Puisi Bening dan Wangi dalam Sastra Bulan Purnama Ke-75

1
344
Christine Francesa
Christine Francesa

Penampilan Christine Francesca, yang menyanyikan puisi karyanya menututup pertunjukan Sastra Bulan Purnanama edisi ke-75, yang diselenggarakan Jumat 8 Desember 2017 di Pendapa Tembi Rumah Budaya. Penampilan Christine memang menarik, iringan musiknya menghidupkan lagu puisi yang dibawakannya.

Menutup akhir tahun 2017, Sastra Bulan Purnama yang diselenggarakan Tembi Rumah Budaya, dan sudah memasuki edisi ke-75 menampilkan 33 perempuan penyair dari berbagai kota dengan meluncurkan satu antologi puisi bersama yang berjudul ‘Perempuan di Ujung Senja,’ yang diterbitkan Tonggak Pustaka, Yogyakarta.

Yuliani Kumudaswari
Yuliani Kumudaswari

Dari 33 perempuan 6 di antara berhalangan hadir. Mereka datang dari kota-kota yang berbeda, Jakarta, Bandung, Temanggung, Surabaya, Sidoarjo, Sragen, Semarang Yogyakarta, dan Pekalongan. Mereka mengirimkan 5 puisi yang 3 di antaranya diterbitkan dalam satu antologi bersama.

Beberapa di antara dari 33 perempuan penyair sudah kerap kali tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama. Mmereka sudah ada yang saling kenal, dan ada yang baru bertemu dalam peluncuran antologi puisi bersama, tetapi melalui media sosial mereka sudah saling kenal, sehingga masing-masing saling memberi komentar untuk bisa bertemu di Tembi Rumah Budaya dalam acara Sastra Bulan Purnama.

Karena Sastra Bulan Purnama menampilkan perempuan, yang kebanyakan mengenakan kebaya, sehingga SBP ke-75, yang jatuh bulan Desember 2017 seperti terasa wangi dan bening. Para penampil memang semuanya bening-bening. Jadi, Sastra Bulan Purnama edisi ke-75 penuh wewangian dan bening. Anggap saja nuansa bening menggantikan langit yang kelabu tertutup mendung, dan bulan sudah tidak lagi tampak.

Dini Rahmawati
Dini Rahmawati

Di antara bening dan wangi, gerimis di luar tipis, namun hanya sebentar sehingga tidak mengganggu hadirin, yang malam itu memenuhi ruang depan, tidak hanya di kursi yang disediakan di pendapa, tetapi memenuhi kursi di angkringan dan berdiri di sekitar pendapa. Sejuk angin seolah tidak terasa dingin, karena cukup banyaknya hadirin.

Karena yang tampil membaca puisi cukup banyak, sehingga pertunjukan tidak menampilkan penyair satu per satu secara bergantian, melainkan ditampilkan dalam satu kelompok. Bahkan kelompok dari Temanggung yang jumlahnya 7 orang tampil bersama dan secara bergantian masing-masing tampil membacakan puisi karyanya.

Bahkan, sebelum kelompok Temanggung tampil membaca puisi, salah seorang di antaranya, Nella Widodo namanya, tampil mengalunkan lagu puisi yang diiringi gesekan biola oleh Doni Onfire. Lainnya, seperti Dini Rahmawati, Selsa, Ika Permatahati, Henny Prayoga, Tri Rahayu dan Umi Prihwanti membacakan puisi karyanya.
Selain pembacaan puisi, tidak ketinggalan, Doni Onfire bersama kelompoknya mengolah puisi karya Julia Utami dan Ristia Herdiana menjadi lagu. Doni, yang spesialis menggesek biola, dan sudah berulang tampil di Sastra Bulan Purnama, mengolah puisi karya sejumlah penyair.

“Saya selalu ingin kembali dan kembali di Tembi untuk puisi,” kata Selsa penyair dari Temanggung dan sudah beberapa kali tampil di Sastra Bulan Purnama.

Hal yang sama juga dialami oleh Heti Palestina dari Surabaya, ingin kembali di Tembi untuk puisi. Maka, Heti dan empat perempuan lainnya yang tampil bersama di Sastra Bulan Purnama edisi ke-75, seperti Yuliani Kumudaswari (Sidoarjo), Ristia Herdiana (Jakarta) dan Novi Indrastuti (Yogya) akan mempersiapkan antologi puisi tunggal yang akan diluncurkan pada bulan Juli 2018 di Sastra Bulan Purnama. Mari kita suport semangatnya.(*)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here