Mahasiswa ISI Yogyakarta Jalani SOP di Tembi

0
227
Mahasiswa ISI Yogyakarta sedang melukis wukunya masing-masing. Foto: Herjaka
Mahasiswa ISI Yogyakarta sedang melukis wukunya masing-masing. Foto: Herjaka

Selama dua bulan, November-Desember 2017, Tembi Rumah Budaya kembali dipilih menjadi tujuan Studi Orientasi Profesi atau SOP dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta jurusan Seni Tari. Peserta SOP sebanyak 11 mahasiswa yang terdiri dari 2 mahasiswi semester 5 dan 9 mahasiswa-mahasiswi semester 7.

Program SOP ini dimaksudkan sebagai pengganti KKN, dengan tujuan adalah menerima ilmu dan pengalaman yang tidak diajarkan di kampus dan membagikan ilmu yang telah didapat dari kampus. Dengan tujuan tersebut, disarankan para mahasiswa memilih program yang ada di Tembi Rumah Budaya selain program tari. Kecuali jika mau membagikan ilmu tari, dapat memilih program kursus tari.

Berdasarkan pembagian yang ditentukan sendiri, selama dua bulan, 2 mahasiswa memilih memberikan workshop seni tari, sedangkan 9 mahasiswa yang lain memilih untuk belajar program selain seni tari, yaitu: nyungging (mewarnai) topeng panji, nyungging wayang kulit, membatik taplak meja, tembang macapat dan melukis wayang.

Dari nyungging topeng Panji, mereka mendapatkan pengalaman tentang komposisi warna serta gradasi warna, menurut pakem tradisional. Juga cara ‘mengulat-ulati’ dengan membuat alis mata dan kumis untuk memunculkan ekspresi dari topeng panji tersebut. Demikian juga mereka yang memilih nyungging wayang kulit, mulai mengenal tahapan nyungging, mulai dari warna dasar pada kulit, gradasi dengan menyusun warna baku, hingga nyawut (membuat garis berjajar sebagai isian bidang) dan nyecek (membuat titik-titik).

Warsana Wiguno mengajari cara memunculkan ekspresi topeng. Foto: Herjaka
Warsana Wiguno mengajari cara memunculkan ekspresi topeng. Foto: Herjaka

Motif batik dengan makna filosofinya juga mulai dikenal oleh mereka yang ikut program membatik. Dilanjutkan dengan memilih atau me-reka-reka motif tertentu untuk diterapkan pada taplak meja. Setelah itu, motif yang sudah digambar pada kertas minyak dipindah di kain taplak dengan cara dipola. Dilanjutkan dengan membatik, menorehkan lilin panas dengan canting pada kain. Tahap selanjutnya adalah mewarna.

Konten Terkait:  Mengenal Aneka Dramatari di Indonesia

Bagi generasi muda sekarang, perlulah kiranya mengenal nasihat para leluhur Karena nasihat-nasihat kuno tersebut masih relevan diterapkan di zaman now. Hal itu baru disadari oleh mahasiswi ISI Yogya yang ikut program tembang macapat. seperti misalnya ketika mereka belajar tembang Maskumambang, dengan teks sebagai berikut: Rowang ngguyu nora kurang jroning urip, mung rowang karuna, arang temen sira manggih, marma yogya golekana. Tembang tersebut merupakan cuplikan dari serat Wulangreh tulisan Paku Buwono IV yang memerintah di Keraton Surakarta pada 1788-1820. Yang artinya: teman untuk bersenang-senang tidak kurang di dalam hidup, namun teman kala berduka jarang kamu temukan, maka seyogyanya kamu cari.

Anton Prabowo mulai menorehkan lilin panas di atas kain taplak. Foto: Herjaka
Anton Prabowo mulai menorehkan lilin panas di atas kain taplak. Foto: Herjaka

Demikian juga mereka yang mengikuti program melukis wayang. Mereka ditugaskan untuk melukis Pawukon, yaitu Zodiak Jawa, yang dilukis adalah wukunya sendiri sendiri. Setiap wuku tersebut berisi tokoh yang menjadi nama wuku, misalnya wuku Langkir, yang dilukis adalah Raden Langkir menghadap Batara Kala, di bawah pohon Ingas dan di samping pohon cemara yang roboh, dan ada burung puyuh. Batara Kala menggambarkan watak pemarah, tamak serta keras kepala. Pohon Ingas dan cemara roboh, menggambarkan suasana panas dan tidak bisa menjadi perlindungan. Burung Puyuh, menggambarkan jiwa prajurit yang pemberani. Beberapa unsur gambar tersebut dikemas dan menjadi lukisan Pawukon.

Ada 30 wuku yang ada. Artinya bahwa dalam memerinci watak seseorang jumlah 30 akan lebih detail dan spesifik dibanding dengan zodiak yang berjumlah 12. Ibarat mata rantai yang telah putus, generasi muda tidak lagi mengenali ilmu perbintangan sendiri, yang disebut Pawukon. Mereka menjadi asing dengan budayanya sendiri, dengan wukunya sendiri, bahkan dengan watak baik dan buruk yang dimiliki sendiri. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here