Ragam Gerak Air dan Citra Sunyi dalam Adu Domba # 8

0
234
Teror, 130 cm x 170 cm, AOC, 2017, karya Laila Tifa-Foto-A.Sartono
Teror, 130 cm x 170 cm, AOC, 2017, karya Laila Tifa-Foto-A.Sartono

Sangkring Art Space, Nitiprayan, Bantul, kembali menyuguhkan pameran yang dengan judul “Adu Domba”. Pameran Adu Domba mulai tanggal 15-31 Januari 2018 ini telah memasuki tahapan Adu Domba # 8=Wolu. Adu Domba mengusung konsep pameran seni rupa dari dua perupa dalam yang ruang sama.

Pada momentum itu dua perupa sengaja disandingkan untuk pameran bersama pada satu ruang dan waktu yang sama seolah “diadu” segala ihwal konsep, gagasan, kreativitas, kecerdasan, dan keterampilan mereka. Seperti ayam jago yang dilepas dalam arena bertarung atau seperti domba yang diadu. Pameran Adu Domba # 8 ini dikuratori oleh Ida Fitri.

Adu Domba ke-8 ini menampilkan dua perupa wanita, yakni Laila Tifah dan Kana Misbach. Laila Tifah adalah alumnus Prodi Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Sedangkan Kana Misbach adalah lulusan Prodi Seni Grafis, Fakultas Seni Rupa dan Desain, ISI Yogyakarta. Keduanya lulusan tahun 1997. Kedua perupa ini juga telah beberapa kali melakukan pameran baik tunggal maupun kelompok.

Tomat-tomat Retno, 130 cm x 170 cm, AOC, 2018, karya Laila Tifa-Foto-A.Sartono
Tomat-tomat Retno, 130 cm x 170 cm, AOC, 2018, karya Laila Tifa-Foto-A.Sartono

Laila memindahkan banyak hal dari lingkungan sekitarnya ke kanvas. Hal-hal tersebut sering dianggap sebagai biasa bahkan sepele atau remeh dalam kehidupan sehari-hari. Hal itulah yang diangkat Latifa menjadi subyek-subyek yang tidak lagi dikenali lagi keremehtemehan atau kebiasaannya. Pilihannya menggunakan warna-warna gelap, komposisi letak subyek yang tidak seimbang dan perspektif yang luas menimbulkan kesan misterius dan serius untuk tema-tema kesehariannya.

Meskipun demikian, Laila tidak menghindari warna cerah seperti merah muda, hijau muda, maupun merah. Hanya saja dalam satu bidang kanvas tersebut warna hitam serta warna-warna tua lainnya tetap mengambil porsi yang cenderung lebih banyak atau lebih dominan. Oleh karena itu, suasana lukisan-lukisan Latifa mengartikulasikan situasi suram atau kelam sekaligus lengang. Beberapa subyek yang hadir cenderung tunggal dengan latar kosong yang luas.

Bersiap Mengaji, 90 cm x 90 cm, OOC, 2017, karya Laila Tifa-Foto-A.Sartono
Bersiap Mengaji, 90 cm x 90 cm, OOC, 2017, karya Laila Tifa-Foto-A.Sartono

Selain itu, Latifa juga cenderung menampilkan subyek tubuh yang tidak utuh, seperti misalnya hanya kaki saja, hanya wajah atau kepala saja, yang memberi kesan misterius. Barangkali hal ini memang menjadi kesengajaan Latifa untuk memberikan kesan ganjil dengan banyak pertanyaan yang barangkali memang tidak akan segera terjawab.

Air # 1-10, 30 cm x 30 cm, Acrylic & Ink On Canvas, karya Kana Misbach-Foto-A.Sartono
Air # 1-10, 30 cm x 30 cm, Acrylic & Ink On Canvas, karya Kana Misbach-Foto-A.Sartono

Kana Misbach menampilkan air tidak dengan cara deskriptif yang mempertimbangkan elemen estetik, yang sekadar menggambarkan, yang memvisualisasikan, yang mengindahkan. Akan tetapi ia menghadirkan air sebagai wacana naratif yang menguraikan gerak, sebagai sebuah peristiwa. Ia menggunakan tinta cina dalam mengartikulasikan gerak yang melenceng, meliuk, menetes.

Laju dari Hulu, 100 cm x 80 cm, AOC, 2017, karya Kana Misbach-Foto-A.Sartono
Laju dari Hulu, 100 cm x 80 cm, AOC, 2017, karya Kana Misbach-Foto-A.Sartono

Dalam karya-karya sketsa ia menarik garis-garis esensial dengan menggunakan sebatang lidi. Hasilnya adalah visualisasi yang tegas, lugas, efisien, apa adanya. Teknik semacam ini kerap ia gunakan dalam on the spot ketika dengan sengaja ia melakukan perjalanan, ketika ia mencermati gerak air yang menarik hatinya.

Siklus, 80 cm x 80 cm, AOC, 2017, karya Kana Misbach-Foto-A.Sartono
Siklus, 80 cm x 80 cm, AOC, 2017, karya Kana Misbach-Foto-A.Sartono

Kana menggoreskan arang ketika ia merasa perlu untuk memberikan tekanan atau aksentuasi, menghasilkan impresi yang ekspresif. Sedangkan cat akrilik difungsikan untuk memberikan volume, melebihkan, atau mengindahkan pada lukisan-lukisannya tentang air. Dalam karyanya “Air” yang terdiri dari 10 panil dengan material cat akrilik dan tinta cina, Kana menggambarkan beragam gerak air. Dengan bidang-bidang ruang yang terbatas dalam bingkai ukuran 30 cm x 30 cm ia memvisualisasikan esensi gerak air berupa lintasan yang lencang dan liuk, arus yang deras dan lencang, serta naik dan turunnya yang menggelombang. Ragam gerak air dan citra sunyi menjadi tema masing-masing perupa dalam Adu Domba # 8 ini (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here