Tradisi Perang Obor di Desa Tegalsambi Tahunan Kabupaten Jepara

0
249
Perang Obor di DEsa Tegalsambi b
Perang Obor di DEsa Tegalsambi b

Perang obor yang juga disebut obor-oboran di Desa Tegalsambi, Tahunan, Jepara, Jawa Tengah, berawal dari legenda masyarakat setempat. Legenda tersebut menceritakan tentang Mbah Gemblong dan Kiai Babadan. Mbah Gemblong bertugas memelihara ternak milik Kiai Babadan. Sayang pada suatu saat Mbah Gemblong kurang memerhatikan ternak tersebut sehingga kurus dan sakit-sakitan. Kiai Babadan marah dan menghajar Mbah Gemblong dengan obor, tetapi Mbah Gemblong ganti merebut obor tersebut untuk menyerang Kiai Babadan. Ketika kandangnya ikut terbakar ternak tersebut berlarian dan berhamburan. Tetapi peristiwa ini justru membuat ternak menjadi sehat dan gemuk.

Pelaksanaan perang obor menggunakan perhitungan kalender Jawa/Arab yaitu jatuh pada hari Senin Pahing malam Selasa Pon di bulan Dzulhijjah atau Besar. Persiapan perang obor dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya, mengingat perlengkapan dan biaya yang diperlukan. Pembuatan obor yang cukup banyak dengan bahan utama blarak (daun kelapa kering) dan klaras (daun pisang kering). Sesajian atau sajen, untuk para leluhur seperti pendiri desa, penyebar agama dan tokoh-tokoh lain. Bentuk sesaji antara lain kerbau jantan (disembelih dan diolah), nasi, ketupat, jajan pasar, bubur warna-warni, kembang telon, pitik dhekem, kepiting dhekem dan lain-lain. Menurut tokoh masyarakat setempat ada 16 tempat petilasan yang harus diziarahi tetapi untuk menyingkat waktu dan biaya cukup 7 petilasan. Yaitu Mbah Tegal/Kiai Dasuki (pendiri desa), Ki Gemblong, Mbah Rofii (tokoh agama), Mbah Doromanis/Kiai Surgimanis (tokoh masyarakat), Mbah Babadan, Mbah Tunggul Wulung (tokoh masyarakat), Kiai Sorogenen (tokoh masyarakat).

Lokasi perang obor berada di perempatan jalan yang diyakini merupakan petilasan ki Gemblong. Pesertanya laki-laki penduduk Tegalsambi, berusia minimal 17 tahun sehat jasmani, rohani dan tidak gampang emosi. Obor hanya boleh dipukulkan ke obor lawan bukan tubuh dan harus dari arah depan. Dalam peristiwa ini bunga api pasti memercik ke mana-mana, mengenai pemain atau penonton. Luka tersebut diobati dengan minyak khusus, karena bila diobati secara medis mereka meyakini tidak akan sembuh.

Minyak untuk mengobati luka tersebut adalah minyak yang dibuat dari kelapa dicampur bunga telon sesaji untuk pusaka desa. Desa Tegalsambi mempunyai beberapa pusaka yang disimpan petinggi/tokoh desa. Pusaka ini diberi sesaji setiap malam Jumat sebagai bentuk pemeliharaan dan ‘penghargaan’. Bunga-bunga bekas sesaji inilah yang dikumpulkan dan kemudian dicampur pada minyak kelapa tadi. Adapun pusaka tersebut adalah Ki Songgo Buwono/Golek Kencono, sebuah kayu sebesar lengan dengan panjang sekitar 80 cm, Nyi Gambyongsari serta Nyi Podangsari, merupakan kayu reng bongkaran masjid Demak.

Rangkaian perang obor yang dilakukan mulai dari bersih-bersih makam dan petilasan leluhur, menyiapkan sesajian, mengirim doa, dhahar kembul (makan bersama) kemudian perang obor itu sendiri, yang melibatkan semua unsur masyarakat menunjukkan betapa kompleksnya acara ini. Tradisi selamatan dan perang obor ini mengandung makna untuk mengingat, menghormati dan mendoakan para leluhur yang mempunyai jasa sangat besar terhadap desa. Tidak mengherankan apabila petilasan-petilasan tersebut masih terpelihara dengan baik. Sesaji yang bentuk dan isinya bervariasi menunjukkan adanya sebuah struktur tertentu dalam masyarakat. Semakin dianggap penting maka sesaji itu semakin lengkap dan banyak, demikian pula sebaliknya. Sesaji ini banyak mengandung makna simbolik, yang merupakan ungkapan syukur kepada Yang Maha Kuasa

Judul                  : Makna Tempat Petilasan dan Sajen dalam Tradisi Perang Obor di                                       Tegalsambi Tahunan Kabupaten Jepara
Penulis                : Mudjijono, Isni Herawati
Penerbit               : BPNB, 2017, Yogyakarta
Bahasa                : Indonesia
Jumlah halaman   : vii + 103

TINGGALKAN KOMENTAR