In Memoriam Sujud Sutrisno Pengendang itu Akhirnya Pergi

0
306
Sujud Sutrisno
Sujud Sutrisno

Nama Sujud Sutrisno cukup dikenal di Yogyakarta. Ia seorang pengamen yang menggunakan kendang sebagai alat musiknya. Sejak awal dekade 1970-an, Sujud sudah mengamen memasuki satu kampung keluar kampung, dan tidak ada rumah yang menolaknya kapan Sujud memainkan kendang di depan pintu. Sujud, demikian nama panggilannya, lahir di Klaten, Jawa Tengah, 20 September 1953.

Sujud di bulan September 2017 dikabarkan meninggal. Kabar dari media sosial itu cepat menyebar, dan orang mengira kabar itu benar. Padahal Sujud ada di rumah dalam keadaan sehat. Tembi.net mendatangi rumah Sujud di Badran, untuk meyakinkan bahwa Sujud dalam keadaan sehat.

“Wah, kabarnya sudah menyebar bahwa situne tiada,” sapa tembi.net sambil memasuki rumahnya.

“Lha wong saya sehat-sehat saja kok,” Sujud merespon sambil tertawa.

Untuk menyampaikan kepada publik bahwa Sujud dalam keadaan sehat, pada 28 September 2017 Tembi Rumah Budaya bersama Lembaga Seni dam Sastra ‘Reboeng’ menyelenggarakan satu pertunjukan, menampilkan Sujud berkolaborasi dengan Jemek Supardi, pantomin, Fauzei Abzal, penyair dan Tedjo Badut, seorang komedian badut, dengan tajuk ‘Sesobek Angin: Kolaborasi puisi, pantomim badut dan kendang.’ Tajuk diambilkan dari salah satu judul puisi karya Fauzie Abzal

Namun, berita kali ini, yang beredar pada 15 Januari 2018, yang menyampaikan bahwa Sujud Sutrisno meninggal adalah benar adanya. Ini kali, Sujud memang benar-benar pergi, dan tak kembali. Ia memberi amanah, dua kendang dan dua topi miliknya agar dirawat oleh Jadug Ferianto. Saat Jadug melayat dia menerima dua kendang itu untuk dirawat.

Jadug Ferianto menadapat amanat merawat dua kedang dan dua topi milik Sujud
Jadug Ferianto menadapat amanat merawat dua kedang dan dua topi milik Sujud

Lebih dari 30 tahun Sujud memilih jalan hidupnya dengan kendang. Dia memasuki satu kampung ke kampung lainnya, dan setiap langkahnya selalu diiikuti oleh anak-anak yang ada di kampung itu. Lagu-lagu Sujud khas, karya sendiri dengan mengubah lagu yang sudah dikenal, misalnya lagunya Koes Plus, tetapi liriknya dia ganti dan seringkali dia plesetkan, sehingga mendengar lagu Sujud, orang akan tertawa lepas.

Konten Terkait:  Pementasan Amangkurat Mengiringi Pengumuman Sayembara Penulisan Lakon Ketoprak

Lebih menarik lagi, Sujud bukan mengganggap dirinya sebagai pengamen, tetapi dia menyebut diri sebagai petugas PPRT (Penarik Pajak Rumah Tangga), yang jumlahnya suka rela, dan setiap rumah tangga yang didatangi, selalu bergembira, tak pernah menolaknya.

“Saya bukan pengamen, tetapi petugas penarik pajak rumah tangga,” kata Sujud lalu memukul kendangnya.

Satu dua lagu dia alunkan, dan sejumlah uang diserahkan. Sujud pindah rumah di sebelahnya, dua lagu lagi begitu seterusnya.

Sujud bersama teman2nya di Tembi Rumah Budaya
Sujud bersama teman2nya di Tembi Rumah Budaya

Selain berkeliling kampung, rupanya Sujud sering diminta untuk tampil dalam satu acara, termasuk dalam acara seminar, Untuk memberi selingan, Sujud tampil dengan kendangnya, dan sudah berulang kali Sujud tampil bersama dengan Jemek dan Tedjo Badut. Maka, tidak heran ketigannya terlihat akrab.

Kini, setelah Sujud pergi, kita tidak akan bisa melihat lagi penampilan sang PPRT di panggung atau melihat dia di kampung-kampung. Namun kita bisa melihat dokumentasi pertunjukannya, yang sudah disebarkan melalui Youtube oleh para kreator. Mungkin, Sujud sendiri belum pernah melihat dirinya ada di Youtube, tetapi banyak orang telah mengaksesnya.

Selamat jalan kawan, kita semua kehilangan atas kepergianmu. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here