Anugerah Sastra dan Seni UGM, Kemerdekaan Berkarya dalam Ruang Perbedaan

0
68
Para pemenang lomba yang sekaligus penerima anugerah sastra dan seni-foto-Indra
Para pemenang lomba yang sekaligus penerima anugerah sastra dan seni-foto-Indra

Dalam rangka menumbuhkan kembali pentingnya sastra dan seni sebagai pengasah budi dan kecendikiaan, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan acara Anugerah Sastra dan Seni UGM ke-4 serta Lomba Sastra dan Seni UGM 2017. Kegiatan ini diselenggarakan dengan maksud sebagai salah satu langkah nyata dalam usaha memberi ruang ekspresi kepada para pelaku sastra dan seni untuk terus berkarya. Di samping itu, kegiatan ini juga ditujukan untuk memicu kembali gairah bersastra-seni serta bentuk kontribusi nyata terhadap perkembangannya di Indonesia.

Jumat, 10 November 2017, Malam Puncak Anugerah Sastra & Seni UGM ke-4 berlangsung meriah. Lagu kebangsaan Indonesia Raya bergema di gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hadjasoemantri UGM sesaat sebelum acara dimulai, dipandu oleh beberapa perwakilan panitia yang mengenakan macam-macam pakaian adat Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa keragaman dan perbedaan bukan penghalang dalam berkarya.

Lagu Indonesia Raya berkumandang, dinyanyikan bersama seluruh hadirin-foto-Indra
Lagu Indonesia Raya berkumandang, dinyanyikan bersama seluruh hadirin-foto-Indra

“Jika boleh jujur, peradaban dunia dimulai dari sastra, namun kadang kita kurang menyadarinya. Sebuah perpaduan antara pikiran dan rasa menjadi pondasi utama, ketika sebagian orang menulis tanpa memikirkan dahulu dan disebarkan, lain halnya dengan penghargaan sastra malam ini di mana semua yang tertulis merupakan sebuah olah rasa dan olah pikiran yang telah terkonsep berbulan-bulan hingga menjadi sebuah karya,” kata Dekan FIB UGM, Dr. Wening Udasmoro dalam sambutannya.

Pada penyelenggaraannya, lomba Sastra dan Seni UGM tahun 2017 berhasil menjaring kurang lebih 2.149 karya. Dengan mengangkat tema “Revitalisasi Penghargaan Terhadap Perbedaan” lomba tersebut meliputi beberapa kategori, yaitu puisi, cerpen, fotografi, film pendek, penulisan meme dan kritik sastra. Tema yang diangkat sekaligus mengingatkan kembali realitas bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang plural, bangsa yang dalam sejarahnya memiliki sejarah panjang dalam menghargai keberagaman dalam berbagai aspek kehidupan, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dalam aspek tersebut toleransi terhadap perbedaan sangat kental dalam berkehidupan.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Kuncoro mewakili Dewan Guru Besar menyampaikan bahwa cipta, rasa dan karsa merupakan sebuah kesatuan sehingga sangat mempengaruhi pola berpikir manusia. “Ketika kita sekarang berada dalam persoalan bangsa yang semakin tidak jelas, maka anugerah seni ini menjadi sangat luar biasa,” tambahnya.

Pementasan Goro-Goro Diponegoro oleh kelompok seni Mantradisi-foto-Indra
Pementasan Goro-Goro Diponegoro oleh kelompok seni Mantradisi-foto-Indra

Selain pemberian anugerah pada beberapa pemenang lomba, acara malam itu menampilkan sederet pengisi seperti, orasi budaya oleh Prof. Dr. Budi Darma, M. A, pembacaan puisi oleh Kedung Darma Romansha, Voice of Citizen, dan Rampoe UGM serta kelompok seni Mantradisi menutup acara malam tersebut dengan apik dengan menampilkan pementasan “Goro-Goro Diponegoro.” (*)

TINGGALKAN KOMENTAR