Membaca Puisi, Cerpen dan Novel di Sastra Bulan Purnama

0
248
Ida Nurmawati, foto Indra
Ida Nurmawati, foto Indra

Kali ini, Sastra Bulan Purnama edisi ke-77 tidak hanya menyajikan puisi, tapi juga satu novel dan cerpen. Ketika buku tersebut dilaunching di Tembi Rumah Budaya, Jumat 2 Februari 2018 dengan menampilkan beberapa pembaca, termasuk seorang Camat di Kecamatan Pajangan, Bantul, Yogyakarta dan seorang dokter hewan.

Beberapa orang yang membaca puisi karya Noorca M massardi, Ida Nurmawati, Sukarsono, Sukma Putra Permana Fauzan Muarifin, camat Kecamatan Pajangan, Bantul, dan drh Eilman Bheny Fraba, sedianya akan ikut membaca seorang fotografer sekaligus pengajar di ISI Yogya, Risman Marah, tetapi yang bersangkutan berhalangan hadir.

Yantoro, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Yanjangkrik, membaca satu penggalan novel berjudul ‘Sepasang Mata Mengintip karya’ Jodhi Yudono, dari buku novel berjudul ‘Paijo dan Paijah’.

Awalnya, Yantoro akan mengubah pembacaan penggalan novel tersebut menjadi satu pertunjukan monolog. Tapi karena waktu yang disediakan mepet, dan dia tidak sempat menghafal naskahnya dan tidak ada waktu untuk latihan intens, maka pilihan membaca yang kemudian diambil.

Yantoro, foto Indra
Yantoro, foto Indra

Sambil memegang gitar dan duduk di kursi warna biru, Yantoro membaca karya Jodhi dan memerankan karakter dari tokoh dalam novel. Yantoro seolah sedang monolog, meskipun dia membaca teks.

“Sekali tiup, padamlah nyala lilin yang berjumlah tujuh belas di atas kue tart. Maklumlah, karena Onah mendapat bala bantuan dari emak dan bapaknya yang dengan sekuat tenaga menghembuskan nafas berikut percikan ludah untuk memadamkan nyala lilin sebagai pertanda genapnya usia Onah yang ketujuh belas,” begitulah Yantoro mengawali membaca penggalan novel karya Jodhi Yudono.

Sastra Bulan Purnama edisi ke-77 memang diisi launching tiga buku karya sastra yang berbeda. Buku pertama kumpulan puisi berjudul “Hai Aku’ karya Nooca M Massardi, buku kedua berjudul ‘Paijo dan Paijah’ dan buku kumpulan cerpen karya Rayni N.Massardi berjudul ‘Daun Itu Mati’.

Konten Terkait:  Berdirinya Hastinapura

Karena puisi ‘Hai Aku’ karya Noorca tidak menggunakan judul, tetapi di awal puisi-puisinya diberi judul Senin sampai Minggu. Puisi yang diberi judul Senin terdiri dari 41 halaman, sehingga seperti puisi panjang yang diberi judul ‘Senin’. Demikian pula puisi Selasa dan setersunya sampai Minggu terdiri dari beberapa puisi sehingga semuanya seolah seperti puisi panjang.
Ida Nurmawati membaca satu puisi yang diambil dari hari Senin, yang di bagian bawah puisi ditulis tanggal pembuatan puisi 060317. Tanda tanggal itu membedakan dengan puisi-puisi lainnya yang diberi judul hari Senin.

drh.Eilman Bhenny Fraba, foto Indra
drh.Eilman Bhenny Fraba, foto Indra

Para pembaca puisi lainnya mengambil hari yang berbeda, dan karena tidak ada judulnya masing-masing pembaca langsung membaca puisi, tanpa perlu menyebut judul puisi lebih dahulu sebagaimana biasanya membaca puisi dengan menyebut judulnya.

“Saya senang ada teman-teman yang baru saya kenal akan membacakan puisi-puisi saya. Ini artinya, ada orang lain yang menafsirkan puisi saya secara berbeda-beda,” kata Noorca M Massardi.

Fauzan Muarifin, foto Indra
Fauzan Muarifin, foto Indra

Para pembaca datang dari latar belakang yang berbeda, dan tidak semuanya bersentuhan dengan puisi, tetapi memiliki kesenangan membaca puisi. Penampilannya, terutama Pak Camat Pajangan dan Eilman, seorang dokter hewan baru pertama kali ini membaca puisi di Tembi, demikian juga Ida Nurmawati, dia tertarik ikut membaca puisi di Tembi ketika bulan Desember 2017 datang di Sastra Bulan Purnama dan melihat para perempuan membaca puisi, dia tertarik untuk ikut membaca. Dia belum lama tinggal di Yogya, setelah pindah dari Bengkulu.

Rasanya, puisi dan Sastra Bulan Purnama mempertautkan persahabatan dan pergaulan antarkelompok sosial masyarakat (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here