Melihat Wayang Kertas Melihat Wayang Rakyat

0
483
Bentangan kelir dan wayang kertas dalam pameran di Bentara Budaya Yogyakarta. Foto: A. Sartono
Bentangan kelir dan wayang kertas dalam pameran di Bentara Budaya Yogyakarta. Foto: A. Sartono

Catatan akan hal ihwal kenusantaraan mungkin memang relatif lebih lengkap ada pada Belanda yang pernah menjajah Nusantara daripada catatan yang dimiliki orang-orang Nusantara sendiri. Bukti tentang hal itu bisa ditunjukkan misalnya dengan cukup banyaknya buku-buku, buletin atau jurnal, berita, majalah, buku pelajaran, laporan pemerintah, catatan perjalanan, catatan pribadi pejabat kolonial dan lain-lain banyak merekam tentang hal apa pun yang terdapat di Nusantara. Bahkan perihal hantu dan dunia memedi di Nusantara atau katakanlah Jawa, pihak Belanda pun memiliki catatan relatif lengkap daripada bangsa Nusantara sendiri.

Berdasarkan buku-buku lama terbitan Belanda pula Bentara Budaya Yogyakarta kemudian bisa menampilkan pameran dengan tema Wayang-wayang Kertas: Wayang Rakyat. Beberapa bahan penerbitan yang dijadikan sumber untuk pameran yang diselenggarakan mulai 15-23 Desember 2017 tersebut antara lain buku Almanak Jawi terbitan Kolf Buning dan buku-buku terbitan Balai Pustaka yang secara khusus membuat buku wayang purwa dan Majalah Kajawen terbitan tahun 1920-1942.

Adegan Dewi Sulastri naik jempana diiringi Raden Setyaki dan Raden Sucitra. Foto: A. Sartono
Adegan Dewi Sulastri naik jempana diiringi Raden Setyaki dan Raden Sucitra. Foto: A. Sartono

Dalam Almanak Jawi umumnya ditemukan cerita wayang yang disertai dengan gambar wayang yang dicetak berwarna walaupun ukurannya kecil. Buku almanak itu hanya berukuran 10 cm x 15 cm saja. Gambar-gambar tersebut mempunyai makna yang besar. Pembaca akan kecewa jika cerita wayang tersebut tidak disertai gambar wayang. Imajinasi pembaca akan sangat terbantu dengan adanya gambar-gambar wayang di dalam cerita tersebut.

Kanjeng Ratu Darawati gerah, Kyai Jigja dan Jaka Supa sami tugur. Foto: A. Sartono
Kanjeng Ratu Darawati gerah, Kyai Jigja dan Jaka Supa sami tugur. Foto: A. Sartono

Pada masa itu teknologi percetakan sangat jarang yang menggunakan cetak warna. Bahkan majalah-majalah Belanda seperti de Orient saja masih dicetak hitam putih. Hal ini menunjukkan bahwa cerita wayang tersebut dianggap penting dan dinantikan oleh pembaca. Penerbit sepertinya tidak mau kehilangan pelanggannya serta berusaha memberikan yang terbaik untuk pembacanya.

Bisa dikatakan bahwa hampir 90 persen gambar wayang yang ditemukan dalam Alamanak Jawi dan buku terbitan Balai Pustaka antara tahun 1920-1942 tersebut tidak tertera nama seniman pembuatnya (anonim). Hanya ada beberapa nama saja yang dapat ditemukan, seperti Surawi yang tertera pada gambar wayang terbitan Kolf Buning dan R Sulandri untuk terbitan Balai Pustaka di masa penjajahan Belanda.

Salah satu adegan dalam lakon Niwata Kawaca. Foto: A. Sartono
Salah satu adegan dalam lakon Niwata Kawaca. Foto: A. Sartono

Pameran Wayang-wayang Kertas ini sengaja menampilkan adegan dan jejeran/pisowanan dalam cerita wayang purwa. Pada adegan seperti itu tampak raja atau ratu di sebelah kanan disertai dengan keparak atau keluarga raja dan pada sebelah kiri berjejer para tamu yang sedang sowan (menghadap) raja. Hampir 70 persen dari adegan itu didapatkan dari buku almanak, sedangkan adegan peperangan lebih banyak didapatkan dari buku terbitan Balai Pustaka. Demikian kuratorial Hermanu atas pameran ini.

Yaksa Prabu Goramantya ing negari Ngendrapura supena dhaup kalayan Dewi Utari putra nata ing negari Wiratha. Foto: A. Sartono
Yaksa Prabu Goramantya ing negari Ngendrapura supena dhaup kalayan Dewi Utari putra nata ing negari Wiratha. Foto: A. Sartono

Sebenarnya wayang-wayang kertas yang dipamerkan ini adalah wayang rakyat karena umumnya masyarakat Jawa pada masa itu paham dan mengerti tentang cerita wayang serta hafal betul dengan sosok-sosok tokoh wayang yang digambarkan walaupun gambar tersebut ditampilkan dalam bentuk yang sangat sederhana. Hal ini tentu saja berbeda dengan wayang kulit yang sebenarnya dimana wayang kulit dibuat jauh lebih rumit dan membutuhkan tingkat ketelitian yang sangat tinggi. Jika pembuatan wayang kulit membutuhkan waktu berminggu-minggu, maka wayang kertas dapat dibuat dalam waktu sehari atau bahkan beberapa jam saja. Sekalipun demikian, esensi wayang kertas tidak kalah dengan wayang buatan para seniman wayang kulit yang hasil karyanya disebut adiluhung itu. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here