Maslihar Meronce Hidup

0
246
Maslihar 'Makhluk-Makhluk Bersayap' - Foto Barata
Maslihar 'Makhluk-Makhluk Bersayap' - Foto Barata

Perupa Maslihar, yang juga dikenal dengan nama akrab Panjul, tak lelah melakukan eksplorasi dalam proses kreatifnya melukis. Kali ini ia memamerkan lukisan-lukisan emboss-nya, lukisan yang sebenarnya datar (flat) tapi terkesan timbul. Dua puluh lukisan cat akrilik ini dipamerkan di Indieart House sebagai acara paralel Biennale Jogja 2017.

Dengan tajuk ‘Ronce’, pameran ini memvisualkan kreativitas Maslihar merangkai fragmen-fragmen hidupnya dalam refleksinya di usia yang ke-42. Yang menarik, meski Maslihar menginjak kepala empat, lukisannya justru berasa muda, ringan, menyenangkan, dan komikal. Warna-warnanya funky. Sebagian lukisannya berasesoris topi dengan ujung menghadap belakang dan kacamata rayban yang mengesankan gaya anak muda. Lukisan-lukisan yang dipamerkan ini mencuatkan atmosfir rileks yang asyik dinikmati sambil santai menyeruput kopi atau teh hangat.

Maslihar 'Dinihari di Puncak Harumnya Bunga' - Foto Barata
Maslihar ‘Dinihari di Puncak Harumnya Bunga’ – Foto Barata

Tajuk ‘Ronce’ sendiri mempunyai multimakna. Kepada Tembi Maslihar menjelaskan, tajuk pameran ini mengacu pada kisah Arya Penangsang yang saat ususnya terburai ditikam tombak Sutawijaya malah dililitkan di gagang keris sambil berdiri dengan gagahnya. Makna lainnya mengacu pada bunga. Dalam ritual adat Jawa, dikenal ronce (rangkaian) bunga melati yang dililitkan di gagang keris. Bunga, kata Maslihar, merupakan simbol penting dalam kehidupan masyarakat Jawa. Selain itu, ronce pun mengacu pada rangkaian hidupnya, momen dan tahapan yang direnungkan Maslihar.

Maslihar ‘Pesona Bintang Pantura’, ‘Sedang Jomblo’, ‘Playboy Patah Hati’, ‘Pertengahan Purnama dan Topi’, ‘Pada Suatu Malam Dingin dan Sunyi’ – Foto Barata
Maslihar ‘Pesona Bintang Pantura’, ‘Sedang Jomblo’, ‘Playboy Patah Hati’, ‘Pertengahan Purnama dan Topi’, ‘Pada Suatu Malam Dingin dan Sunyi’ – Foto Barata

Hampir dalam semua lukisan Maslihar terlihat bunga. Sebagian sebagai salah satu objek, sebagian lagi sebagai latar figur. Misalnya, bunga yang melatari wajah perempuan dengan judul ‘Kasihnya Tak Pernah Layu’. Perempuan (ibu atau istri) bukan saja harum dan indah seperti bunga, tapi juga selalu penuh kasih di mana bunga sering diposisikan sebagai feminitas kehidupan. Pada lukisan lainnya ‘Di Balik Rayban’, bunga berwarna kuning melatari pemuda bertopi dan berkacamata rayban seperti gairah muda yang dipancarkan semangat kehidupan. Kemantapan menempuh hidup tampak jelas pada ‘Tegak Lurus Menyentuh Langit’ di mana seorang lelaki berwarna hijau berdada bidang dengan sikap berdiri tegak di belakang bunga berwarna merah jambu.

Maslihar 'Purnama di Ujung Jari' - Foto Barata
Maslihar ‘Purnama di Ujung Jari’ – Foto Barata

Lukisan lainnya yang menarik adalah ‘Makhluk-Makhluk Bersayap’, yang menurut Maslihar, inspirasinya diambil dari satu surat dalam Al-Qur’an. Secara estetis ini termasuk lukisan yang menonjol, baik dalam pemilihan warnanya maupun jangkauan imajinatifnya. Begitu juga estetika lukisan ‘Purnama di Ujung Jari’ tidak kalah memikat.

Hal menarik lainnya adalah kesan timbul pada lukisan-lukisan yang dipamerkan. Lukisan berjudul puitis ‘Dinihari di Puncak Harumnya Bunga’ paling tampak kesan emboss-nya. Begitu pula pada lukisan lain, baik subyek maupun figur-figur lukisannya terkesan menonjol.

Maslihar 'Selendang Pantai Selatan' - Foto Barata
Maslihar ‘Selendang Pantai Selatan’ – Foto Barata

Maslihar mengaku belum lama mendalami teknik emboss. Semula ia melihat lukisan seorang pelukis Amerika Serikat yang mengesankan timbul meski memang sebagiannya tidak datar. Sejak itu ia terus mencoba melukis agar lukisannya terkesan timbul tapi dengan permukaan datar. Untuk itu antara lain ia harus memperhitungkan pilihan warna-warna yang bersebelahan, serta warna yang gelap dan terang. Lukisan emboss pertamanya dipertontonkan pada pameran bersama di Jakarta pada September lalu. Kemudian dua puluh lukisannya dipajang pada pameran tunggalnya yang berakhir pada 5 Desember lalu.

'Maslihar 'Tegak Lurus Menyentuh Langit' - Foto Barata
‘Maslihar ‘Tegak Lurus Menyentuh Langit’ – Foto Barata

Maslihar menempuh pendidikan seni rupa di Sekolah Menengah Seni Rupa Yogyakarta dan Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Lukisan-lukisan yang dipamerkan ini menunjukkan perbedaan gaya melukisnya dibandingkan pameran tunggalnya yang pertama di Tembi Rumah Budaya tiga tahun yang lalu. Semangat belajar dan berkarya terus-menerus pada diri Maslihar agaknya seperti bunga yang tak henti berkembang, yang akan terus dironce. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here