UGM Menjawab Persoalan Bangsa Melalui Pameran Seni Rupa

0
265

Spontanitas serta kejujuran terhadap diri sendiri mestilah tetap menjadi pegangan pokok seorang sarjana dan seniman. Juga apabila dia harus memenangkan satu revolusi sekalipun! Revolusi bukan dimenangkan oleh robot, tetapi oleh manusia. Demikian salah satu pendapat dari budayawan kawakan, almarhum Umar Kayam. Almarhum Koesnadi Hardjasoemantri pun pernah menyampaikan gagasan senada dengan apa yang disampaikan Umar Kayam, sebagai berikut,”Hendaknya Universitas Gadjah Mada (UGM) tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu, namun juga bisa menjadi pengembang dan pelestari kebudayaan. Melalui kebudayaan diharapkan sisi-sisi humanisme mahasiswa akan dibangkitkan sehingga tidak menjadi robot-robot pengetahuan dan teknologi.”

Gagasan besar dari dua tokoh besar itu menekankan pada sisi pentingnya manusia yang dapat memanusiakan manusia. Manusia boleh menguasai teknologi dan mengembangkan kecerdasan serta keterampilannya setinggi langit, namun sejauh ia kehilangan sifat dan sikap humanismenya, ia ibarat robot. Manusia tanpa tanpa ruh. Untuk hal yang demikian itu PKKH (Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri) UGM menyelenggarakan pameran senirupa yang diberi tajuk Membongkar Bingkai Membuka Sekat. Pameran diselengarakan mulai 11-16 Desember 2017. Seluruh karya rupa merupakan karya dari dosen, alumni, dan karyawan UGM. Partisipan dalam kegiatan ini ada 23 orang.

United, AOC, 100 x 120 cm, karya Sriyadi Srinthil Jurusan Filsafat 1987. Foto: A. Sartono
United, AOC, 100 x 120 cm, karya Sriyadi Srinthil Jurusan Filsafat 1987. Foto: A. Sartono

Membongkar Bingkai Membuka Sekat adalah ungkapan, harapan, sekaligus upaya untuk keluar dari bingkai dan pengotak-kotakan diri yang menggunung sehingga tidak mampu melihat, mengapresiasi, dan menerima diri dari orang lain yang berbeda. Sekat dan bingkai dalam kerangka ini seperti sebuah batok yang mengurung katak di dalamnya sehingga tidak mengerti ada dunia lain yang jauh lebih luas, indah, dan mensejahterakan. Dunia lain itu bukan tanpa persoalan. Namun persoalan itu menjadi titik temu atau muara yang harus dipecahkan bersama dengan sikap dan tindakan humanis dan atau berkeadaban berlandaskan pluralitas.

Konten Terkait:  Catatan Visual Kreatif Petualangan Besar Munir Kahar dalam Imaginary Voyage

Pada tingkat masyarakat sipil terdapat para agen yang juga berperan aktif menyelesaikan masalah di sekitarnya melalui metode alternatif berlandaskan pluralitas. Menuju nilai-nilai pluralisme tidak hanya berhenti pada pokok toleransi, ia harus bergerak menyeberangi bahkan harus membongkar segala bingkai dan sekat (crossing the border). Dalam semangat itulah pameran tersebut dibuat dengan harapan dapat mencari (menampilkan) para agen yang tengah dan terus mencairkan sekat-sekat itu melalui kerja-kerja kesasteraan, kesenian, dan kebudayaan. Dengan demikian memungkinkan terjadinya dialog-dialog yang antardisiplin secara egaliter.

WC Umum (2), mixed media, 40 x 45 x 100 cm, 2009, karya Sahanudin Hamzah, Jurusan Filsafat 1989. Foto: A. Sartono
WC Umum (2), mixed media, 40 x 45 x 100 cm, 2009, karya Sahanudin Hamzah, Jurusan Filsafat 1989. Foto: A. Sartono

Tema di atas dipilih untuk mengajak kita semua supaya keluar dari paradigma dan pembatasan yang berlaku secara umum melalui seni sebagai salah satu medium alternatif. Dari titik inilah UGM yang dikenal sebagai lembaga formal mencoba memberikan kontribusi tidak hanya melalui ilmu pengetahuan saja, tetapi juga melalui medium kesenian untuk menjawab masalah-masalah bangsa. Dalam konteks itu menjadi menarik ketika para akademisi berpraktik seni untuk membangun jembatan komunikasi sekaligus crossing the border itu sendiri.

UGM berusaha menjadi agen inklusif dari Indonesia untuk melawan homogenitas, fanatisme, dan radikalisme. Membuka Bingkai Membuka Sekat Hadir sebagai turunan dari Dies Natalis, Bersama UGM Bela Bangsa dan Negara dalam bentuk kegiatan pameran senirupa yang memiliki potensi besar menampilkan kontribusi akademisi UGM dalam menjawab permasalah bangsa melalui media kreatif.
(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here