Puisi Yanti S Sastro

1
231

Hanya Tentang Impian

Ada sebentuk rasi bintang yang setia menjadi petunjuk nelayan pulang
seperti itulah sederet kata yang menyembul dari rimbun angan
menuntun kata hati senandungkan lirih sebait puisi

Bukankah telah lama kau sematkan
untaian kata yang menjadi puisi hati sepanjang usia
hingga tak pernah ada sejengkal jeda hanya untuk menengok angin yang melintas jendela?
Tanyamu dari dasar hati yang tiba-tiba menyela

Tapi angin desember telah berhembus membawa gigil yang terasa membius
Sejenak ingin tanggalkan mimpi usang yang tak mungkin lagi terulang
Membiarkan daun-daun gugur dan luruh

Bolehkah sekali ini saja mimpi itu berulang
menatap bening mata yang memancarkan ketulusan
meski hanya fatamorgana di tengah padang gersang

Karena hidup dan kehidupan terus berjalan

Semarang, 21 Desember 2017

Kubiarkan Bunga-Bunga Bermekaran

Ketika daun-daun meluruh tertiup angin senja yang rapuh
kukira semua tangkai ikut terkulai
layu bersama musim menyusuri takdir

Ketika hujan turun dengan lebatnya kukira semua awan berguguran
hingga tak tersisa sebait kenangan yang rapih tersimpan di baliknya

Ketika malam telah jatuh kukira pagi tak akan menyela menggantikannya
dan mimpi-mimpi akan sirna saat hidup membuatnya terjaga

Dan ketika musim berlalu kukira bunga-bunga di taman berguguran layu
menempuh takdir yang tak akan mungkin di sangkalnya

Namun secercah hidup selalu memberi cahaya
seperti bunga-bunga berguguran yang meninggalkan biji-bijinya di tanah
ada saat kembali tumbuh
mekar dan mewangi
menjemput siklus kehidupan yang terus berjalan

Semarang, 7 Desember 2017

Kepada Mentari Pagi

Kepada mentari pagi berulang kukisahkan lagi
tentang cintaku yang mengkatalisator jalan hidupku
celoteh-celoteh riuh penuh manja dan bahagia
juga jerit tangis canda yang kadang mengganggu telinga

Namun sungguh itulah puisiku
yang membuat langkahku tak pernah jemu
entah berapa luka pernah tergores
entah betapa pahit kenyataan yang harus ditelan
sungguh tak berarti jika itu untukmu

Pada riuh rendah yang selalu kurindu
kulantun tembang cinta di setiap waktu
di manapun kau berjalan
dalam nafasmu doaku tak terputus

Pada mentari pagi ini ingin kubagi senyum bahagia
bahwa cinta selalu membuat perempuan perkasa
tak peduli seberapa cadas jalan harus ditapak
tak terhitung seberapa derai tangis telah tertelan
namun kamu anak-anakku, adalah cinta yang tak akan lekang hingga terputus nyawa

Konten Terkait:  Puisi Ben Sadhana

Semarang, 24 Agustus 2017

Aku Ingin Menemukanmu

Seperti musim kering saat daun angsana bertebaran menutupi taman
angin sepoi menebarkan kekosongan di setiap helaan
lorong panjang terasa semakin lengang
begitulah sebuah kepulangan

Aku masih tegak berdiri di sini
di ujung taman di mana kau pernah sematkan janji
membawakan payung saat hujan kembali turun
menggandeng tanganku untuk kembali menautkan mimpi yang dulu pernah kita titipkan di ujung taman ini

Kini musim telah berkali berganti
aku masih ingin berdiri di sini
menemukanmu dalam bayangan guguran daun angsana yang bertebaran
agar riak-riak hidup yang kian temaram setidaknya tak keburu padam

Semarang, 3 Desember 2017

Kabut Pagi

Berarak menyapa lenyapkan lara
meninggalkan malam yang entah berwarna apa
noktah rindu yang tetap menyelinap di kalbu
dan kabut pagi menawarkan lembutnya

Jika saja kenangan itu serupa kabut
tak jelas warna dan wujud
tapi jelas terasa menggelayut
pada rapuhnya hati melarut

Kabut pagi menyelimuti ujung palm
hanya kelam terlihat dari jendela
semoga bukan uraian kenangan yang tak menemu pintu
ketika rindu-rindu menyatu

Lembang, 14 Agustus 2017

Yanti S Sastro Prayitno adalah nama pena dari Sriyanti, yang dilahirkan di Sragen, 5 Februari 1969). Ia menyelesaikan S1 dan S2 di Jurusan Kimia FMIPA UGM, sekarang mengajar di Departemen Kimia Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro (1994-sekarang).

Pengalaman menulis:

Pernah memenangkan lomba menulis esai untuk cerita bersambung di majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat tahun 2006, menulis artikel kesehatan dan wanita, cerpen di media berbahasa Jawa Panjebar Semangat dan Jayabaya.
Antologi Puisi tunggal: Ketika Cinta Menunjukkan Wajahnya (2017)

Antologi Puisi bersama:

Sang Peneroka (2014), Cinta Magenta (2015), Untuk Jantung Perempuan (2015), 1000 Newhaiku Indonesia (2015), Kitab Karmina Indonesia (2015), Puisi Menolak Korupsi 5 (2015) dan Negeri Laut, Dari Negeri Poci 6 (2015), Memo Anti Terorisme (2015), Arus Puisi Sungai (2016), Puisi Hutan (2016), Negeri Awan, Dari Negeri Poci 7 (2017), Perempuan Mengasah Kata (2017), Perempuan-Perempuan (2017), Kumpulan Gurit Wanodya (2017), The First Rain Drop (2017), Perempuan Di Ujung Senja (2017), Senja Bersastra di Malioboro I (2017).

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here