In Memoriam Darmanto Jatman ‘Sang Darmanto’ itu Telah Pergi

0
271
Darmanto Jatman
Darmanto Jatman

“Sang Darmanto” adalah salah satu judul buku puisi karya Darmanto Jatman, saya lupa kapan buku itu diterbitkan. Saya mendapatkan buku itu, meski sekarang tidak lagi tahu di mana buku itu berada, tahun 1980-an. Di kalangan penyair, lebih-lebih penyair muda, mengenal nama Darmanto Jt. Rambutnya kribo, maka sering disebut sebagai penyair kribo. Darmanto lahir 16 Agustus 1942 dan meninggal 12 Januari 2018.

Tengah malam, di tahun 1980-an, ketika saya mampir makan gudeg di depan Pasar Beringharjo, di tempat itu sudah ada Darmanto ditemani Linus Suryadi AG. Vespa warna biru yang dikendarai Linus diparkir di depan warung gudeg. Lesehan gudeg di depan pasar ini memang menjadi langganan seniman, tak terkecuali Umar Kayam.

“Eh, dik kene nggabung…” kata Linus ketika melihat saya memarkir sepeda motor dan berjalan menuju lesehan gudeg.

Darmanto Jatman memang akrab dengan penyair-penyair muda Yogya, terutama ketika masa Persada Studi Klub (PSK) asuhan Umbu Landu Paranggi masih ada. Dengan para alumni PSK, terutama Emha Ainun Najib dan Linus Suryadi AG, Darmanto sangat dekat. Bahakan keduanya seperti adiknya.

Darmanto dan Emha Ainun Najib
Darmanto dan Emha Ainun Najib

Suatu kali, di tahun 1990-an setelah dari Semarang saya diajak mampir Linus Suryadi ke rumah Darmanto di Jalan Menoreh Raya 73, memang tidak lama, dan terlihat sekali betapa dekatnya Darmanto dengan Linus.

“Seko endi kowe, Nus? (Dari mana kamu, Nus?),” tanya Darmanto

Sebagai penyair Darmanto memang telah menulis banyak puisi. Karya puisinya khas, dan disenangi banyak orang, apalagi puisi yang berjudul ‘Istri’. Kalau puisi ini dibacakan, lebih-lebih dibacakan sendiri oleh Darmanto, kata-katanya menjadi terasa hidup. Juga puisi yang lain, misalnya puisi yang berjudul ‘Karto Iya bilang mboten’.

Darmanto bersama teman-temannya di Tembi Rumah Budaya
Darmanto bersama teman-temannya di Tembi Rumah Budaya

Darmanto memang piawai kalau berbicara di forum, dan ketika menjadi moderator diskusi dia bisa menghidupkan forum, lebih-lebih dengan humornya yang khas. Ketika Sanggarbambu di tahun 1980-an setiap bulan menyelenggarakan diskusi, Darmanto bertindak sebagai moderator.

Darmanto memang sudah lama menderita sakit. Untuk terus bersahabat dengan dia, atau sebut saja untuk menguatkan persahabatan Darmanto dengan penyair-penyair yang lebih muda, pada 21 Januari 2012, jadi 5 tahun yang lalu, teman-teman penyair membacakan puisi karya Darmanto Jatman di Tembi Rumah Budaya. Gentong Hariono, sahabat Darmanto sejak muda mengajak menyelenggarakan acara untuk Darmanto.

“Ons, kita adakan acara di Tembi membacakan puisi-puisi Darmanto,” ajak Gentong.

Penyair dari berbagai usia yang berbeda diminta untuk membaca puisi Darmanto Jatman. Gentong, teman seangkatan Darmanto tidak ketinggalan ikut tampil membaca. Penyair dengan usia dibawahnya ada Landung Simatupang, dan yang lebih muda dari Landung ada Butet Kartaredjasa, dan yang lebih muda dari Butet, Whanni Darmawan, dan yang lebih muda lagi, bahkan seusia anak Darmanto Naomi Srikandi dan Gunawan Maryanto. Jadi, puisi-puisi Darmanto dibacakan oleh sahabatanya dari usia yang berbeda-beda.

Darmanto hadir dalam acara tersebut, sambil duduk di kursi roda. Hadir juga teman-teman Darmanto seangkatan, yang sekarang juga sudah tiada seperti Bakdi Sumanto, Romo Kuntoro Wiryomartana dan kalangan anak muda lainnya.

Melihat puisinya dibacakan oleh teman-temannya yang lebih muda, terlihat Darmanto meneteskan air mata. Ia tidak bisa berkata-kata. Dia terharu, mungkin tahu bahwa teman-temannya memperhatikannya, namun dia tidak bisa berbuat banyak.

Darmanto memang bukan pertama kali ke Tembi. Kalau tidak salah ingat, tahun 2002, juga bulan Januari Darmanto membuka pameran seni rupa karya Lian Sahar. Selain senang melihat Lian Sahar pameran, dia merasa takjub dengan Tembi yang menyediakan ruang untuk kegiatan seni dan budaya.

“Salam untuk pak Swantoro ya,” kata Darmanto sambil pulang selesai acara pembukaan pameran. Swastoro adalah pemilik Tembi Rumah Budaya.

Kini Darmanto telah pergi, tetapi puisi-puisinya masih bisa dinikmati. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR