Octo Cornelius Menyikapi Keacakan Hidup

0
50
Octo Cornelius - Ziarah' - Foto Barata
Octo Cornelius - Ziarah' - Foto Barata

Apakah hidup ini acak dan tidak bisa ditebak? Pertanyaan ini mengganggu pikiran seniman kriya Octo Cornelius. Frasa ‘random life’ terus mengusik benaknya. Akhirnya ia mengajak diskusi temannya, Budi ND Dharmawan. Dari rangkaian diskusi itu, lahirlah ide dan konsepnya untuk menghasilkan karya yang merepresentasikan sikapnya terhadap keacakan hidup.

Octo mengungkapkan, dari obrolan dengan Budi, ia mempunyai ide tentang ‘random life’. Dianggap temanya terlalu besar, akhirnya penerjemahannya dikecilkan lagi, sehingga jadilah frasa ‘unpredictable scenes’. “Karya-karyaku seperti adegan yang di-pause, adegan yang tidak pernah disangka,” jelas Octo.

Karya-karya Octo kemudian dipamerkan dengan tajuk ‘Unpredictable Scenes’ di Jogja Contemporary hingga akhir Oktober lalu. Disertai tulisan pengantar Budi Dharmawan, yang juga dikenal sebagai fotografer dan penulis lepas. Budi menilai bahwa semesta ini memang acak adanya. Namun acak dan tak tertebak tidak lantas meniadakan tatanan dan keteraturan. Keadaan ini, menurutnya, justru memperluas kemungkinan bahwa suatu peristiwa tidak terjadi dari suatu penyebab tunggal dan bukanlah suatu kejadian yang lepas, melainkan bagian dari rangkaian reaksi berantai yang saling mempengaruhi dan dipengaruhi oleh hal dan peristiwa yang lain. Dari untaian peristiwa itu bisa ditemukan pola dan dibuat perkiraan. Jadi begitulah random life, Budi menyimpulkan, yang bisa dilakukan manusia hanyalah memperkirakan.

Octo Cornelius 'Lost in the Road' - Foto Barata
Octo Cornelius ‘Lost in the Road’ – Foto Barata

Budi menjelaskan, dalam pameran ini Octo mempresentasikan sejumlah karya yang mencoba mempercakapkan momen-momen yang acak dan tidak tertebak tersebut. Soal waktu yang tidak tepat, soal merawat keyakinan di tengah keraguan, soal pencarian dan penantian di dalam keterbatasan, soal keberanian yang kadang justru muncul dari ketidaktahuan. Momen-momen acak di dalam hidup ini, kata Budi, muncul dari renungan Octo yang lantas menubuh ke dalam praktik kekaryaannya dan mewujud ke dalam karya-karyanya. “Pameran ini menawarkan jeda kepada kita dari ikatan-ikatan keseharian dan mengajak kita sejenak menikmati acaknya hidup. Sebab hidup adalah apa yang terjadi, sementara kita sibuk dengan rencana-rencana,” ujarnya.

Octo Cornelius 'Positive Response Facing the Metastatis' - Foto Barata
Octo Cornelius ‘Positive Response Facing the Metastatis’ – Foto Barata

Lebih jauh Budi mengungkapkan, pameran ini bermula dari pengalaman-pengalaman pribadi Octo. Menurutnya, belakangan ini Octo banyak mengalami hal-hal yang acak. Terutama ketika istrinya divonis menderita tumor ganas, tidak lama setelah mereka menikah. Tidak ada gejalanya sebelumnya, dan dokter tidak bisa memastikan apa penyebabnya. “Benar-benar tidak diduga dan tidak diinginkan tetapi harus dihadapi juga,” tandas Budi.

Octo Cornelius 'Live by Faith Not by Sight' - Foto Barata
Octo Cornelius ‘Live by Faith Not by Sight’ – Foto Barata

Dalam video yang ditayangkan saat pameran, Octo mencontohkan karyanya ‘Lost in the Road’. Sesuai judulnya, artinya sesuatu yang hilang di jalan, bisa berupa kesadaran atau nyawa. Kecelakaan adalah kejadian yang tidak terduga. Karya ini berupa rangkaian roda yang penyok, yang dicat warna merah. Secara visual, karya ini menarik karena seperti mengesankan rangkaian jalan hidup yang berliku dan berkelok.

Dalam karyanya yang lain Octo menunjukkan sikapnya dalam menghadapi ketidakpastian hidup. Karyanya yang mencolok adalah ‘Live by Faith Not by Sight’, artinya Octo menyikapi hidup secara religius. Karya ini berupa susunan kayu panjang yang membentuk segi tiga. Kayu-kayu yang mengesankan bentuk pinsil berujung runcing ini menjulang ke atas, dengan buntut yang diberi rumbai menyerupai ekor anak panah. Kesan dan pesannya menjadi komprehensif. Inilah alat bekerja dan berkarya, sekaligus inilah kesiapan “senjata perang” dalam menjalani kehidupan dengan posisi pandangan ke atas yang optimis berlandaskan iman.

Karya religius lainnya adalah ‘Ziarah’, berupa beberapa kayu bundar yang disusun sebagai jalan setapak menuju cahaya. Begitu pula ‘Seek and You’ll Find’, berupa kran yang meneteskan air. Sedangkan keberanian menghadapi hidup, salah satunya justru saat Octo tak menyadari risikonya.

Octo Cornelius 'Seek and You'll Find' - Foto Barata
Octo Cornelius ‘Seek and You’ll Find’ – Foto Barata

Karyanya ‘Tak Paham Maka Kuberani’ memvisualkan pinsil-pinsil yang menancap di lingkaran kayu seperti paser. Karya lainnya yang menarik secara visual adalah sepatu-sepatu bersayap yang terbang, yang dijuduli ‘Positive Response Facing the Metastasis’. Di setiap karyanya, Octo selau mencantumkan kawat berbentuk sayap berwarna merah. Agaknya ini simbol keberanian dan optimismenya.

Octo Cornelius 'Tak Paham Maka Kuberani' - Foto Barata
Octo Cornelius ‘Tak Paham Maka Kuberani’ – Foto Barata

Budi menjelaskan, pameran ini merupakan upaya Octo berbagi atau sharing bahwa hidup itu terkadang membawa kita ke arah yang tidak dibayangkan. Dengan berbagi ini, barangkali Octo dapat masukan dari pengunjung. Pameran yang, menurut Budi, mengajak ngobrol, bukan cuma dinikmati keindahannya. Jadi soal hidup, kata Budi, “Nikmati saja, hidup ini memang acak.” (*)

TINGGALKAN KOMENTAR