The Kite, Pameran Layang-layang dalam Persepsi Kexin Zhang

0
41
The kite, Lasem, Indonesia No.4, Photo 1 of 8 Edition, 50 x 75 cm, 2017, Kexin Zhang. Foto: A.Sartono
The kite, Lasem, Indonesia No.4, Photo 1 of 8 Edition, 50 x 75 cm, 2017, Kexin Zhang. Foto: A.Sartono

Seorang perupa dari China yang bernama Kexin Zhang mencoba menelurusi kembali rute Laksamana Cheng Ho ketika ia berlayar dalam rangka muhibah dari China ke berbagai negara dan bangsa di “selatan”. Thailand, Malaka, dan Indonesia atau Nusantara kala itu menjadi momentum perjumpaan Cheng Ho dengan bangsa-bangsa di wilayah tersebut. Perjalanan itu juga menjadi momen historis perjumpaan China dan Jawa, Muslim-Budhis, dan berbagai suku bangsa dengan berbagai latar belakang religi maupun sosial budayanya. Hal demikian itu terus berlanjut hingga kini secara diam dan senyap. Perjumpaan semacam itu menghasilkan budaya harmoni yang kokoh.

Kexin yang juga mengalami momen-momen perjumpaan yang indah ini kemudian menuangkannya ke dalam bentuk performance, lukisan, foto, video, dan karya instalasi. Ada pun media yang dipilihnya adalah layang-layang. Ia merancang busana layang-layang dengan berbagai bentuk, yakni bentuk kupu-kupu, burung, dan naga. Busana layang-layang yang dirancangnya itu kemudian dilukisnya dengan menggunakan tinta dan akrilik tentang sosok-sosok orang/tokoh, bangunan-bangunan, peristiwa-peristiwa, anggota keluarga dan karyanya, idea atau gagasan, imajinasi, dan lain-lain. Pada karya-karyanya itu ia menyuguhkan jejak-jejak perjumpaan China-Jawa, Muslim-Budhis, dan lain-lain. Layang-layang yang dipakainya sebagai media bagi semua gagasan atau ide-idenya itu oleh Kexin disebutnya sebagai “museum bergerak Kexin Zhang.”

New Bird Style Kite, Ink on Fabric 1, Dimension Varied 1, 2017, Kexin Zhang. Foto: A. Sartono
New Bird Style Kite, Ink on Fabric 1, Dimension Varied 1, 2017, Kexin Zhang. Foto: A. Sartono

Apa yang disebutnya sebagai museum bergerak itu menunjukkan tentang jejak rekam rute atau perjalanan Laksamana Cheng Ho di masa lalu yang ia hadirkan kembali di masa kini yang tentu dalam persepsi dan sejauh-jauh tangkapan Kexin atas peristiwa bersejarah itu. Kata atau istilah bergerak yang diterapkannya untuk menamai museumnya menekankan pada sisi “dinamis” museumnya yang pada sisi ini tidak terlalu tergantung pada tapak atau tempat berdirinya. Museum Kexin bebas menempati ruang dan waktu kapan pun dan dimana pun. Pada sisi-sisi itulah mungkin Kexin ingin menunjukkan tentang perjumpaan-perjumpaan dalam perbedaan di masa lalu yang sama elok dan indahnya dengan perjumpaan-perjumpaan di masa kini, yang padanya kita semua dikokohkan dalam apa yang disebut sebagai toleransi.

Indelible Memory, VDO, Installation 1, 2017, Kexin Zhang. Foto: A. Sartono
Indelible Memory, VDO, Installation 1, 2017, Kexin Zhang. Foto: A. Sartono

Kexin mengenakan pakaian layang-layang di tempat-tempat historis dalam performance-nya. Secara spontan pula ia meminta pada orang-orang sekitar yang dijumpainya dalam performance itu untuk memegangi tali layang-layangnya. Dengan demikian seolah-olah layang-layang Kexin diterbangkan oleh orang yang dijumpainya dan memegangi talinya itu. Di sinilah Kexin seolah terbang dan melayang bebas di angkasa.

The Kite, The Mobile Flying Museum, Kexin Zhang. Foto: A.Sartono
The Kite, The Mobile Flying Museum, Kexin Zhang. Foto: A.Sartono

Sekalipun demikian sesungguhnya Kexin yang menjadi layang-layang itu tidak bebas sepenuhnya karena ia masih dikendalikan oleh orang yang memegangi tali layang-layangnya. Pada sisi ini layang-layang adalah metafora untuk keindahan dan kebebasan sekaligus ketegangan sebuah relasi. Demikian pameran senirupa yang dilakukan Kexin Zhang di Langgeng Art Space, Suryodiningratan, Yogyakarta mulai tanggal 31 Oktober-10 Desember 2017. Pameran ini dikuratori oleh Arahmaiani dan Hairus Salim. (*)

The Kite, Cheng Hoon Teng Temple, Malacca, Malaysia, 50 x 75 cm, 2017, Kexin Zhang. Foto: A.Sartono
The Kite, Cheng Hoon Teng Temple, Malacca, Malaysia, 50 x 75 cm, 2017, Kexin Zhang. Foto: A.Sartono

TINGGALKAN KOMENTAR