Kartu Pos dari Siswa SD untuk Sri Sultan

0
252
Kartu pos dilengkapi perangko wajah siswa serta nama dan alamat tujuan yang ditik rapi - Foto Barata
Kartu pos dilengkapi perangko wajah siswa serta nama dan alamat tujuan yang ditik rapi - Foto Barata

Dunia anak-anak selalu menarik, dan kerap mencengangkan. Begitu pula sekitar seratus kartu pos yang dibuat para siswa Sekolah Dasar (SD) Tumbuh 3 Yogyakarta yang ditujukan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X. Hampir semua siswa menyebut Sri Sultan dengan ‘pak Sultan’. Saat menyapa, sebagian mengawali dengan kata dear, hai, halo, sedangkan sebagian besar langsung menyebut pak Sultan. Kartu-kartu pos ini berisi kritik, saran, harapan, permintaan, serta ucapan terima kasih mereka berkaitan dengan perkembangan Yogyakarta.

Karya-karya mereka dipamerkan di ViaVia dengan tajuk ‘Pameran Workshop Kartu Pos Jalin-Sahabat #3: Sorry Guys, No Reply Today ;)’ yang berakhir pada 17 Januari 2018. Pameran ini merupakan hasil workshop yang diiniasi oleh Anang Saptoto dari Minimi Studio, dan didukung oleh PT Pos Indonesia.

Isi kartu pos yang ditulis kembali secara artistik - Foto Barata
Isi kartu pos yang ditulis kembali secara artistik – Foto Barata

Workshop yang diadakan sejak akhir September hingga awal Oktober 2017 ini dibagi dalam empat kategori yakni TK, kelas 1-2 SD, kelas 3-4 SD, dan kelas 5-6 SD. Kantor Pos ikut berpartisipasi dengan membuat perangko khusus dengan foto para siswa, yang disebut dengan layanan Perangko Prisma. Layanan ini disambut dengan gembira oleh anak-anak dan orangtua mereka.

Selain kepolosan verbal anak-anak, pameran ini juga menarik karena pemakaian kartu pos dan perangko sekarang semakin jarang. Ucapan selamat hari raya, misalnya, banyak digantikan SMS (short message service) dan media sosial. Rasanya asyik juga melihat tulisan tangan, terlebih tulisan anak-anak, yang lama tergantikan tulisan elektonik. Tulisan tangan yang kurang rapi, bahasa percakapan, serta sebagian tanda baca dan ejaan yang tidak baik dan benar, membuatnya menjadi tampak alami, dan justru tambah menarik.

Kartu pos tulisan dan gambar yang ditempel di tembok - Foto Barata
Kartu pos tulisan dan gambar yang ditempel di tembok – Foto Barata

Sebagian besar tema berkisar tentang lingkungan dan tata kota. Mereka meminta lingkungan yang bersih, misalnya sungai bersih dan pantai bersih. Mereka mengharapkan agar dibangun taman dan diperbanyak pepohonan. Sebaliknya, mereka menolak pembangunan hotel. Alasannya selain sudah terlalu banyak hotel dan menyebabkan macet, juga “nanti air habis.” Selain itu, mereka mengeluhkan polusi udara dan kemacetan lalu lintas. Mereka juga meminta agar narkoba dan tawuran dihentikan.

Konten Terkait:  Festival Musik Tembi 2017 (2): Ruang Kreatif untuk Berproses Bersama

Di antara mereka, terdapat saran yang kongkrit dan mengena, misalnya meminta agar trotoar jalan diperlebar untuk pejalan kaki, agar anak berkebutuhan khusus diperhatikan, atau agar rumah makan tradisional dipertahankan.

Kartu pos yang diisi dengan gambar dan harapan - Foto Barata
Kartu pos yang diisi dengan gambar dan harapan – Foto Barata

Simaklah komentar mereka (sesuai ejaan aslinya). Rara dengan gaya akrabnya menulis, “Hai pak Sultan, aku ingin berterima kasih & tolong jangan membuat hotel yang banyak, supaya tidak macet. Jika macet maka aku tidak bisa tepat waktu kemana2.” Soal macet, ada komentar lucu dari Herwid, “Saya ingin trafic light hijau lebih lama supaya mengurangi kemacetan dan tidak membuat saya terlambat sekolah karna menunggu trafic light merah yang lama. Pak saya mintak dibelikan ATV.”

Salah satu komentar kritis siswa yang ditulis kembali dengan ejaan sebenarnya - Foto Barata
Salah satu komentar kritis siswa yang ditulis kembali dengan ejaan sebenarnya – Foto Barata

Kelucuan juga tampak dari kartu pos Indira. Selain “Jogja tidak mau macet”, ia juga menulis dengan naif, “Jogja tidak mau hujan!!!” Kelucuan lain khas anak-anak yang senang bermain. Rakiridu menanyakan apakah Sri Sultan menyukai game growtopia, sekaligus meminta royal lock-nya dan nomer telponnya. Begitu pula Gerald menulis (sesuai ejaan aslinya), “Pak cegah narkoba. Kepada beliau, nanti minta nomer-telfon pak pls. Pak main growtopia gamenya bagus:) Kalau main growtopia kasih tau worldnya sama namanya bapak ya:) Pak main AOV nanti kalau menang turnamen dapet 7 miliar rupiah:) betulan ini ada di TV.”

Sebagian kartu pos yang ditempel di dinding - Foto Barata
Sebagian kartu pos yang ditempel di dinding – Foto Barata

Selain sisi lucu dan menyenangkan, isi pameran ini bisa dibilang serius. Komentar anak-anak ini secara keseluruhan kemungkinan besar mewakili aspirasi warga Yogyakarta, misalnya tentang lingkungan hidup, kebersihan, kemacetan, polusi, pembangunan hotel hingga sarana untuk pejalan kaki dan anak berkebutuhan khusus. Sebagian sudah dilakukan pemerintah dengan baik, sebagian lagi masih menjadi pekerjaan rumah. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here