Babad Alas di Bangsal Srimanganti

0
58
Ki Galih membawakan lakon Babad Alas Mrentani foto herjaka
Ki Galih membawakan lakon Babad Alas Mrentani foto herjaka

Bangsal Srimanganti Keraton Yogyakarta, setiap hari Sabtu mulai jam 10.00 sampai dengan jam 13.00 digelar pentas wayang kulit purwa. Sesuai dengan fungsinya, keberadaan bangsal tersebut pada mulanya digunakan oleh Sri Sultan untuk menerima tamu-tamu istimewa. Dan pegelaran wayang kulit adalah salah satu dari ‘suguhan’ yang diperuntukan bagi tamu-tamu raja, yaitu para wisatawan yang berkunjung di Keraton. Memang semenjak Keraton Yogyakarta dijadikan tujuan wisata, bangsal Srimanganti jarang sekali dipakai oleh Sri Sultan untuk mememui tamu-tamu khusus. Tamu tamu yang ada adalah para wisatawan.

Setiap hari Keraton Yogyakarta dikunjungi ratusan bahkan ribuan wisatawan. Kepada merekalah bangsal Srimanganti boleh disinggahi. Ada yang singgah dan duduk di kursi cukup lama untuk menikmati pertunjukan wayang hingga selesai. Ada pula yang singgah sebentar kemudian pergi, dan bahkan ada yang cuma numpang lewat, sambil menoleh ke arah pentas wayang.

Siang itu, Sabtu 18 November 2017 yang mendapat giliran mendalang di Bangsal Srimanganti adalah Ki Galih Ari Wibowo. Ia membawakan lakon Babad Alas Wanamarta, atau Babad Alas Mrentani. Cerita ini mengsiahkan, ketika Dewi Kunthi dengan mengatasnamakan Pandawa yang sudah dewasa, menagih janji hak atas tahta Negara Hastinapura. Oleh Duryudana hak Pandawa tidak diberikan, separuh pun tidak. Sebagai gantinya, Pandawa diberi hutan Mrentani. Walaupun diperlakukan tidak adil, Pandawa menerima keputusan saudara tuanya dan para penasihat istana.

Ki Galih Ari Wibowo usai mendalang di Bangsal Srimanganti Kraton Jogjakarta foto herjaka
Ki Galih Ari Wibowo usai mendalang di Bangsal Srimanganti Kraton Jogjakarta foto herjaka

Maka kemudian Bratasena atau Bima, anak kedua dari Pandawa Lima, yang berbadan kekar mengawali untuk membuka hutan dan membangun tempat tinggal. Rupanya kemampuan yang besar dan tekad yang kuat tidaklah cukup untuk sebuah rencana besar. Pada saat membabat hutan Mrentani, Bima tiba-tiba tidak dapat bergerak, terjerat oleh kekuatan yang amat besar. Sayangnya Bima tidak dapat melihat kekuatan besar itu. Tangan dan kakinya dan juga badannya tidak dapat digerakkan. Bima jatuh tak berdaya.

“Ha ha ha ha ha ha,… mampus kau anak muda yang tidak tahu diri. Engkau telah merusak bangunan Keraton Mrentani. Karena kelancanganmu, aku, Patih Sapujagad akan menjebloskanmu ke dalam penjara.”

Begawan Wilawuk (kiri) berhasil membawa Arjuna dan dipertemukan dengan Jim Mambang pitrinya. foto herjaka
Begawan Wilawuk (kiri) berhasil membawa Arjuna dan dipertemukan dengan Jim Mambang pitrinya. foto herjaka

Jika Bima mendapat celaka, tidak demikian halnya dengan Arjuna. Pada saat yang sama, Arjuna mendapat anugerah. Anugerah Arjuna bermula dari Jim Mambang, seorang putri Begawan Wilawuk yang bertemu Arjuna di dalam mimpi dan kemudian jatuh hati. Karena besar rasa kasihnya, Begawan Wilawuk berjanji akan mencari Arjuna dan mempertemukan dengan putrinya. Usaha Wilawuk berhasil, Arjuna diboyong pulang dan dipertemukan dengan Jim Mambang. Tidak disangka bahwa putri pendeta raksasa itu cantik jelita. Arjuna pun jatuh hati. Setelah menjadi menantu Wilawuk, Arjuna diberi pusaka berupa minyak Jayengkaton, yang berkasiyat dapat melihat lakunya Jim.

para wisatawan yang menyempatkan duduk dan melihat pertunjukan wayang foto herjaka.
para wisatawan yang menyempatkan duduk dan melihat pertunjukan wayang foto herjaka.

Minyak Jayengkaton itulah yang kemudian dipakai Arjuna untuk menolong Bima dan saudara-saudaranya dalam menghadapai Jim penghuni hutan Mrentani. Dengan cara dioleskan pada pelupuk mata, Pandawa Lima dapat melihat jim penghuni hutan yang sedang babat. Oo ternyata Hutan Mrentani adalah sebuah kerajaan yang besar dan megah. Sepak terjang Bima sewaktu membuka hutan, tanpa disadari telah merusak bangunan Keraton. Pantas saja Patih Sapujagad marah.

Kini setelah Pandawa beroleskan minyak Jayengkaton, mereka saling berhadapan. Puntadewa dan keempat adiknya, yaitu Bima, Arjuna, Pinten dan Tangsen berhadapan muka dengan Prabu Yudistira, raja Mrentani, beserta empat adiknya, yaitu: Dandunwacana, Dananjaya, Jim Nakula dan Sadewa.

Bratasena dihadang Patih Sapujagad foto herjaka
Bratasena dihadang Patih Sapujagad foto herjaka

Waktunya pun telah tiba, kerajaan Mrentani yang tersembunyi di dalam hutan, kini terlihat nyata di hadapan Pandawa. Inilah manusia yang dinanti-nanti. Pandawa Lima adalah “Lintang Johar” (ya kamu ya aku) bagi Prabu Yudistira dan keempat adiknya. Yang terjadi kemudian Prabu Yudistira menyerahkan kerajaan Mrentani kepada Puntadewa. Dan ia sendiri manuksma, roh dan jiwanya menyatu dengan Puntadewa, diikuti oleh Dandunwacana menyatu dengan Bima, Dananjaya menyatu dengan Arjuna, Jim Nakula dan Jim Sadewa menyatu dengan Pinten dan Tangsen. Selesai sudah penantian Prabu Yudistira dan adik-adinya. Kerajaan Mrentani yang semula tidak kelihatan, kini nampak nyata. Melalui babad alas yang penuh perjuangan, banyak rintangan serta melelahkan, Pendawa berhasil mewujudkan Keraton yang besar, megah dan indah.

Pengrawit dan pesinden dari para abdi dalem Kridha Mardawa kraton Jogyakarta. foto herjaka
Pengrawit dan pesinden dari para abdi dalem Kridha Mardawa kraton Jogyakarta. foto herjaka

Para wisatawan yang tidak duduk di Bangsal Srimanganti dan tidak mengikuti pertunjukan wayang kulit yang dibawakan oleh pemuda lulusan SMKI jurusan pedalangan tahun 2014 ini, dan didukung para pesinden dan pengrawit dari abdi dalem Kridha Mardawa Keraton Yogyakarta, tidak bakal tahu proses perjuangan Pendawa Lima dalam mewujudkan Keraton Mrentani yang kemudian berganti nama dengan Keraton Amarta.

Demikian pula ketika melihat Keraton Yogyakarta, para wisatawan tidak pernah membayangkan perjuangan Pangeran Mangkubumi ketika membangun Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan membuka hutan Beringan di Bumi Pacethokan yang angker dan banyak dihuni makhluk halus selama dua tahun, (1755 – 1757).

Prabu Yudistira didampingi Jim Nakula dan Jim Sadewa (kanan) ingin menyatu dengan Puntadewa, Pinten dan Tangsen. foto herjaka
Prabu Yudistira didampingi Jim Nakula dan Jim Sadewa (kanan) ingin menyatu dengan Puntadewa, Pinten dan Tangsen. foto herjaka

Di akhir kisah Pandawa berhasil membuka hutan dan mewujudkan Keraton Amarta yang megah dan indah berkat bantuan Begawan Wilawuk dan raja Jim Prabu Yudistira. Keberhasilan Pandawa untuk mewujudkan cita-citanya adalah keberhasilan setiap orang yang mampu mengelola kebersamaan, menyatukan kekuatan yang ada, baik kekuatan yang kelihatan maupun kekuatan yang tidak kelihatan. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR