Grebeg Dal, Grebeg Delapan Tahunan yang Istimewa

0
65
Gunungan Bromo atau Kutug dibawa keluar dari Masjid Gedhe Kauman untuk diperebutkan di dalam Keraton Yogyakarta. Foto: A. Sartono
Gunungan Bromo atau Kutug dibawa keluar dari Masjid Gedhe Kauman untuk diperebutkan di dalam Keraton Yogyakarta. Foto: A. Sartono

Ada sesuatu yang berbeda dalam perayaan Grebeg Mulud Keraton Yogyakarta pada hari Jumat, tanggal 1 Desember 2017 dibandingkan dengan perayaan grebeg sebelumnya. Perbedaan itu tampak dengan munculnya Gunungan Bromo yang hanya dimunculkan setiap delapan tahun sekali. Siklus delapan tahunan (windu) menurut perhitungan tahun Jawa ini jatuh pada Tahun Dal.

Khusus untuk Grebeg Maulid di tahun Dal memang diadakan secara lebih istimewa. Bahkan pelaksanaan penempatan gunungan di halaman Masjid Gedhe Kauman juga tampak lebih tertata karena penonton diwajibkan jauh jaraknya dari semua gunungan. Prajurit pengawal gunungan pun dapat berbaris masuk ke halaman masjid dengan lebih leluasa daripada grebeg-grebeg sebelumnya. Dalam kesempatan ini pula Manggalayuda prajurit Keraton Yogyakarta, yakni GBPH Yudhaningrat pun dapat melaksanakan upacara keprajuritan di halaman tersebut dengan leluasa dan nyaman tanpa diganggu desakan dan kerumunan penonton.

Gunungan Bromo gunungan yang hanya dikeluarkan di Grebeg Tahun Dal. Foto: A. Sartono
Gunungan Bromo gunungan yang hanya dikeluarkan di Grebeg Tahun Dal. Foto: A. Sartono

Gunungan Bromo adalah gunungan yang khusus diadakan dalam Grebeg Sekaten di Tahun Dal. Gunungan ini tampak selalu mengeluarkan asap karena di dalamnya diisi anglo dengan bara arang yang dibubuhi kemenyan dan juga sambuk kelapa. Jadi, dalam bayangan imajinatif tampak seperti gunung berapi yang aktif mengeluarkan asapnya. Oleh karena itu gunungan ini juga dinamakan juga Gunungan Kutug. Kutug dapat dimaknai sebagai asap atau api pembakaran.

Gunungan Bromo ini sekalipun diikutkan dalam perarakan atau kirab gunungan dari Keraton hingga Masjid Gedhe Kauman, namun tidak diperebutkan untuk umum. Gunungan Bromo hanya transit di Gapura di depan Masjid Kauman dan setelah didoakan diarak kembali ke Keraton dan diperebutkan oleh kerabat Keraton Yogyakarta di halaman Gedhong Purwaretna. Total gunungan yang dikirab dan diperebutkan dalam acara Grebeg Maulud tahun Dal kali ini adalah tujuh buah. Ada pun rinciannya adalah dua buah Gunungan Lanang, satu Gunungan Wadon, satu Gunungan Darat, satu Gunungan Pawuhan, satu Gunungan Gepak, dan satu Gunungan Bromo.

Kecuali Gunungan Bromo yang hanya muncul sekali dalam delapan tahun sebagai salah satu tanda keistimewaannya, Grebeg Mulud Tahun Dal ini juga dirangkai dengan acara lainnya seperti Numplak Wajik, Mbusanani Pusaka, Bethak, Jejak Beteng (bata), Kondur Gangsa, Pisowanan Garebeg, Kondur Gunungan Bromo, dan Bedhol Songsong.

