Pameran Patung Musim Hujan di Plataran Djoko Pekik

0
314
Berburu Celeng, 250 cm x 300 cm x 100 cm, perunggu, 2015, karya Djoko Pekik-Foto-A.Sartono
Berburu Celeng, 250 cm x 300 cm x 100 cm, perunggu, 2015, karya Djoko Pekik-Foto-A.Sartono

Plataran dalam bahasa Jawa dapat dimaknai sebagai pekarangan yang terdapat di seputaran rumah tinggal (umumnya di depan rumah). Pekarangan tersebut umumnya cukup luas dan dilengkapi dengan tanaman-tanaman. Plataran umumnya digunakan sebagai tempat bermain anak-anak di samping memberikan pelebaran ruang gerak dari pemilik rumah untuk beraktivitas di luar ruang.

Demikian pula halnya dengan Plataran Djoko Pekik di Sembungan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. Plataran Djoko Pekik menjadi ajang perhelatan pameran patung outdoor dengan tema Rendheng. Rendheng dalam bahasa Jawa diartikan sebagai musim penghujan. Hal demikian tepat kiranya karena pameran dibuka secara resmi oleh Rama Dr GP Sindhunata, SJ tanggal 29 Desember 2017. Pameran juga dimeriahkan oleh Orkes Keroncong Wani Ngalah, pembacaan puisi, dan Tari Gambyong.

Djoko Pekik dalam sambutannya menyatakan bahwa pameran ini merupakan bagian dari cara untuk melatih anak-anaknya dan juga anak-anak muda untuk belajar bekerja. Belajar menempa diri untuk semakin kreatif sekaligus produktif. Penempaan diri semacam itu kiranya menjadikan mereka besi baja murni yang kuat, tidak lembek.

Excited by Black, 250 cm x 60 cm x 60 cm, resin (model perunggu), 2015, karya Komroden Haro-Foto-A.Sartono
Excited by Black, 250 cm x 60 cm x 60 cm, resin (model perunggu), 2015, karya Komroden Haro-Foto-A.Sartono

Samuel Indratma selaku penggagas dari acara ini juga menyampaikan bahwa pameran ini dirembug bertiga (Samuel Indratma, Yuswantoro Adi, dan Bambang Herras) bersama Djoko Pekik. Ternyata rembugan dengan Djoko Pekik tidak mudah. Bagi Samuel, sosok Djoko Pekik itu relatif rewel, ngeyelan. Namun semuanya dapat dilewati dengan baik dan penuh guyonan. Samuel berharap event ini menjadi regular atau tahunan.

Rama Sindhunata yang membuka acara Pameran Patung Rendheng ini dalam sambutannya menyamapikan bahwa ia bersama Djoko Pekik seperti “babat alas” lagi seperti pada zaman Djoko Pekik melukis Berburu Celeng. Rama Sindhu berharap bahwa tema rendheng yang berarti musim hujan itu tidak hanya menyuburkan tanaman, namun juga menyuburkan inspirasi dan kreasi sehingga ada terobosan-terobosan seni yang lebih “gila” lagi daripada yang sudah ada. Tidak terbelenggu oleh pasar. Ia juga berharap bahwa Plataran Djaka Pekik menjadi tempat kreasi dan pameran seni yang menggugat dan meledakkan karya-karya yang dahsyat yang menembus kebuntuan atau stagnasi.

Konten Terkait:  Memasuki Mangsa Kasanga Saat Padi Menguning
Pemimpi, 135 cm x 250 cm x 65 cm, resin (model perunggu), 2009, karya Wahyu Santosa-Foto-A.Sartono
Pemimpi, 135 cm x 250 cm x 65 cm, resin (model perunggu), 2009, karya Wahyu Santosa-Foto-A.Sartono

Di akhir tahun 2017 dan awal tahun 2018 ini area luar Plataran Djoko Pekik diproyeksikan untuk kerja kreatif seniman dengan ragam gagasan dan pendekatan. Patung yang dipamerkan di tempat ini memiliki ragam tahun pembuatan. Selain itu, juga berasal dari seniman yang beragam usia atau generasi.

Semua Bertanggung Jawab, 80 cm x 230 cm x 40 cm, resin (model aluminium), 2012, karya Win Dwi Laksono-Foto-A.Sartono
Semua Bertanggung Jawab, 80 cm x 230 cm x 40 cm, resin (model aluminium), 2012, karya Win Dwi Laksono-Foto-A.Sartono

Hampir seluruh karya pernah menjadi bagian dari pameran-pameran yang pernah diadakan di ruang seni yang tersebar di berbagai tempat. Penyelenggaraan pameran patung di Plataran Djoko Pekik ini merupakan bagian dari cara menghadirkan sekaligus menghormati kembali jerih payah dalam penelitian, mengolah gagasan/pikiran, waktu, biaya, dan tenaga seniman kepada penikmat seni yang baru dan lebih luas lagi. Karya seni yang sama tetap diyakini sebagai selalu layak untuk dihadirkan terus-menerus dalam berbagai kesempatan. Dengan demikian, tidak sebuah karya bekas dari sebuah karya seni.

Untitled, 250 cm x 300 cm x 250 cm, resin (model aluminium), 2015, karya Dunadi-Foto-A.Sartono
Untitled, 250 cm x 300 cm x 250 cm, resin (model aluminium), 2015, karya Dunadi-Foto-A.Sartono

Ada pun seniman yang terlibat dalam pameran patung yang mengawali perhelatan kerja seni ini ini adalah Win Dwi Laksono, Dunadi, Hedi Haryanto, Komroden Haro, Wahyu Santoso, Budi Ubrux, Putu Sutawijaya, Laksmi Sitaresmi, Sutopo, Nyoman Ateng Adiana, Djoko Pekik, Edi Priyanto, Nasirun, dan karya seni studi patung ISI Yogyakarta. Pameran ini dirancang untuk berdurasi selama satu bulan dan boleh dinikmati selama 24 jam penuh. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here