Tato, Seni Rajah Tubuh yang Menuai Pro Dan Kontra

0
35

Tato merupakan bagian dari body painting yaitu suatu kegiatan menggambar pada kulit tubuh dengan menggunakan alat sejenis jarum atau benda lain yang dipertajam. Kulit yang sengaja dilukai tersebut kemudian diberi zat warna, sesuai warna yang diinginkan. Tato merupakan salah satu cara manusia mengekspresikan diri. Tato ada sejak zaman kuno dan terdapat hampir di seluruh dunia.

Pada umumnya, tato tradisional menggunakan alat pahat atau tulang binatang (gading, tulang ikan) yang dipertajam bagian ujungnya. Ketika dilakukan penatoan, tatois (ahli tato) memegang alat pahat pada satu tangan sedang tangan yang lain memegang martil pemukul. Desain tato tradisional rata-rata berbentuk garis dan titik berwarna hitam yang terajah dalam tubuh recipien (orang yang ditato) dan mengandung nilai ritual.

Tato pada masyarakat tradisional mempunyai empat motivasi atau stimulus. Pertama, untuk kamuflase selama masa perburuan. Dalam perkembangannya, tato merupakan lambang prestasi dan binatang buruan yang diperoleh. Obyek perburuan kemudian beralih kepada manusia (misal tradisi memenggal kepala musuh), dan tato merupakan simbol keberanian. Kedua, perintah religius yang diyakinkan dengan iming-iming surga atau dikatakan merupakan perintah Yang Maha Kuasa. Dalam hal ini tato (termasuk pemotongan anggota tubuh seperti jari dan telinga) merupakan simbol kesetiaan. Ketiga, tato sebagai inisiasi dalam masa-masa krisis dan tahap kehidupan dari anak-anak ke remaja, dari gadis ke perempuan dewasa, perempuan dewasa ke ibu. Dalam hal ini tato juga dianggap mampu mengatasi masa-masa sakit dan duka. Keempat, tato dianggap sebagai jimat mujarab, simbol kesuburan dan kekuatan dalam melawan berbagai penyakit, kecelakaan, bencana alam dan gangguan setan.

Dalam kebudayaan tradisional tato pada dasarnya mempunyai beberapa kemiripan tujuan. Yakni memikat lawan jenis, penangkal kekuatan jahat, petunjuk status seseorang, bentuk puberitas ke masa kedewasaan, hingga tanda kesetiaan pada komunitas. Hal ini menunjukkan bahwa manusia ternyata mempunyai stimulus dan dorongan yang sama meskipun cuaca, iklim dan kebudayaan yang dimiliki berbeda.

Tato yang pada awalnya merupakan kebudayaan yang eksis di wilayah masing-masing kemudian menyebar ke seluruh dunia. Lantas diadopsi menjadi pertanda budaya tanding oleh komunitas-komunitas subkultur, dan selanjutnya dicaplok oleh mesin konsumerisme menjadi bagian dari budaya pop global. Dalam perkembangannya yang terakhir tersebut, tato cenderung dimaknai tak lebih dari sekadar fesyen (fashion). Prakteknya lebih digerakkan oleh uang dan gaya hidup daripada identitas kolektif, semangat perlawanan atau spiritualitas dan ideologi yang pernah menjiwai praktek dan pemaknaan tato sebelumnya.

Tato banyak menuai pro dan kontra. Di satu sisi dikagumi dan menjadi fenomena menarik tetapi di sisi lain dianggap sebagai gambaran kengerian dan bagian dari dosa. Agama melarang tato, tato juga pernah dipakai sebagai bentuk hukuman bagi para pelaku kriminal (sehingga orang bertato yang sesungguhnya bukan pelaku kriminal ikut kena getahnya). Akibatnya tato mendapat stigma buruk di mata masyarakat. Selain membahas pro dan kontra tentang tato, penulis buku ini juga membahas tato yang ada di berbagai belahan bumi, perkembangan tato meliputi bentuk atau gambar tato, komunitas pemakai serta alat dan bahan yang digunakan.

Judul : Tato
Penulis : Hatib Abdul Kadir Olong
Penerbit : LKiS, 2006, Yogyakarta
Bahasa : Indonesia
Jumlah halaman : xxxix + 367

TINGGALKAN KOMENTAR