Mengenang Mainan Masa Lalu dalam Pameran Montor-montor Cilik

0
80
Otoped Model Bomba-Foto-A.Sartono
Otoped Model Bomba-Foto-A.Sartono

Sejak tahun 1982 Bentara Budaya Yogyakarta secara berkala terus memamerkan Seri Lawasan. Di bulan November 2017 ini BBY kembali memamerkan karya lawasan yang dibingkai dalam tema Pameran Pedal Car: Montor-montor Cilik. Judul Montor-montor Cilik ini diambil dari lirik lagu dolanan karya Ki Narto Sabdo yang antara lain berbunyi, montor-montor cilik sing nunggang mbleneg (montor-montor kecil yang naik gendut). Sedangkan benda yang berupa mainan pedal car yang dipamerkan ini merupakan benda-benda koleksi dari Subianto.

Pembukaan pameran ini dilakukan Jumat malam, 24 November 2017 oleh Pardiman Djoyonegoro. Sebelum pembukaan ditampilkan pementasan dari Icipili Mitirimin asuhan Pardiman Djoyonegoro dan Sanggar Biola Serenade asuah Ag Wahyu Wibowo. Penampilan kedua kelompok kesenian ini tampaknya memang disesuaikan dengan temanya dimana para pemusik dan penyanyi yang tampil dalam acara ini semuanya adalah anak-anak hingga remaja.

Pedal Car oleh Rama GP Sindhunata SJ diterjemahkan sebagai Mobil Pancal. Mungkin ini memang terjemahan yang pas untuk jenis mainan ini. Pedal Car yang dipamerkan ini merupakan bagian dari mainan transportasi lawasan yang dipakai oleh anak-anak pada masa lalu, sekitar tahun 1920-1960-an. Ada pun yang termasuk dalam kategori pedal car ini antara lain adalah sepeda roda tiga otopet, sepeda motor kecil, dan mobil-mobilan yang berukuran kecil, sekitar 60 cm x 100 cm. Mainan-mainan ini dibagi dalam dua kategori, yang pertama tanpa mekanik dan yang kedua dengan mekanik berupa pedal.

Pedal Car Model Jeep-Foto-A.Sartono
Pedal Car Model Jeep-Foto-A.Sartono

Mainan tanpa mekanik adalah mainan anak-anak yang diperuntukkan bagi anak balita. Mainan yang masuk dalam kategori ini adalah otoped, sepeda roda tiga tanpa pedal. Mainan-mainan model ini hanya bisa jalan kalau didorong. Ada pun mainan yang mekanik adalah berupa tricycle atau sepeda roda tiga yang dilengkapi dengan pedal di bagian as roda depan. Kemudian mobil-mobilan yang dilengkapi dengan pedal dan rantai atau dua buah tuas yang dapat menggerakkan roda belakang.

Pedal Car Model Ferrari-Foto-A.Sartono
Pedal Car Model Ferrari-Foto-A.Sartono

Keberadaan pedal car di Indonesia yang ada sekarang ini sebenarnya dulu umumnya dimiliki oleh anak-anak orang kaya bangsa Belanda di era awal abad ke-20. Pedal car yang dulu umumnya terbuat dari logam berongga (pipa), yang dalam perkembangannya kemudian muncul dengan bahan atau material baru yakni dari atom atau plastik yang marak dibuat pada tahun 1960-1970-an. Setelah era ini dapat dikatakan bahwa produksi pedal car sudah sangat jarang atau tidak ada lagi yang berbahankan logam. Hampir semuanya berbahan plastik.

Munculnya industri mobil di awal abad ke-20 menginspirasi perusahaan mainan anak-anak. Mereka melihat peluang itu. Kemudian ada beberapa perusahaan mainan anak-anak seperti MoBo di Inggris yang membuat berbagai jenis mainan anak-anak mulai dari sepeda roda tiga, sepeda motor, dan mobil. Mainan-mainan ini tidak bermesin. Bentuknya dibuat seperti mobil sungguhan namun dalam ukuran kecil dan bisa dinaiki anak-anak.

Pedal Car Model Sedan-Foto-A.Sartono
Pedal Car Model Sedan-Foto-A.Sartono

Ada tiga cara untuk menjalankan jenis mainan ini. Pertama, pedal car dilengkapi dengan pedal dan rantai serta gir untuk menggerakkan roda. Kedua, memakai tuas atau kayuh dari kayu atau logam (besi) yang berfungsi untuk menggerakkan roda seperti sistem roda kereta api di zaman dulu, dimana ada satu titik pada roda yang bergerak naik turun, yang perputaran tersebut menyebabkan roda bisa bergerak ke depan. Sedangkan yang ketiga adalah berbentuk kereta dengan empat roda, tetapi tidak ada mekaniknya. Kereta ini hanya didorong saja untuk menjalankannya. Oleh karenanya dikatakan sebagai kereta dorong.

Pedal Car Sepeda Roda Tiga (Hartog)-Foto-A.Sartono
Pedal Car Sepeda Roda Tiga (Hartog)-Foto-A.Sartono

Mainan-mainan model ini bagi anak-anak desa di masa lalu juga menarik perhatian mereka. Namun karena harga mainan ini mahal dan tidak terjangkau oleh keuangan mereka, lalu muncullah kreasi untuk membuat mobil-mobilan semacam itu dengan bahan dari papan bekas packing. Kemudian muncullah mobil-mobilan berbentuk truk yang bisa dinaiki oleh seorang anak kecil. (*)

Sepeda Kayu-Foto-A.Sartono
Sepeda Kayu-Foto-A.Sartono

TINGGALKAN KOMENTAR