Melihat Agama dan Politik dalam Ruang Galeri

0
191
Rudy 'Atjeh' Dharmawan 'Jauh di Hati Dekat di Mata' - Foto Barata
Rudy 'Atjeh' Dharmawan 'Jauh di Hati Dekat di Mata' - Foto Barata

Lima penari mengenakan gamis putih berdiri dalam formasi diagonal, satu di tengah dan empat di sudut. Mereka siap melakukan tarian Sufi yang diciptakan Jalaluddin Rumi. Tarian yang berputar-putar berlawanan jarum jam hingga ekstase sebagai wujud kerinduan terhadap Tuhan. Saat melakukan tarian ini, penari hanya terpusat untuk mendekati Tuhan, melepaskan keduniawian. Kontras dengannya adalah sepucuk senapan yang mengarah ke arah mereka.

Inilah karya Rudy ‘Atjeh’ Dharmawan yang berjudul ‘Jauh di Hati Dekat di Mata’. Para penari itu direpresentasikan dengan lima manekin tanpa kepala. Karya ini mewakili realitas politik saat tindakan kekerasan justru menafikan dan mengancam hubungan pribadi dengan Tuhan yang khusuk.

Menurut Rudy, agama adalah relasi personal yang sejatinya merupakan hubungan antara manusia dan Tuhannya. “Politik negara kita bukanlah antarumat beragama, bukan saling menjatuhkan dan menghancurkan dan menyebabkan kebencian. Politik itu bertujuan membangun negara menjadi lebih baik,” katanya.

Multiaspek perdagangan Champa, karya Rudy 'Atjeh' Dharmawan - Foto Barata
Multiaspek perdagangan Champa, karya Rudy ‘Atjeh’ Dharmawan – Foto Barata

Perupa asal Aceh ini mengritik sikap beragama sebagai kendaraan politik yang mengesampingkan sikap toleransi dan melupakan kebhinekaan bangsa ini. Ia pun menuliskan pandangannya, “Hidup itu perjalanan, beda itu mutlak… Keyakinan itu murni, Yang Maha Esa adalah segalanya.”

Karya Rudy tersebut merupakan bagian dari pameran bersama ‘On a Lighter Note’ di Ark Galerie. Kurator Mira Asriningtyas menulis pengantar pameran bahwa para seniman dalam pameran ini mencoba untuk membicarakan isu toleransi dengan cara masing-masing sebagai upaya untuk membahas isu soal melalui karya seni. Seluruhnya dipamerkan bersama sebagai pemantik percakapan atas identitas dan toleransi dalam kehidupan sehari-hari.

Petugas pemilu yang berkacamata kuda dan bersepatu lars, karya Sambung Hambar - Foto Barata
Petugas pemilu yang berkacamata kuda dan bersepatu lars, karya Sambung Hambar – Foto Barata

Kelompok Sambung Hambar, menurut Mira, mencari kata-kata serapan dalam bahasa Indonesia, dan mempertanyakan relevansi kolom agama dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) dengan alih-alih menyajikan kuis ketaatan yang lebih tidak kasat mata namun langsung berhubungan dengan Tuhan.

Konten Terkait:  Kwetiau Jangkung di Jl Hayam Wuruk yang Melegenda

Sedangkan Lintang Radittya, lanjut Mira, memilih membicarakan fluktuasi perubahan perilaku manusia yang disebabkan oleh perubahan Schumann Resonance (SR) yang merupakan kekuatan tidak kasat mata berupa medan elektromagnetis yang fluktuasi getarannya mengganggu keseimbangan garpu tala kehidupan sehingga menimbulkan kegelisahan.

Pingsut sebelum memilih, video Sambung Hambar - Foto Barata
Pingsut sebelum memilih, video Sambung Hambar – Foto Barata

Terhadap karya Rudy yang lain, Mira melihat bahwa Rudy memilih untuk menelusuri jejak persebaran kebudayaan dan agama melalui perdagangan yang berujung pada persilangan bahasa. Rudy sekaligus mempertanyakan hubungan antara Kerajaan Champa di Vietnam dan Jeumpa di Aceh.

Karya Rudy ini menunjukkan bahwa lewat perdagangan, terjadi pengaruh seni, politik, agama, dan kebudayaan. Beberapa sejarawan memang mengatakan bahwa tersebarnya agama Islam di Indonesia berasal dari Champa. Mungkin pesan yang ingin ditegaskan Rudy adalah penyebaran Islam ke Indonesia bukan melalui politik dan peperangan tetapi lewat jalan damai. Hal ini bisa menjadi inspirasi dan acuan dalam sikap beragama.

Lintang Raditya ‘Out of 20-20.000Hz’ - Foto Barata
Lintang Raditya ‘Out of 20-20.000Hz’ – Foto Barata

Pameran paralel Biennale Jogja 2017 yang berakhir pada 20 Desember ini agaknya merupakan refleksi kritis terhadap fenomena politisasi agama yang mengancam toleransi dan kerukunan dalam keragaman bangsa kita. Pesan yang penting sebagai renungan di penghujung tahun. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here