Puisi Budhi Setyawan

0
688

Kita Sepasang

kita adalah sepasang rindu
yang belajar menyusun cinta
untuk terus bersama di segala waktu

kita adalah sepasang gairah
yang bekerja menyusun nyala
untuk terus bersama dalam satu sejarah

kita adalah sepasang asa
yang berdoa menyusun makna
untuk terus bersama sampai habis semesta

Bekasi, 2017

Mencari Sunyi

pada berbagai tapisan waktu
aku kehilangan sunyi berkali kali
dicuri oleh pendar lampu kota
dan gema mesin mesin yang mengirimkan sinyal
percepatan persepsi ke dalam tubuh
mengunjungi labirin labirin kosong
yang terus mengelupasi ingatan
tentang kesediaan juga kesetiaan
akan pengakuan yang hidup dan menghidupi
sebelum kala kelahiran

entah telah berapa banyak putaran episode
bermacam nyanyian dan tarian baru meringkusku
ke dalam ruang perburuan yang panjang
ke pucuk jengah dan keasingan
geliat rontaku tak juga melepas diri
dari jerat jala yang dilemparkan gelisah abad
yang menyekap

memandang pergantian cuaca menuju renta
di sela dan jeda jarak hari yang berlesatan
mengapung tanya di dalam kepala:
engkau ini siapa, dari mana berasal
dan hendak ke mana
kecemasan berkerumun seperti gerombolan semut
menemukan tumpahan gula di meja makan
semakin merubung minta jawaban
dalam diam, kuraba arah kiblat penempuhan
yang memijar sebagai ayat ayat
menerangi waktu yang piatu

Bekasi, 2017

Melihat Mula Kepakmu

dari tempatku berdiri di sini
di bawah ranting pohon yang julurkan usap
kulihat engkau tengah bersiap
berkemas untuk menempuh petualangan
yang bernama sejarah diri

kau telah menata bulu bulu sayapmu
dalam putaran musim musim yang menggelisahkan
tentang bentang arah di depan
serta tiupan angin yang sulit diterka

mimpi atau ilusi
memenuhi anganmu yang terus melejit
ke tingkap langit yang kerap kaubayangkan
sebagai taman taman
seperti pada cerita dongeng atau film kartun masa lalu
yang mengitari kepalamu di malam sepi itu

kulihat mula kepakmu mulai mengembang
dan engkau akan terbang menyusuri
lapis lapis kenyataan yang tentu akan kirimkan
debaran dan ketakjuban
bahkan melampaui apa yang kau reka
dalam lamunanmu sebelumnya

sementara aku masih di sini memandangmu
pembuluh darahku dijejali adukan rasa
gembira dan haru
barangkali tanganku akan gegap melambai
atau malah terkulai
serupa pelepah pisang kering dan terjuntai

tetapi aku memang tak bisa bersabar
untuk menunggu kabar keberadaanmu
maka biarkan aku diam diam mengikutimu
lewat doa keselamatan yang kuusapi rintik rindu

Konten Terkait:  Puisi Alfa Amorrista

Tangerang Selatan, 2017

Arus Suara Dini Hari

televisi di ruang tengah masih menyala
anjing tetangga menyalak
sementara malam telah lelah dan tiduran di lantai
tak mau di ranjang, dan tak mau memakai kasur
lebih nyaman dengan tikar pandan, katanya
karena lebih terasa kesabaran nenek yang menganyam
lembar irisan daun pandan yang menjelujur kait
seperti ada geliat kata dan rahasia himpunan bait
yang menyusun arus dengan kelopak ingin
pada ranah musim dingin

tak hilang ataupun lupa
masih ada suara yang lirih bertanya
dan terus meminta jawaban segera
seperti lagu yang diulang ulang
dengan syair yang sama:
engkau ini siapa
engkau ada di mana
hingga selalu membiak gema, memenuhi udara
menjadi aroma hamburkan kesepian lama
begitu piatu, cemas cemas membatu
mematung seperti tugu

kata kata berlarian terbirit
ke dalam anyaman kekosongan
bukankah pertanyaan pertanyaan itu tak butuh jawaban
atau mereka sudah membawa jawaban
atau semacam tafsir yang menyusupkan desir
hingga sepi menjadi jalan bagi arus percakapan
atau pertentangan yang menanam
sejumlah pengakuan pengakuan
bahwa yang ada hanya sekarang dan di sini
selain itu mimpi
selain itu mimpi

Jakarta, 2017

Menonton Pantomim

mataku bersikeras menolak peran sebagai telinga
untuk menadah dan menyerap setiap gerak
pencerita bisu dengan wajah seputih susu
yang menerbitkan galak mata, gelak bibir
dan golak raut muka
serta kai dan tangan
memainkan perubahan cuaca di tubuhnya

ada jarak lebar
seperti dua kota terpisah
hanya kuulurkan tafsir
bergantian tersendat dan mengalir
sosok dan nama yang jauh
dikerubut keluh

segala bahasa selalu menyisakan rahasia
di tiap tingkap jangkau
mengerlipkan kilau pukau

hampir tengah malam
mataku hendak pejam
namun tiba tiba dari telinga terlontar suara:
sebelum lelap aku ingin kauusapkan cerita
masihkan kausimpan arsip gerak gerik dan mimik
pelaku sepi di panggung tadi?

Bekasi, 2017

Budhi Setyawan, atau akrab dipanggil Buset, lahir di Purworejo 9 Agustus. Buku puisi terbarunya Sajak Sajak Sunyi (2017). Puisi-puisinya sebagian termuat di beberapa media dan buku antologi bersama. Mengelola blog pribadi https://budhisetyawan.wordpress.com dan alamat email di: [email protected] No hp. 0812-2680-7247. Saat ini tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here