Menikmati Jawa Timur di Yogyakarta

0
54
Dua jawara Sarip dan Paidi siap bertarung dalam ludruk The Legend of Sarip - Foto Barata
Dua jawara Sarip dan Paidi siap bertarung dalam ludruk The Legend of Sarip - Foto Barata

Sejak lama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), khususnya KotaYogyakarta, dikenal sebagai kota pelajar dan kota budaya. Pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah di Jawa dan luar Jawa menempuh pendidikan di sini. Julukan itu masih berlaku sampai kini, ditambah berbagai sebutan baru, mulai dari kota wisata, kota toleran maupun kota filosofi.

Penulis dan aktivis Tri Agus Siswowiharjo, mengutip data dari harian Kompas (9/4/13), menyebutkan bahwa pada tahun 2013 di Yogyakarta ada lebih dari 120 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Tercatat sekitar 310.860 mahasiswa dari 33 provinsi di Indonesia belajar di Yogyakarta. Dari jumlah itu, 244.739 orang (78,7 persen) adalah mahasiswa perantau dari luar daerah. Sementara itu, mengutip Republika.com, ada 30 provinsi se-Indonesia yang memiliki asrama mahasiswa di DIY. Padahal beberapa kabupaten dari provinsi mendirikan asrama sendiri. Di Kota Yogyakarta sendiri (di luar Sleman dan lainnya) ada 73 asrama mahasiswa dari sejumlah daerah.

Batik Gedog dari Tuban dipamerkan - Foto Barata
Batik Gedog dari Tuban dipamerkan – Foto Barata

Bayangkanlah jika para mahasiswa daerah ini mengadakan acara tahunan di Yogya, yang menampilkan pentas seni, kerajinan dan adat-istiadat khas daerahnya. Katakanlah dari setiap provinsi. Atau setidaknya setiap pulau, semisal Sumatera, Kalimantan, dan lainnya. Tentu akan memberi warna lain, melengkapi rangkaian acara kesenian dan kebudayaan yang telah berlangsung semarak di Yogya. Terlebih pada situasi kebangsaan belakangan ini, acara seperti ini akan meningkatkan kesadaran atas kebhinekaan dan keniscayaan multikultural bangsa kita.

Sejauh ini agaknya baru Provinsi Jawa Timur yang membuat acara tahunan semacam ini. Sejak tahun 2015, sekelompok mahasiswa yang bergabung dalam Keluarga Jawa Timur Yogyakarta (KJTY) membuat acara tahunan Jawa Timur Festival, yang lebih populer dengan Jatimfes. Acara ini mementaskan beragam kesenian dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Timur yang bisa disaksikan secara gratis oleh publik di Yogya.

Lagu-lagu daerah dikemas secara etnik oleh band dari Situbondo - Foto Barata
Lagu-lagu daerah dikemas secara etnik oleh band dari Situbondo – Foto Barata

Pada dua tahun pertama Jatimfes diadakan di ruang terbuka, Monumen Serangan Oemoem (SO) 1 Maret. Tahun ini pada Oktober lalu diadakan di gedung tertutup Sasana Hinggil Dwi Abad, Alun-alun Selatan. Menurut seksi publikasi panitia Muhammad Ridwan, Elok Kharismatul Ula dan Narum Khorihatanti, respon publik selama ini melebihi perkiraan.

Jatimfes 2017 yang berlangsung dua hari diisi dengan pentas seni tradisi dari Surabaya, Banyuwangi, Malang, Jember, Situbondo, Tulungagung, Kediri, Ngawi dan lainnya. Selain pentas, mereka juga ikut kirab pada hari hari pertama. Tak ketinggalan kostum reog Ponorogo. Acara ini dibuka Gusti Prabu, serta dihadiri Walikota Trenggalek dan Dewan Kesenian Jawa Timur.

Para perempuan yang diperankan laki-laki mengawali ludruk - Foto Barata
Para perempuan yang diperankan laki-laki mengawali ludruk – Foto Barata

Sedangkan dalam hal pementasan yang selalu menarik, antara lain adalah tari Remo dari Surabaya, yakni tari pembuka atau selamat datang. Gerakan enerjik yang artistik mulai dari gedrug sampai telesikan dibawakan dengan lancar dan bersemangat. Tak kalah menarik karena kekhasannya adalah musik Patrol dari Jember yang menggunakan instrumen kentongan.

Acara puncaknya adalah ludruk dengan lakon ‘The Legend of Sarip’, lakon pakem berdasarkan legenda Sarip Tambak Oso. Lakon ini, yang disutradarai Rizky Ade Surachman, mahasiswa Jurusan Teater Institut Seni Indonesia Yogyakarta, berkisah tentang tokoh pejuang bernama Sarip yang merampok orang-orang kaya untuk dibagikan kepada orang-orang miskin. Serta menjadi buruan kolonial Belanda. Kisahnya mengalir dengan menarik, sampai tewasnya Sarip.

Pementasan semacam Jatimfes dimungkinkan karena biasanya di perguruan tinggi ada unit kegiatan mahasiswa yang berisi latihan kesenian. Atau bisa jadi si mahasiswa sudah memiliki ketrampilan seni saat masih berada di daerah asalnya. Dengan begitu sebenarnya para mahasiswa dari daerah lain bisa mengikuti jejak Jatimfes ini.

Salah satu tari tradisional yang memikat - Foto Barata
Salah satu tari tradisional yang memikat – Foto Barata

Apalagi menurut seksi publikasi panitia Ridwan, Elok dan Narum, acara Jatimfes sukses pula merekatkan hubungan antarmahasiswa dari Jawa Timur yang berkuliah di Yogya. Sejumlah daerah mempunyai perkumpulan, misalnya Keluarga Pelajar Mahasiswa Ranggalawe Tuban, Keluarga Pelajar Mahasiswa Banyuwangi Yogyakarta, Ikatan Kerabat Pasuruan Yogyakarta, Ikatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Jember Yogyakarta, dan lainnya. Acara Jatimfes bisa menjembatani perkumpulan ini, selain para mahasiswa secara personal.

Acara ini juga digunakan untuk mengenalkan dan mempromosikan seni budaya daerah mereka. Misalnya, batik Gedog dari Tuban, yang memiliki kekhasan dalam motifnya. Sehingga secara keseluruhan, acara semacam ini juga akan memperkaya publik dengan keragaman Nusantara. Dampak selanjutnya adalah tingkat toleransi dan apresiasi terhadap budaya lain, dan akhirnya kebanggaan dan kecintaan diri sebagai bangsa Indonesia. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR