Puisi Emi Suy

0
542

TERINGAT AYAH

pohon-pohon meranggas
angin mengempas
daun-daun berserak di tanah
langit kehitaman
bumi merindukan hujan
langkahku gontai sendirian
aku menguntai doa
kukirimkan di atas pusara
doaku memeluk ayah
kembali aku memandang foto
di dinding, sajadahku basah
pintu berderit pelan

Jakarta, 20 Januari 2016

AKU BICARA PADA BEBATUAN

Aku bicara pada bebatuan yang diam membisu
dan kau bicara pada air yang sibuk meriak
Kita berdekatan namun tak saling bicara dalam kata-kata
Hatiku memanggil namamu
dan hatimu memanggilku dalam kebisuan

Aku memandang punggungmu dari kejauhan di sana tertulis rindu yang selalu kubaca
Aku menghitung jejak kakimu di atas pasir
di empatku berdiri dan tempatmu mengeja gelombang alun

Kita tenggelam dalam kediam-diaman
saling memeluk dengan doa di relung jiwa

Dada laut itu terlalu dalam untuk kurenangi
dan bebatuan ini enggan menjawab keriuhan

Palingkan wajahmu
agar melihat gugusan awan hitam di langit mata
Akulah sunyi pada sekuntum mawar yang berduri
dimekarkan waktu dan dikekalkan dalam hati(mu)

2017

DI BAWAH TARIAN HUJAN

Ah, gemuruh menutupi sebagian langit. Entahlah, aku masih menyukai tarian hujan. Datanglah! Gaduh riuh merayakan aroma tanah basah kerinduan yang menggenang di semua sudut jalan dan trotoar

Semestinya, ilalang tiada merisaukan sepi yang kerap karib menjadi kawan Lengang, di sepanjang semak. Ya, sudahlah.

Di bawah tirai hujan aku mengingat langit tempat layang-layang berkabar
Layang-layang mengajarkan bagaimana menarik dan kapan harus mengulur
agar benang tak putus di tangan. Agar tiada terbawa angin di titik pandang

Di genangan air aku mengingat telaga yang dihuni ikan-ikan
Ingat pada pemancing yang mengajarkan kesabaran dan ketelatenan dan melatih diri untuk fokus pada hal-hal yang dilakukan.

Aku ingin menatap laut, melihat ombak, menyimak sunyi
di bawah tarian hujan….

2017

KEPULANGAN

di halaman rumah tua
berpagar bambu kian dilapukkan waktu
sepasang mata sayup
tertunduk mengantarkan kepulangan ayah
dengan linangan hujan dari sudut mata teduhnya

di muka pintu masih bergelayut
bendera kuning mengibarkan duka
ingatan yang tak pernah purba
usia dan maut yang datang tak diminta
segala ‘kan pergi dipanggil sang pencipta

yang pergi tak ’kan kembali
yang tersisa amal bicara
mengantar — menemani sampai kebangkitan tiba
yang menjadi cahaya
hingga hari akhir

waktu berpisah
jejak yang pernah ada meninggalkan noda
di pengujung musim mata telah terpejam
umur tak dapat ditanam
hanya kebaikanlah yang akan tumbuh subur

Konten Terkait:  Puisi Setiyo Bardono

di ladang amal
menyemai benih
tumbuh rindang di alam surga
tempat semula diciptakan adam dan hawa
tempat berpulang semua umat kekasih Rosululloh!

2017

PEREMPUAN MENJAHIT

seorang perempuan
menjahit luka tubuhnya di bilik renta
menyatukan serpihan kenangan
yang pernah retak

sendiri — ditemani rindu
pelan-pelan jemarinya merangkai sunyi di antara potongan kain perca
malam adalah ujung jarum yang tiba-tiba menusuk ujung telunjuk

berdarah dan perih tak membuatnya berhenti menjahit
meski senyap telah ditelan gelap
matanya yang layu belum nampak sayu
berkali-kali menggulung benang yang terlepas dari sekoci

ia sabar menyimpan warna-warni ingatan dalam sebuah laci
matanya menatap dekat lubang jarum
memasukan ujung benang dalam lubang
menjadikannya sempurna sepotong baju

membalut tubuhnya yang sedikit keriput
bahagia pasti tiba
dipeluk doa yang selalu dilangitkan

2017

EMI SUY Lahir di Magetan, Jawa Timur, 2 Februari. Sebagai pekerja dan ibu RT, ia aktif di beberapa komunitas Fb: New Haiku, Rose Book, Dapur Sastra Jakarta, Komunitas AWWA, dan sosmed lainnya. Puisi-puisinya pernah dimuat koran Media Indonesia, majalah Story. Buku puisi tunggalnya: Tirakat Padam Api (2011), Alarm Sunyi (2017).

Puisi-puisinya juga terdapat dalam antologi: Aksara Nusantara (2011), Wiracarita Karmapala (2012), Para Pengukir Tinta Emas (2012), Rindu Bulan Penuh Keajaiban (2012), Lukisan Bumi Pertiwi (2012), Ada Apa dengan Hati (2013), Meraih Mimpi (2012), Hujan Kata di Negeri Puisi (2013), Bara dalam Sekam (2013), Cerita Pertama (2013), Sehelai Selendang Seikat Mawar (2013), 100 Penyair Perempuan Indonesia (2014), Merajut Cinta di Negeri Dongeng (2014), Memandang Bekasi (2015), Sonian Puisi Genre Baru (2015), Haiku Indonesia (2015), Kitab Karmina Indonesia (2015), Untuk Jantung Perempuan (2015), Negeri Laut (2015), Suara Dari Berbagai Penjuru (2015), Ombak Semenanjung Biru Sonian 3 Negara (2016), Rahim Puisi (Asian Women Writer Association, 2016), Chairil Anwar Setelah 67 di Karet (2016), Palagan (2016), Memo Anti-Teroris (2016), Memo Anti-Kekerasan Terhadap Anak (2016), Puisi Kopi 1550 MPDL (2016), Ije Jela (2016), Musim ke-21000 Haiku (2016), Bunga Putra Bangsa (2016), Puisi Gerhana (2016), Nyanyian Puisi untuk Ane Matahari (2017), Puisi Kopi 1.550 MPDL (2017), Negeri Awan (2017), Puisi 6,5 Pidie Jaya (2017), Akar dari Ibu (2017), Seberkas Cinta (2017), Musim ke-3 1000 Haiku Indonesia (2017), Madah Merdu Kamadhatu (2017), Selendang Mayang (cerpen, 2017), Mata Cinta (cerpen, 2017), Batik Jelita Warisan Nusantara (2017). Tinggal di Jakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here