Klasikisme Pameran Foto Kekinian dengan Tampilan Masa Lalu

0
173
Bus, Media Cetak Kayu, Teknik Cetak Vandyke, Karya Gaia Gaya-Foto-A.Sartono
Bus, Media Cetak Kayu, Teknik Cetak Vandyke, Karya Gaia Gaya-Foto-A.Sartono

“Klasikisme” menjadi istilah yang dipilih untuk mewakili konsep pemikiran dalam pameran foto cetak tua di Bentara Budaya Yogyakarta, 28-31 Desember 2017 oleh mahasiswa-mahasiswi Jurusan Fotografi, Fakultas Media Rekam, ISI Yogyakarta. Kata dasar “klasik” sepenuhnya diambil dalam konteks bahasa Indonesia, bukan dari istilah bahasa Inggris (classic) atau istilah seni akademis yang mengacu pada kesenian di masa keemasan Romawi dan Yunani. Kata “klasik” dalam konteks pameran ini sama dengan yang termaktub dalam KBBI, di antaranya “termasyhur karena bersejarah, tradisional dan indah”, sedangkan akhiran “isme” menunjuk pada sifat maupun pemahaman. Oleh karena itu, dalam konteks pameran ini karya-karya yang dihadirkan memiliki nuansa ke-sejarahan teknis, ke-tradisionalan tampilan yang indah.

Horse Power, Media Cetak Watercolor Paper, Teknik Cetak Vandyke, Karya Aziz Albukori-Foto-A.Sartono
Horse Power, Media Cetak Watercolor Paper, Teknik Cetak Vandyke, Karya Aziz Albukori-Foto-A.Sartono

Pameran ini dilakukan dalam rangka ujian Mata Kuliah Fotografi Cetak Tua dengan menampilkan foto-foto yang dicetak dengan cara lama yaitu, Cyanotype, Brown Print, dan Gum Bichromate. Cara-cara lama ini dapat mengingatkan kembali pada kita bahwa para pendahulu mencetak dengan cara seperti itu. Hak ini dapat dipergunakan sebagai wahana ilmu pengetahuan dan sebagai media ekspresi dalam karya fotografi.

Apa yang dilakukan dengan teknik cetak tersebut tentu saja tidak sederhana. Ada banyak tantangan (kesulitan) di dalamnya, misalnya bagaimana rumitnya menimbang bahan kimia yang peka terhadap cahaya. Pada sisi ini harus ada perhitungan yang cermat dan teliti supaya dapat dihasilkan hasil cetak foto yang tajam, kontras, dan kecerahan imaji yang pas.

Di tengah perkembangan penciptaan imaji yang canggih serta kemudahan memanipulasi, teknik yang terbilang tradisional ini mengajarkan bagaimana seharusnya kita bersikap ketika mengalami kegagalan dalam proses cetak. Teknik kuno ini lebih menstimulasi kita untuk menemukan racikan yang sempurna. Tantangan yang menarik jika kita (pencetak) bisa menemukan hal itu. Bereksplorasi dengan media cetak juga menjadi pelajaran penting dalam menyikapi banyaknya media yang bisa dicampuradukkan, dipadukan, untuk menciptakan karya-karya yang inovatif.

Konten Terkait:  ‘Boleh Masuk’, Ada Ana Ratri dan Yoyok
Childhood, Media Cetak Watercolor Paper, Tekni Cetak Gum Bichromate, Karya Lavetya Maulina-Foto-A.Sartono
Childhood, Media Cetak Watercolor Paper, Tekni Cetak Gum Bichromate, Karya Lavetya Maulina-Foto-A.Sartono

Foto-foto cetak tua bila dipandang dari salah satu sisi gramatika visual ala Kress dan Leeuwen memiliki kekuatan pada aspek modality (modalitas) warna/tone. Modalitas diadopsi dari peristilahan linguistik yang digunakan untuk menyatakan kredibilitas sebuah informasi. Melihat bentuk dan wujud dari foto-foto yang dipamerkan kali ini dan menimbang tradisi persepsi realistik yang dianut masyarakat tentang nilai otentisitas sebuah karya fotografi, maka definisi modalitas dalam lingusitik yang dinyatakan oleh Kress dan Leeuwen dapat disandingkan dengan seberapa kuat sebuah imaji fotografis dap dikatakan kredibel/otentik.

Foto-foto cetak tua yang ditampilkan dalam pameran ini secara visual lemah dari sisi otentisitasnya, terutama dalam hal nilai-nilai informasi yang ditawarkan. Terlebih teknologi dan material foto cetak tua yang ditemukan pada pertengahan abad ke-19 tentu banyak keterbatasan dan jauh dari sempurna. Pameran foto cetak tua ini cenderung menampilkan pesan yang reflektif dan imajinatif.

Memori kolektif masyarakat tentang teknologi fotografi memang masih melihat imaji monokromatik sebagai penanda masa lalu. Kress dan Leeuwen menyebutkan ada empat orientasi pengodean, salah satunya sangat sesuai dengan karya-karya yang dipamerkan ini. Orientasi yang dimaksud adalah censory coding yang menempatkan mata sebagai sensor untuk mengarahkan arah pengodean spectator. Dalam kontek pameran ini foto-foto cetak tua yang ditampilkan merupakan benda visual menstimulus persepsi spectator untuk melukiskan proses pengodean yang terfokus pada masa lalu.

Dor! Dor! Dor!, Media Cetak Kertas Kraft, Teknik Cetak Cyanotype, Karya Annisa Kurnia Devi-Foto-A.Sartono
Dor! Dor! Dor!, Media Cetak Kertas Kraft, Teknik Cetak Cyanotype, Karya Annisa Kurnia Devi-Foto-A.Sartono

Modalitas karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini sebagian besar terletak pada kroma-kroma yang ditampilkan, ketajaman/sharpness, dan corak kuasan obat foto yang mengelilingi karya. Ketiganya menjadi kode untuk sebuah kelampauan waktu, menjadi jembatan imajinasi. Alam kekinian ditampilkan secara masa lalu. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here