Beberapa gunungan siap diperebutkan di halaman Masjid Gedhe Kauman. Foto: A. Sartono
Beberapa gunungan siap diperebutkan di halaman Masjid Gedhe Kauman. Foto: A. Sartono

Numplak Wajik merupakan upacara untuk memulai membuat gunungan. Numplak Wajik dilaksanakan hari Selasa, 28 November 2017, bertempat di Panti Pareden, Kemagangan, Keraton Yogyakarta. Acara ini dimulai dengan gejok lesung oleh para Abdi Dalem Kanca Abang. Upacara dipimpin oleh GKR Mangkubumi. Usai doa bersama wajik ditumplak (ditumpahkan) ke dasar Gunungan Wadon sebagai awalan membuat gunungan. Gunungan kemudian dibusanani (diberi pakaian). Upacara ini diakhiri dengan membagikan singgul kepada semua yang hadir sebagai simbol tolak bala.

GBPH Yudhaningrat memimpin Upacara Grebeg di halaman Masjid Gedhe Kauman. Foto: A. Sartono
GBPH Yudhaningrat memimpin Upacara Grebeg di halaman Masjid Gedhe Kauman. Foto: A. Sartono

Prosesi lainnya adalah Pisowanan Muludan/ Pisowanan Malam Garebeg di Masjid Gedhe Kauman pada tanggal 30 November 2017, pada pukul 20.00 WIB. Acara dilanjutkan dengan Upacara Jejak Beteng pada pukul 23.00 WIB, yang dilakukan di Butulan, Jl. Kauman. Usai itu acara dilanjutkan dengan Kondur Gangsa pada pukul 24.00 WIB.

Ada pun pelaksanaan acara Mbusanani Pusaka atau memberi pakain pada pusaka dilaksanakan di Kagungan Dalem Gedhong Jene. Pada acara ini ada beberapa pusaka Keraton Kasultanan Yogyakarta dikeluarkan dari gedhong pusaka dan diberi “pakaian” baru. Pelaksanaan mbusanani pusaka dilaksanakan pada hari Kamis, 11 Mulud Tahun Dal 1951 (30 November 2017) pada pukul 09.00 WIB. KPH Wironegoro selaku Mantu Dalem bertindak sebagai pemimpin dalam acara ini.

Sedangkan acara Bethak dilaksanakan di Kagungan Dalem Bangsal Sekar Kedhaton. Prosesi dipimpin oleh Permaisuri Dalem, GKR Hemas. Acara tersebut dilaksanakan tanggal 12 Mulud Tahun Dal 1951 (30 November 2017). Pada acara ini saat selepas maghrib Sultan Hamengku Buwana X menyerahkan pusaka berupa kendhil (periuk) yang bernama Kanjeng Nyai Mrica dan Kanjeng Nyai Blawong. Alat-alat ini digunakan untuk menanak nasi sebanyak tujuh kali bersama dengan sentana dalem putri. Nasi ini kemudian diserahkan kepada Sultan Hamengku Buwana X pada keesokan harinya sebagai tanda dimulainya Upacara Grebeg Mulud Tahun Dal.

Suasana perebutan gunungan Grebeg Tahun Dal 2017 di halaman Masjid Gedhe Kauman. Foto: A. Sartono
Suasana perebutan gunungan Grebeg Tahun Dal 2017 di halaman Masjid Gedhe Kauman. Foto: A. Sartono

Grebeg Tahun Dal kali ini memang sudah sangat dinanti-nantikan oleh masyarakat. Terbukti rombongan dari luar kota seperti Temanggung, Magelang, Wonosobo, Klaten, Purworejo, dan lain-lain sudah pada berdatangan ke kawasan Masjid Gedhe Kauman sehari sebelumnya. Mereka menginap di sekitar tempat itu agar dapat menyaksikan pelaksanan Upacar Grebeg sekaligus ikut berebut ubarampe gunungan sebagai simbol sedekah/kemurahan raja (Sultan) kepada masyarakat sekaligus simbol manunggaling kawula-gusti. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR