My First Blues Ervin Kumbang Bicara Tentang Mimpi Jadi Musisi

3
625
1. Ervin Memainkan Karya Perdananya
1. Ervin Memainkan Karya Perdananya

My First Blues menjadi single perdana Ervin Kumbang, musisi sekaligus jurnalis ini akhirnya merilis debutnya setelah berjuang dengan segala keterbatasan.

‘Disini Kita Berjumpa #9’ sebuah acara ajang temu alumni IISIP Jakarta yang berlangsung di Joglo Beer Kemang 16 Desember 2017, menjadi panggung perdana Ervin meraungkan gitar dan musik bluesnya. “Dengan My First Blues gue mau membuktikan ke orang-orang, kalau lo miskin dan punya impian jadi musisi, lu tetap bisa berkarya,” katanya.

Titien Natalia (TN): Akhirnya single penuh perjuangan ini rilis, ceritain dong Vin prosesnya?

Lagu ini sebenarnya ditulis pada tahun 2014. Waktu ditulis, gue ngga tahu kapan lagu ini bakal dirilis. Dalam rentang waktu 2014 sampai waktu gue ngerekam My First Blues pada September 2017, gue nulis beberapa lagu. Tapi waktu itu tetap belum pasti, mana yang bakal gue rekam duluan.

My First Blues gue pilih karena menurut gue lagu ini paling “kuat” secara lirik dan musik untuk dirilis sebagai yang pertama. Karena posisinya yang pertama, jadi My First Blues bakal jadi kesan pertama tentang karakter gue, baik dari segi musik, juga posisi gue sebagai musisi.

Gue termasuk orang yang sulit untuk bisa bikin rekaman karena keterbatasan. Awal tahun 2017 gue dapat pekerjaan non-musik dan bulan Agustus ditugaskan untuk keluar Indonesia, pulang ke Indonesia masih punya bekal sedikit uang penugasan itu dan dengan uang itu gue bisa rekaman.

Setelah rekaman, gue harus mikirin soal gimana lagu ini dikemas. Gue kontak teman yang bisa bikin desain, kita diskusi sebentar soal gimana desainnya, terus kontak teman lain yang bisa bikin video untuk teaser. Setelah semuanya siap (cover dan teaser), gue launched di media sosial.

4. My First Blues
4. My First Blues

TN: Kenapa dikasih judul My First Blues?

My First Blues dipilih karena ini rekaman pertama gue, jadi ini “the first”. Blues, karena memang referensi utama yang gue gunakan di lagu ini diambil dari musik blues. Walaupun tetap gue tambahkan elemen lain, tapi bagi mereka yang terbiasa mendengarkan musik blues dan rock and roll, bakal bisa merasakan bahwa My First Blues itu lagu blues.

Secara lirik, My First Blues memang tentang suasana perasaan yang “blue.” Gue menulis lagu ini dalam kondisi desperate karena impian jadi musisi kayaknya nggak nyampe-nyampe, dan itu suasana yang melankoli. Dan melankolia adalah ciri utama dari musik blues.

TN: Di tengah hiruk pikuk industry musik, kenapa akhirnya lu memilih blues?

Gue nggak pernah dengan sengaja memilih blues, itu cuma soal selera. Karena selera musik itu subyektif, setiap orang punya preferensi yang berbeda-beda. Tergantung karakter individu dan lingkungan dia tumbuh. Sama seperti anak-anak lainnya, gue tumbuh di masa MTV masih ada di Indonesia. Dari situ gue mendengarkan Nirvana, Limp Bizkit, Rage Against The Machine, dan Green Day. Juga beberapa musik populer Indonesia yang ada di zaman itu.

Kesadaran gue bahwa gue cocok dengan musik blues sebenarnya mulai ketika gue pindah ke Jakarta dan mulai kuliah. Dan selepas kuliah, gue semakin intens dan sadar bahwa blues itu musik warga kulit hitam di Amerika yang isinya raungan penderitaan mereka sebagai kaum dari Afrika yang dibawa ke seluruh dunia sebagai budak.

Bagi gue, blues itu nggak membosankan karena gue bisa duduk di tempat yang paling rendah (selayaknya budak). Ada yang bilang, blues itu lebih grounded. Tentu saja gue mendengarkan banyak jenis musik, cuma ada waktunya gue bosan. Untuk tetap menjaga kreativitas dan gairah, kalau udah bosan, gue balik ke blues, rasanya jadi lebih percaya diri lagi.

TN: Lo termasuk dalam aliran blues apa nih?

Bingung juga kalau ditanya blues aliran yang mana. Karena blues itu banyak banget, kategorisasi bisa tergantung dari mana si musisi blues itu berasal, dari Mississippi atau Texas. Ada juga kategorisasi berdasarkan waktu perang, misalnya blues pra Perang Dunia II dan blues pasca Perang Dunia II. Semuanya itu sangat dicirikan oleh perkembangan teknologi alat musik dan teknologi rekaman.

Dasarnya gue mendengarkan musik blues dari awal (pra-blues) di abad ke-19 sampai blues zaman sekarang. Cuma kepercayaan diri gue semakin membaik pas gue mendengarkan beberapa musisi blues zaman sekarang (rata-rata mereka kelahiran 1970-an, 1980-an, bahkan ada yang kelahiran 1990-an). Di situ gue merasa ada orang sezaman yang berhasil mainin musik yang sama dengan yang gue pengen.

Nggak ada nama aliran spesifiknya karena bluesnya gue ya blues yang diciptakan di iklim tropis, walaupun inspirasinya dari Amerika yang cuacanya dingin.

2. Ervin Di DKB#9
2. Ervin Di DKB#9

TN: Blues menurut seorang Ervin Kumbang?

Buat gue musik blues itu adalah musik yang paling logis. Logis dalam arti, ini musik yang paling bisa gue mainkan sejak awal gue mendengarkan musik dengan niatan menjadi musisi. Blues, menurut gue simpel, baik secara lirik, notasi, melodi, sampai teknologi.

Dengan kata lain, kalau Anda miskin, blues adalah musik yang paling cocok. Karena pioneer musik blues dunia itu juga mulai dengan peralatan yang sederhana, bahkan cuma dengan gitar dan suara dari kerongkongan.

Tapi, blues juga musik yang luwes. Dia bisa berkembang mengikuti karakter orang yang memainkannya. Dan mereka yang berhasil meredefinisi blues sesuai zamannya, biasanya mereka yang bakal sukses. Ada yang bilang, “kalau Anda memasukkan sedikit saja unsur blues dalam musik Anda, maka musik Anda akan menjadi musik yang hebat.”

TN: Apa tujuan lo membuat album ini, dan rencana lo setelah My First Blues?

Tujuannya jelas, di usia sekarang ini, ngeluarin single bagi gue bukan lagi perkara impian masa remaja yang pengen tampil di panggung dan keren. Single ini gue keluarkan supaya gue bisa mengubah hidup ke arah yang lebih baik.

Gue berharap, single ini jadi modal gue untuk bisa nyari panggung dan gig. Dari situ barulah gue mulai mencari peluang dan modal untuk rekaman lagi.

Dan soal rencana, pengalaman mengajarkan kenyataan nggak selalu sejalan dengan keinginan. Gue ngalir aja, yang jelas, setelah ini gue akan merekam lagu baru, dan apakah nanti bentuknya single lagi, atau EP (mini album), atau bahkan album, kita lihat gimana keberpihakan angin… hehehehehe…

TN: Siapa musisi blues favorite lo dan kenapa ?

Ada banyak. Hampir semua musisi blues adalah favorit gue, walaupun nggak semua musisi yang mengaku memainkan blues pasti gue suka.

Yang paling bikin gue ‘ngeuh’ itu John Lee Hooker sama lagunya Hobo Blues. Gue dengerin itu sekitar sepuluh tahun yang lalu dalam CD bajakan yang isinya lebih dari seratus lagu blues. Dari sekian banyak, itu lagu yang paling mengena.

Lagu itu sederhana dan vokalnya “murung”, tentang anak kulit hitam yang meninggalkan rumah dan menjadi gelandangan, lalu menjadikan kereta api sebagai teman sementara ibunya meratapi kepergian anaknya seraya berpesan jangan lupa jalan pulang. Sedih kan? Itulah blues, dan gue suka sama suasana yang kayak gini.

Di dalam negeri, jujur aja, gue nggak punya favorit, karena susah untuk menemukan orang yang mainin blues dengan kesedihan yang jujur.

3. Disini Kita Berjumpa #9
3. Disini Kita Berjumpa #9

TN: Terus, gimana perkembangan musik blues sendiri menurut lo di Indonesia?

Di Indonesia ini agak unik dan ‘misunderstood’ soal blues. Dulu, untuk nonton musik blues yang proper gue harus pergi ke kafe di Menteng atau Mega Kuningan. Gue harus beli bir di sana dan harus bawa uang yang cukup.

Sepanjang pengetahuan gue, mereka yang bisa cari nafkah dengan memainkan blues di Indonesia itu mereka yang hidup di kawasan menengah ke atas. Akibatnya, blues, kayak jazz, seakan-akan identik dengan masyarakat yang kelas sosialnya termasuk bagi mereka-mereka yang bisa ke kafe untuk bisa minum bir.

Kesalahkaprahan kayak gini bikin gue harus sadar lagi bahwa blues itu musik orang miskin yang dipelopori para budak. Di Amerika, mungkin ke kafe atau minum bir semudah kita minum es teh manis di sini, tapi di Indonesia, kafe itu simbol status sosial.

Jadi, bagi gue, ngomongin blues di Indonesia juga harus ngomongin masyarakat yang ada di sekelilingnya. Dan masyarakat yang ada di sekeliling itu sama sekali nggak mencerminkan grounded-nya blues, sebagaimana yang bisa gue rasakan dalam blues yang berasal dari tanah asalnya.

