Puisi Arief Junianto

0
144

Di Titik Nol

Simpangempat itu,
mengepak rapi jejak ribuan ladam
saat kakikaki roda membiru.

Sungguh, waktu tak pernah lupa
menggunting habis lipatan jarak kita
dengan menara-menara tua.

Dan matahari menguncup,
mulai bercerita tentang kecup
dan luka yang selalu sama
saat senja beradu dengan surup

Cuma di matamu,
kumandang adzan dan deru klakson,
saling bertemu

Punggung kota,
adalah saksi ketika kita,
bercermin ke cakrawala

Dimana heningmu,
yang menidurkan setiap kereta melaju,
kucari di setiap bulir debu,
saat waktu memilih untuk diam dan tetap merindu

Jogja, 2016

Perempuan Kayu

ada perempuan lahir dari sepatah kayu,
saat mantra pertama diracau:
kemarau berdesau.

lalu kuperah bisa paling murni,
dari mata yang merenik. api
meletik dari tasbih nama kota. sepi
mulai terlihat mengakar
pada ingatanku, belukar

membakar segala sisa batang
lengkap dengan takikan parang,
sungguh, kelahiranmu
adalah kelahiran kayukayu
yang runduk, lalu tunduk

Jogja, 2016

Ular Progo*

Seekor ular menyerbu hulu, ke arah
tepi sungai itu. Tibatiba menggoresi keningmu.
Sejak ratusan tahun lalu. Orangorang silih berganti
menggegarkan sejarah yang berganti alibi.

Seekor ular yang melongok ke luar. Ada nafas bocah
di lehermu. Kesumat menguar. Darah dan sisa api
perlawanan. Dan pasir di cawan. Mengutuk kutukan
sepi yang paling kau kutuk.

Aku ini anakmu. Aku ini anakmu.

Bekas sol sepatu. Bekas gulir roda truk bermuat pasir itu. Teretas
tangis ular berkaki mungil. Di teras rumahmu yang terang
dan derang. Dan gerah itu pun mulai mengelupasi kulitkulit
kayu.

Pergi sana. Dasar kau kutukan nan cantik jelita.

Jogja, 2017

*disadur bebas dari legenda Sungai Progo, DIY

Emak

demikianlah:
“emak tak lagi punya banyak cerita
untuk dilarungkan
kerna sungai dan hutan di dinding kamar
sudah lama mengering
dan habis terbakar”.

jangan kau pulang sebagai perempuan,
kalau tak bisa membawa kenangan
tentang sendang dan badai selatan,
itu kata emak sambil merajut selimut
dan mengurai benang rajut yang mengusut

o, ruang-ruang yang bisu
ijinkan perahuku berhulu
sebab meja-meja kayu setengah lembab,
adalah ihwal
riuhnya dunia yang emak kata kekal,
ialah kebun bunga
yang ternyata hanya ditumbuhi pusara

Jogja, 2016

Pada Secangkir Kopi

pada secangkir kopi,
kami larutkan cerita tentang para lelaki
yang kehabisan mani,
serupa pengemis, mengais remahan
arkais

dan langkah terajun,
saat mendung perlahan bergelayut ayun,
lalu hujan perlahan turun:
toh kota ini terlampau bumbun
bagi kami,
dalam cerita tentang lelaki
yang kehabisan mani
pada secangkir kopi

Jogja, 2017

 

Arief Junianto, lahir di Surabaya, 4 Juni 1984. Aktif di komunitas Studi Seni dan Sastra CDR (Cak Die Rezim) Surabaya. Hingga kini karya-karyanya banyak terdapat di beberapa antologi bersama, seperti Monolog Kelahiran (Sasindo Unair, 2003), Senjakala (Lima, 2005), Ruang Hitam (Lima, 2006), Mozaik Ingatan (CdR, 2010), Menggapai Asmara (Mafaza, 2014), dan Di Balik Hitam Putih Kata (Poetry Praire Publishing, 2014).

Karya-karyanya beberapa kali juga dimuat di beberapa media cetak dan online lokal maupun nasional seperti, Bali Post, Suara Karya, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Lampung Post, Surabaya Post, Media Indonesia, dan Indo Pos. Saat ini menetap di Jogjakarta. Nomor telepon 082135771468.

TINGGALKAN KOMENTAR