Di Bulan Purnama Puisi Memertemukan Penyair Bulaksumur

1
340
Retno Darsi Iswandari, foto Herlambang
Retno Darsi Iswandari, foto Herlambang

Menandai tahun baru, Sastra Bulan Purnama ke-76 menampilkan para penyair alumni Bulaksumur, daerah tempat Universitas Gadjah Mada berada, dengan tajuk ‘Kampus Biru di Bulan Purnama, yang diselenggarakan Jumat, 5 Januari 2018 di Pendapa Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Para penyair Bulaksumur ini lama tidak saling bertemu karena tinggal di kota berbeda, atau tinggal di kota yang sama, tetapi kesibukan yang membuat masing-masing saling jarang bertemu. Melalui puisi di bulan purnama mereka dipertemukan, dengan demikian puisi meneguhkan persahabatan.

Maka, yang tampak hadir, selain yang tampil membaca puisi, adalah mereka yang dulu aktif di komunitas Bulaksumur dan para alumni UGM. Sastra mempersatukan mereka. Para penyair Bulaksumur di antaranya ada yang masuk dalam jaringan aktivis mahasiswa, sehingga selain bersentuhan dengan sastra, aktivis itu bersentuhan dengan demonstrasi mahasiswa.

Salah seorang di antaranya Afnan Malay, alumni Fakultas Hukum UGM dan sejak mahasiswa sudah aktif menulis puisi. Dalam penampilannya di Sastra Bulan Purnama Afnan mengenakan jaket merah dan sepatu warna merah. Ia membaca lebih dari tiga puisi, dua diantaranya puisi pendek, hanya dua tiga baris.

Afnan Malay, foto Herlambang
Afnan Malay, foto Herlambang

Aktivis mahasiswa yang lain ikut hadir dan tidak membaca puisi, meski bukan dari UGM, tetapi semasa sebagai aktivis mahasiswa, universitas yang ada di Yogya saling berjejaring, misanya Reziku Amin, alumni Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. “Sudah berapa tahun Sastra Bulan Purnama ini, Ons?,” tanya Reziku.

Reziku jarang datang dalam acara Sastra Bulan Purnama, yang sering ia hadiri saat ada kegiatan diskusi di Tembi Rumah Budaya. Aktivis yang lain, yang sekarang menjadi Ketua Departemen Sosiologi Fisipol UGM, Arie Sujito, aktivis generasai setelah Reziku dan Afnan Malay aktivis mahasiswa yang lain, seangkatanm Afnan dan Reziku, yang tampak hadir M Toriq, alumni FE UGM, yang pernah menjadi wartawan Detik.

Konten Terkait:  Brang, Breng, Brong Sampaikan Pesan Kesetaraan Gender
Yayan Sopyan, foto Herlambang
Yayan Sopyan, foto Herlambang

Para alumni Bulaksumur dari berbagai angkatan, saling bertemu dan membaca puisi di Sastra Bulan Purnama Tembi Rumah Budaya, dan sudah lama tidak membaca puisi, seperti Yayan Sopyan. Ia tampil membacakan satu puisi karyanya, setelah lebih dari 15 tahun tidak membaca puisi.

Ada juga yang membaca puisi seolah seperti orasi, sambil teriak keras layaknya di tengah demonstrasi seperti dilakukan Hamzah, atau yang dikenal dengan nama Hamzrut. Ia membaca puisi penuh gelora dengan teriakan yang kencang.

“Saya ini bukan penyair, tetapi penjual angkringan,” kata Hamzrut.

Nurudin Asyhadie, foto Herlambang
Nurudin Asyhadie, foto Herlambang

Tiga perempuan alumni UGM, ketiganya dari Fakultas Ilmu Budaya UGM, dua di antaranya penyair dan telah menerbitkan antologi puisi baik puisi tunggal maupun antologi puisi bersama. Kedua penyair perempuan itu ialah Retno Darsi Iswandari, sekarang tinggal di Australia dan Novi Indrastuti, pengajar di Fakultas Ilmu Budaya UGM dan pembaca puisi Savitri Damayanti, alumni FIB UGM, yang sekarang bekerja di satu hotel di Solo.

Tiga jurnalis sekaligus penyair yang ikut tampil membaca puisi, ketiganya dari komunitas Bulaksumur ialah, Nurudin Asyadie, Yayan Sopyan dan Tulus Wijanarko. Tidak ketinggalan, seorang aktor dan penyair, Landung Simatupang alumni jurusan Sastra Inggris FIB UGM, ikut membacakan satu puisi karyanya.

Tampil juga kelompok musik ‘Boleh Masuk’, yang menggarap dua puisi karya Novi Indrastuti menjadi lagu, dan Whanny Darwmawan, seorang aktor teater menutup Sastra Bulan Purnama edisi ke-76 dengan membacakan satu naskah monolog karyanya. (*)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here