Jadi, menurut gue, blues di Indonesia itu sebenarnya belumlah “blues.” Karena mereka yang terkenal sebagai musisi blues itu rata-rata nggak memulai musik mereka dari titik yang paling-paling bawah. Dalam status sosial masyarakat Indonesia, mereka nggak berasal dari kelas bawah, mereka ada di lapisan atas yang sudah siap dengan semuanya; gitar listrik yang proper, studio yang layak, dan tentu saja, modal rekaman.

TN: Musik blues katanya identik dengan perlawanan, apa ada ‘perlawanan’ juga dalam music lu?

Udah pasti. Seperti yang gue bilang sebelumnya, gue mengeluarkan single untuk mengubah kehidupan ke arah yang lebih baik. Baik dari segi spiritual, juga mental.

Gue mulai dari nol, nggak ada orangtua yang bisa menyediakan gitar listrik untuk gue. Jadi gue harus kerja dan akhirnya punya gitar listrik sendiri di waktu yang sebenarnya telat (26 tahun!), dan itu pun gitar listrik yang relatif murah semurah-murahnya kalau dibandingin dengan yang dipakai oleh musisi-musisi Indonesia yang mengaku memainkan blues.

Dan gue rekaman dengan uang sendiri, gue punya pekerjaan dengan penghasilan rutin sepanjang 2017 setelah sejak 2012 gue luntang-lantung karena keluar-masuk kerja.

Di masa sulit itu, gue harus percaya bahwa blues itu musik yang dimainkan dengan dignity, kita harus jujur bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan kejujuran seringkali menyulitkan, gue harus bertahan dengan kejujuran itu.

Dengan My First Blues gue mau membuktikan ke orang-orang, kalau lo miskin dan punya impian jadi musisi, lu tetap bisa berkarya. Perlawanannya tentu saja ke arah kultur industri musik Indonesia yang hanya memberi jalan untuk orang-orang yang punya modal dan akses sosial.

Uang memang memainkan peran besar, tapi gue nggak menempatkan uang di tempat pertama untuk jadi musisi. My First Blues adalah hasil pemikiran dan perasaan seperti itu, gue nggak main musik untuk uang. Dan gue berusaha menyajikan yang terbaik, baik dari segi musik, bahkan kemasan.

Salah satunya, gue tetap melepaskan rilisan fisik di tengah zaman digital di mana semua orang bilang penjualan fisik sekarang nggak menjanjikan. Karena menurut gue, itu salah satu cara untuk menghargai pendengar. Gue bisa aja cukup naro musik gue di internet dan orang bisa mendengarkannya, tapi nggak, rilisan fisik itu menunjukkan bahwa gue serius.

Di samping itu, gue tentu saja menggunakan internet untuk menyebarkan musik gue. Cuma, rilisan fisik menjadi pernyataan bahwa gue memperlakukan musik gue dengan sebaik-baik yang gue bisa.

TN: Lalu kenapa baru sekarang? Publish dan karya lo dipamerkan?

Panjang ceritanya Tin… hahahaha…. My First Blues bukan rekaman pertama gue, ini yang ketiga, tapi yang pertama tidak gue publikasikan. Dua yang pertama sama band gue yang dulu dan udah bubar. Gue nggak menyebarkan dua yang pertama karena menurut gue belum layak, dan pengalaman di dua rekaman pertama itu jadi pembelajaran untuk rekaman My First Blues.

Untuk anak seperti gue, yang nggak punya dukungan apa-apa untuk menjadi musisi, impian jadi musisi itu agak terlalu muluk. Sejak kuliah, gue sebenarnya udah mengubur impian itu karena apa yang gue lihat di sejumlah gig yang pernah gue datengin adalah kalau lo mau jadi musisi, lu harus punya modal (uang, alat musik).

Saat itu gue nggak bisa apa-apa, terintimidasi oleh kultur dan sistem yang berlaku. Impian itu tersimpan di balik alam bawah sadar. Saat itu, gue nggak tahu bahwa dia bisa muncul lagi.

Lepas kuliah, gue kerja, punya uang sendiri, dan mulai datang lagi ke gig-gig. Dari situ muncul lagi keinginan yang dulu. Tapi itu juga bukan “klik”, karena ketika gue mulai committed untuk main musik, gue dipecat dari pekerjaan dan bertahun-tahun keluar-masuk perusahaan. Komitmen untuk menjadi musisi itu membutuhkan ongkos mental karena komitmen itu seringkali nggak sesuai sama lingkungan pekerjaan sehari-hari gue.

Dan situasi itu dimulai sejak pertengahan 2011. Selama masa nganggur-kerja-nganggur itu, gue menulis lagu, mungkin kalo dikumpulin, cukuplah buat tiga album… hahahaha…. Tapi, uang tetap berbicara, gue nggak bisa bikin rekaman kalo nggak punya uang. Dan untuk punya uang, gue harus punya pekerjaan yang penghasilannya bisa disisihkan untuk biaya rekaman setelah menutupi kebutuhan sehari-hari.

Tuhan Maha Baik, akhirnya gue dapet pekerjaan awal 2017 dan bisa memaksakan diri untuk rekaman. Dan My First Blues hasilnya. (*)

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR