggil roh halus, koleksi Subiyanto Klaten-Foto-A.Sartono

Gambar setan-setanan ini tentu saja berasal dari imajinasi tukang gambar umbul di masa lalu yang dibuat pada tahun 1940-an, di zaman Belanda dan dicetak oleh Percetakan Populair, Solo. Gambar umbul ini merupakan koleksi dari Ibnu Wibi, Yogyakarta.

Selain itu, ada beberapa karya tradisional lama yang merupakan patung tiga dimensi yang dipercaya dapat menjadi sarana untuk mendatangkan arwah/roh gentayangan. Benda-benda ini merupakan koleksi Subiyanto dari Klaten.

Ilustrasi Pesugihan Lintah Kadut, 35 cm x 20 cm, cat bubuk di atas kertas, 1987, karya Citro Waloejo-Foto-A.Sartono
Ilustrasi Pesugihan Lintah Kadut, 35 cm x 20 cm, cat bubuk di atas kertas, 1987, karya Citro Waloejo-Foto-A.Sartono

Untuk memberikan gambaran tentang alam gaib ini bukan hanya karya-karya lama dan patung kuno saja yang ditampilkan dalam pameran ini, perupa-perupa modern juga dilibatkan oleh BBY dalam pameran ini agar nuansa pameran terlihat lebih segar dan seram. Perupa-perupa muda tersebut adalah Bambang Herras, Edi Priyanto, Irwanto Lentho, Lindu Prasekti, Nasirun, Pramonop Panunggul, Samuel Indratma, Kliwon, dan Tina Wahyuningsih.

Rungak (Irung Dangak), 35 cm x 43 cm x 72 cm, kayu jati, karya Lindu Prasekti-Foto-A.Sartono
Rungak (Irung Dangak), 35 cm x 43 cm x 72 cm, kayu jati, karya Lindu Prasekti-Foto-A.Sartono

Tema Pameran Seni Rupa Demit Baju Barat, Dhemit Ora Ndulit Setan Ora Doyan mengacu pada dunia hantu, setan, jin, arwah, dan sejenisnya. Sedangkan Baju Barat mengacu pada pengertian wadyabala atau anak buah Batari Durga yang menjadi penguasa di dunia atau Kerajaan Pasetran Gandamayit. Warga Gandamayit inilah yang disebut sebagai Baju Barat. Baju Barat dijadikan judul pameran seni rupa Demit untuk menggambarkan aneka rupa bentuk Demit Jawa. Pameran memang hanya menampilkan demit-demit Jawa saja karena di luar Jawa dunia perdemitan juga luar biasa banyaknya.

Kalimat dhemit ora ndulit setan ora doyan lebih sebagai mantra atau harapan bahwa manusia yang hidup di dunia nyata hendaknya terhindar dari gangguan makhluk-makhluk gaib, baik itu demit (hantu, jin, dan sebagainya) dan juga setan (si jahat). (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here