Macapatan Putaran Ke-162: Menyantap yang Jasmani dan Rohani

1
124
Merly salah satu pecinta macapat dari generasi muda foto herjaka
Merly salah satu pecinta macapat dari generasi muda foto herjaka

Setelah selesai menikmati santapan jasmani dengan menu hidangan yang sangat komplit, Jayengraga ingin menyantap santapan rohani berupa kawruh hidup kepada Amongraga. Selama ini Jayengraga belum pernah mendapatkan penjelasan yang memuaskan mengenai ilmu kothong tanpa papan tulis. Oleh karenanya senyampang bertemu dengan Seh Amongraga yang mumpuni perihal kawruh batin, Jayengraga dan juga Jayengwesthi, ingin mendapatkan pengetahuan yang benar dan jelas sehingga membuat semuanya terang benderang, seperti beberapa ‘pada’ atau bait dalam serat Centhini yang ditembangkan di Tembi Rumah Budaya pada 6 Februari 2018 berikut ini.

70. Jayèngraga umatur
mring Amongraga têmbungira rum
ngong nunuwun apitakèn kang sayêkti
kang pundi wujuding ngèlmu
tan papan tan tulis rêko

71. Kula salaminipun
dèrèng manggih murad kang ginathuk
ngèlmu kothong tanpa papan tanpa tulis
mugi paduka sung tuduh
wujudipun kang samêrngko

76. Dene sajatinipun
ngèlmu tanpa papan tulis iku
nênggih Kur’an lan Kitab-kitab sayêkti
sêmune tanpa sadarum
puniku pinurih coplok

77. Saking jilidanipun
yèn bisa coplok ngalih ing kalbu
saunining Kur’an wus apil ing galih
myang kitab apil kacakup
cap-lêng coplok wus ngalih nggon

78. Kewala anèng kalbu
kalbu wus wujud ngilmu kang agung
tan kêna sat tyas wus pangawak jaladri
mring papan tulis tan ngingus
tanpa gawe wus tan kanggo

Karawitan Mangun Budoyo dari Mangunegaran Joyakarta foto herjaka
Karawitan Mangun Budoyo dari Mangunegaran Joyakarta foto herjaka

Yang dimaksud dengan ilmu tanpa papan tulis, demikian penjelasan Amongraga ialah Al Quran dan kitab-kitab suci lainnya yang kesemua ayat-ayatnya sudah dicoplok dari jilidannya dan dipindah di hati. Sehingga dengan demikian tidak membutuhkan lagi media untuk menulis. Jika sudah mencapai taraf seperti itu, hati ini dapat diibaratkan sebagai samudera yang tak pernah kering dari ilmu-ilmu agung.

Konten Terkait:  Ki Ragil Jalu Pangestu Mendalang Lokapala Bedah

Santapan jasmani dan santapan rohani yang dirasakan Jayengraga dan Jayengwesthi tersebut tentunya dinikmati pula oleh para pecinta macapatan yang datang pada acara ‘selapanan’ malam Rabu Pon tahap ke-162 ini.

Suasana macapatan tahap 162 foto herjaka
Suasana macapatan tahap 162 foto herjaka

Acara macapatan yang diselenggarakan 35 hari sekali ini dipandu oleh Angger Sukisno serta diselingi karawitan Mangun Budoyo dari Mangunegaran Yogyakarta pimpinan Yunus dan pelatih Suatmadi. Sekitar 30 penembang macapat dari Bantul, Yogyakarta dan Sleman maju satu persatu secara bergantian untuk menembangkan bait-demi bait tembang Gambuh dan tembang Kinanthi.

Angger Sukisno, memberi contoh cara nembang yang baik foto herjaka
Angger Sukisno, memberi contoh cara nembang yang baik foto herjaka

Berkumandangnya suara tembang dan bergemanya bunyi gamelan, merupakan santapan rohani bagi pecintanya. Hal tersebut dapat ibaratkan sebagai kegiatan untuk mendangir salira serta merabuk suksma. Agar hidupnya selalu sehat secara lahir dan mendapat pencerahan batin. (*)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here