Memilih Tempat Menikmati Sastra Bulan Purnama Tembi

0
236
Danarto dan Landung Simatupang di Sastra Bulan Purnama. Foto: Dok Tembi
Danarto dan Landung Simatupang di Sastra Bulan Purnama. Foto: Dok Tembi

Sastra Bulan Purnama yang diselenggarakan Tembi Rumah Budaya, yan di bulan Desember 2017 sudah memasuki edisi ke-75, dihadiri berbagai generasi yang datang dari sejumlah kota, dan kebanyakan dari Yogya. Pada edisi ke-75, yang diselenggarakan pada Jumat 8 Desember 2017, dihadiri 33 mahasiswa dari UNESA Surabaya yang datang dengan menggunakan satu bus. Mahasiswa Unesa, yang dibawa oleh Riri Rengganis, dosennya, bukan kali pertama datang. Beberapa tahun lalu Riri juga pernah membawa satu bus mahasiswanya menikmati, bahkan ikut membaca di Sastra Bulan Purnama.

Sastra Bulan Purnama di Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantul, Yogyakarta, sering diselenggarakan di ruang terbuka di amphiteater terutama kalau bulan purnama cerah. Jika musim penghujan tiba, Sastra Bulan Purnama, yang sering disingkat SBP diselenggarakan di pendapa, keduanya di kompleks Tembi Rumah Budaya.

Selain menikmati pembacaan puisi, musikalisasi puisi, lagu puisi bahkan dramatisasi puisi, hadirin dipersilakan mengambil tempat yang disukai. Apabila SBP diselenggarakan di pendapa bisa mengambil kursi yang tersedia, atau mengambil tempat lain sambil berdiri seraya berbincang dengan temannya, atau berdiri di tepi pendapa, atau duduk di angkringan.

Danarto misalnya, seorang sastrawan yang tinggal di Jakarta, yang kebetulan masih berada di Yogyakarta, pada SBP edisi ke-75, menyempatkan diri hadir dan duduk agak memojok ditemani Landung Simatupang, aktor dan penyair dari Yogya, yang memang sudah kenal lama dengan Danarto.

Krishna Miharja dan Iman Budhi Santosa dua penyair Yogya di antara hadirin lainnya. Foto: Dok Tembi
Krishna Miharja dan Iman Budhi Santosa dua penyair Yogya di antara hadirin lainnya. Foto: Dok Tembi

Pagi hari sebelum SBP, Eka Budianta, penyair dari Jakarta sempat mampir di Tembi Rumah Budaya, dan ketika diberi tahu bahwa malam hari nanti ada Sastra Bulan Purnama, dia ingin hadir kalau acara seminarnya selesai lebih cepat.

Jika SBP diselenggarakan di ruang terbuka hadirin bisa mengambil tempat lebih bebas. Ada yang mengambil tempat samping timur panggung terbuka sambil duduk di atas kursi di atas rumput. Namun kebanyakan mengambil duduk di tengah.

Konten Terkait:  Kartun Mas Bekel

Ada juga yang berdiri di tangga naik pintu masuk panggung terbuka, lantaran tempat duduk sudah penuh. Atau duduk sambil menikmati angkringan dan bakmi jawa sambil mendengarkan pembacaan puisi.

Susilo Nugroho berbincang dengan Agus Leylor dan seorang temannya. Foto: Dok Tembi
Susilo Nugroho berbincang dengan Agus Leylor dan seorang temannya. Foto: Dok Tembi

Pilihan untuk mengambil tempat duduk sesuai area yang disenangi seringkali dilakukan oleh para hadirin. Jika acara diselenggarakan di pendapa, dan hujan tidak turun, ada penoton yang memilih duduk di atas lesung yang terletak di depan pendapa dan diletakkan di atas rumput.

Selain itu, ada yang memilih berdiri di dekat parkiran atau berdiri di belakang kursi yang sudah disediakan di pendApa. Karena kursi sudah penuh, sehingga tak ada pilihan lain kecuali berdiri, atau ada yang duduk di pinggir lantai pendapa di sebelah timur atau barat.

Melalui puisi di SBP masing-masing saling bersapa dan menjalin persahabatan, atau menguatkan persahabatan jika sebelumnya sudah saling kenal. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here