Setelah Pameran Lalu Mau Bagaimana, Catatan Pameran Aksi Artsy

0
188
Fenotipe, AOC, 85 x 150 Cm, 2017, Karya Aan Hidayat-Foto-A.Sartono
Fenotipe, AOC, 85 x 150 Cm, 2017, Karya Aan Hidayat-Foto-A.Sartono

Dualisme merupakan konsep yang bisa bermakna sebagaiu kontradiksi, yakni antara baik dan buruk, modern dan tradisional, seni murni dengan seni terapan, dan berbagai macam pertentangan lain. Sekalipun demikian, pada kenyataannya apa yang disebut sebagai dualisme tidak harus selalu dimaknai dengan apa yang disebut sebagai dua sisi yang saling bertentangan. Dualisme dapat juga dimaknai sebagai entitas yang saling berkaitan, saling menguatkan, dan saling berpasangan. Ada hubungan di antara keduanya yang dapat berasimilasi dalam bentuk solusi untuk sebuah perubahan yang lebih baik. Dualisme inilah yang dipakai sebagai bingkai dalam pameran alumni dan mahasiswa ISI di Galery J. Katamsi, ISI Yogyakarta, Sewon, Bantul mulai tanggal 22-31 Desember 2017. Pameran itu sendiri diberi tema Murni Artsy #2.

Glorious Myth, Polyster Resin, Wood, Car Paint, 10 Mikron Brass, Platted on Resin, 100 x 210 x 35 Cm, 2015, Karya Aditya Chandra-Foto-A.Sartono
Glorious Myth, Polyster Resin, Wood, Car Paint, 10 Mikron Brass, Platted on Resin, 100 x 210 x 35 Cm, 2015, Karya Aditya Chandra-Foto-A.Sartono

Berbicara mengenai dualisme, khususnya yang terjadi pada perkembangan seni rupa di Indonesia, kita dihadapkan dengan berbagai jenis pengaruh dalam seni rupa di setiap era. Salah satunya seperti lahirnya Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia yang terjadi karena ada sekelompok mahasiswa ingin menentang atas kuatnya pengaruh modern dari tenaga pengajar di kampus, hingga akhirnya diadakanlah pameran dengan tajuk Gerakan Seni Rupa Baru I pada tahun 1975.

Crash The Karst, Woodblock Print, d 117 cm, 2015, Karya Ucup Taring Padi-Foto-A.Sartono
Crash The Karst, Woodblock Print, d 117 cm, 2015, Karya Ucup Taring Padi-Foto-A.Sartono

Selain itu, ada pula era dimana terjadi perbedaan antara seni rupa kerakyatan seperti Taring Padi, yang menunjukkan realita masyarakat dalam karya. Hal demikian itu sangat jauh berbeda dengan seni rupa yang lebih berorientasi pada nilai kualitatif maupun kuantitatif seperti yang dilakukan beberapa seniman yang menganut prinsip “seni untuk seni”. Perbedaan tersebut memang terasa mencolok, akan tetapi banyak dari individu yang bergerak dalam tiap era tersebut betul-betul menjiwai sesuatu yang hendak dicapai.

Sekalipun demikian, barangkali tak usah jauh-jauh menilik dan membicarakan mengenai sejarah seni rupa di Indonesia. Nyatanya di beberapa kampus seni, khususnya di Institut Seni Indonesia Yogyakarta sering sekali muncul pertanyaan yang berkaitan dengan hal tersebut yakni, “Mau jadi seniman yang sarjana” atau “Mau jadi sarjana seni ?”

Konten Terkait:  Kesan dan Kedalaman Alan Aaronson dalam Karya Rupa

Pertanyaan semacam itu muncul karena berbagai persoalan yang berbeda-beda pada setiap individu. Bila diperhatikan masih ada sebagian mahasiswa yang ternyata setelah masuk ke kampus seni malah semakin bingung dengan masa depan dunia keseniannya. Ingin aktif berkarya dan berpameran tetapi sibuk dengan segudang pertanyaan mengenai originalitas. Ingin berkarya tetapi sibuk dengan kegiatan lainnya. Ingin berkarya tetapi masih terkekang oleh batasan yang didapatkan setelah masuk ke dunia akademik.

Dialog, Charcoal and Oil On Canvas, 200 x 150 cm, 2016, Karya Valdo Manullang-Foto-A.Sartono
Dialog, Charcoal and Oil On Canvas, 200 x 150 cm, 2016, Karya Valdo Manullang-Foto-A.Sartono

Dengan Aksi Artsy kali ini mahasiswa-mahasiswi Seni Murni lantas secara tidak langsung ditantang untuk aktif membuat karya, melewati proses kurasi sampai pemilihan karya yang dipamerkan. Karya yang dipamerkan akhirnya menjadi penanda akan masih adanya proses berkesenian yang dilakukan oleh mahasiswa Seni Murni. Pertanyaan yang muncul kemudian dan patut menjadi catatan untuk kreativitas dan kekaryaan berikutnya adalah, “Setelah pameran ini mau menjadi bagaimana ?” Demikian nukilan kuratorial oleh Ryani Silaban atas pameran ini. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here