Museum Tino Sidin di Yogyakarta Sudah Bisa Dinikmati

0
394
Patung Tino Sidin yang diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Foto: Suwandi
Patung Tino Sidin yang diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Foto: Suwandi

Anak-anak Indonesia yang lahir di tahun 1970-an ke atas pasti banyak yang kenal dengan Pak Tino Sidin yang terkenal dengan ucapannya “Ya… Bagus”, si guru menggambar di TVRI Yogyakarta dan Pusat pada tahun 1969-1989. Ia wafat pada 29 Desember 1995 di Jakarta.

Walaupun Tino Sidin sudah tiada, bukan berarti para “bekas” muridnya yang mencapai jutaan anak di seluruh Nusantara lewat siaran “Gemar Menggambar” tidak bisa mengenali kembali karya-karyanya. Bahkan anak-anak sekarang, yang tidak mengenal langsung Tino Sidin lewat siaran televisi pun, juga bisa mengenal kembali karyanya lewat Museum dan Galeri yang didirikan oleh keluarganya di Jalan Tino Sidin Kadipiro, Bantul, DIY.

Setelah tiga tahun mendapat bantuan revitalisasi museum lewat Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, akhirnya Museum Tino Sidin selesai dibenahi dan kemudian diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy pada Kamis, 14 Desember 2017, yang ditandai dengan peresmian patung Tino Sidin dan Pameran Lukisan “Tribute Tino Sidin, 92 Tahun Menginspirasi Indonesia”. Selain menteri, hadir pula Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid, Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Hary Widianto, dan insan budayawan serta permuseuman di Yogyakarta.

Koleksi pribadi Tino Sidin yang dipamerkan di museumnya. Foto: Suwandi
Koleksi pribadi Tino Sidin yang dipamerkan di museumnya. Foto: Suwandi

Muhadjir Effendy sangat kagum dan mengapresiasi kepada keluarga Tino Sidin yang mempunyai semangat tinggi untuk mewujudkan Museum Tino Sidin. Muhadjir menuliskan kekagumannya itu pada buku tamu di museum tersebut. Bahkan ia menyempatkan diri melihat video Tino Sidin yang sedang menggambar burung hantu dan ikut menggambarnya. Kemudian karyanya itu ditunjukkan kepada insan wartawan yang hadir.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menunjukkan gambarnya burung Hantu usai meresmikan patung Tino Sidin. Foto: Suwandi
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menunjukkan gambarnya burung Hantu usai meresmikan patung Tino Sidin. Foto: Suwandi

Dengan adanya Museum Tino Sidin ini, Muhadjir berharap sekarang masyarakat umum, terutama anak-anak Indonesia bisa mengenal lebih dekat dengan sosok Tino Sidin, baik lewat karya maupun peninggalan pribadinya, termasuk semangatnya untuk mencintai seni lukis.

Konten Terkait:  Kandang Ayam Project, Kegelisahan dan Kegilaan

Di Museum Tino Sidin, anak-anak yang mengunjungi tempat ini juga bisa melihat video Tino Sidin yang sedang mengajar menggambar dengan bantuan garis-garis sederhana yang kemudian membentuk hewan, benda, buah, atau gambar lainnya. Selain melihat videonya, anak-anak atau pengunjung dewasa bisa melihat kembali perjalanan hidup Tino Sidin yang lahir di Tebing Tinggi, Sumatera Utara, 25 November 1925, sempat bergerilya dan bertempat tinggal di Yogyakarta hingga ketenarannya di Jakarta.

Kesan Basuki Abdullah atas acara Gemar Menggambar Tino Sidin di TVRI Yogyakarta dan Pusat. Foto: Suwandi
Kesan Basuki Abdullah atas acara Gemar Menggambar Tino Sidin di TVRI Yogyakarta dan Pusat. Foto: Suwandi

Bukan hanya itu, karya-karya Tino Sidin juga dipajang di museum ini. Setidaknya ada 115 karya sketsa hitam putih, 35 sketsa cat air/spidol, 31 karya lukisan cat minyak/acrylic, dan lukisan cat minyak Jaka Tarub ukuran 4,75 meter x 1,5 meter.

Ada juga barang-barang pribadi, seperti topi pet, kacamata, jam tangan, KTP, baju, peci, krayon, dan lainnya. Bahkan yang menarik, masih disimpan pula amplop honor yang diperoleh Tino Sidin dari Stasiun Televisi Yogyakarta, sebesar Rp 3.100 dan kwitansi pinjaman uang dari Presiden Suharto kepada Tino Sidin untuk membangun rumah di Kadipiro ini (tempat museum), sebesar Rp 7.000.000 tertanggal 20 November 1981.

Ada pula kwitansi cicilan pengembalian sebesar Rp 2.000.000 tertanggal 23 November 1982. Menurut keterangan keluarga Tino Sidin, Panca Takariyati Sidin, akhirnya, Presiden Suharto meminta Tino Sidin untuk tidak usah mengembalikan kekurangannya dan sudah mengikhlaskan kepada Tino Sidin.

Lukisan Ombak Memecah Karang karya Tino Sidin pada tahun 1990. Foto: Suwandi
Lukisan Ombak Memecah Karang karya Tino Sidin pada tahun 1990. Foto: Suwandi

Adapun koleksi lainnya berupa buku-buku komik dan kesan dari para pelukis terkenal atas siaran “Gemar Menggambar” Tino Sidin di TVRI Yogyakarta dan Pusat. Mereka adalah Basuki Abdullah, S Sudjojono, dan Affandi. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here