In Memoriam Bambang Darto Aktor dan Penyair

2
482
Bambang Darto ketika membaca puisi di Amphytheater Tembi Rumah Budaya
Bambang Darto ketika membaca puisi di Amphytheater Tembi Rumah Budaya

Tak pernah terlupa, ketika mengawali Sastra Bulan Purnama Tembi Rumah Budaya, Bambang Darto ikut tampil membaca puisi. Ia memang dikenal sebagai penyair sekaligus aktor. Ia bukan hanya main teater, tetapi juga main dalam sejumlah film. Dilahirkan di Nganjuk, 26 Februari 1950. Berita duka menyebar atas kepergian Bambang Darto, Sabtu pagi 20 Januari 2018. Kita seperti tersentak, karena tidak pernah mendengar dia menderita sakit yang serius.

“Mas Bambang, baca puisi untuk Sastra Bulan Purnama ya?” saya sapa dia melalui telpon beberapa tahun lalu.

Hanya selisih dua hari dari telepon dia terima, Bambang Darto datang ke Tembi Rumah Budaya untuk mengantar puisi yang akan dibacakan di Sastra Bulan Purnama, entah edisi ke berapa, seingat saya malah edisi pertama dia ikut tampil membaca puisi.

“Iki dimas puisiku,” selalu dia menyebut begitu.

Itulah Bambang Darto, dia selalu sangat responsif ketika diminta untuk membaca puisi. Bukan hanya sekali dia tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama, sudah beberapa kali dia tampil. Pada Sastra Bulan Purnama edisi ke-17, yang diselenggarakan 28 Januari 2012, dia tampil bersama tiga penyair yang lebih muda: Arahmaiani, Achmad Munjid dan Retno Daris Iswandari.

Kyai Badar, begitu dia sering dipanggil oleh kawan-kawannya. Badar kependekan dari Bambang Darto, mengirim 9 puisi untuk dibacakan di Sastra Bulan Purnama. Dari 9 puisi itu kita sertakan satu puisi yang menarik, setidaknya setelah kepergian dia untuk selamanya. Puisi itu berjudul ‘Langit Tanpa Awan.’

Langit Tanpa Awan

Seperti sungai inilah kalimat yang mengalir
Tak kunjung putus

Malam membukakan jendela
Gema bumi lonceng mengepung
Menggetarkan udara

Tak ada lagi rahasia di sini
Langit tanpa awan di atasku
: samapi mati!.

Bambang Darto
Bambang Darto

Meski puisi di atas telah ditulis 5 tahun lahu, tetapi dalam konteks kepergian Bambang Darto, puisi itu memiliki makna yang dalam, seolah sudah cukup lama Bambang Darto mengerti bahwa jalannya sudah terlihat. Puisi itu seperti memberi kabar, bahwa langit tanpa awan, adalah rumahnya kelak.

Bambang Darto tidak hanya tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama, tetapi juga menggarap cerpen menjadi satu pertunjukan teater. Satu naskah cerpen karya Krishna Miharja, dia olah kembali menjadi satu nasakah pertunjukan teater.

“Dim, aku arep nggarap cerpene Krishna yo (Dim, aku akan mengolah cerpen karya Krishna ya,” selalu dia menyampaikan apa yang akan dipertunjukkan.

Sebagai aktor, dia memang menarik ketika membaca puisi. Dia tahu betul bagaimana menghayati satu puisi untuk dibacakan di panggung dilihat banyak orang. Karena itu, dia tidak sekadar membaca, tetapi menghidupkan teks puisi di atas panggung.

Kini Kyai Badar, Bambang Darto telah pergi. Selamat jalan mas Bambang Darto, semoga di sana terus membaca puisi bersama para penyair yang telah pergi. (*)

2 KOMENTAR

  1. RIP , Mas Bambang Darto .
    (maaf baru tahu berita duka ini )
    jadi inget , kita berdua sering bermain ‘air guitar’ sewaktu di Kumendaman jogja

TINGGALKAN KOMENTAR