Latar Kisah Tradisi Malam Midodareni

0
647
GKR Bendara putri Sri Sultan HB X di malam midodareni ditemani para saudaranya. Sumber Foto: VIVA.co.id
GKR Bendara putri Sri Sultan HB X di malam midodareni ditemani para saudaranya. Sumber Foto: VIVA.co.id

Belum lama ini Presiden Jokowi menikahkan putrinya di Kota Solo dengan adat budaya Jawa. Salah satu tradisi dalam adat budaya Jawa yang dilaksanakan adalah malam midodareni (bahasa Jawa: malem midadareni). Tradisi ini dilaksanakan malam hari menjelang upacara sakral, yaitu ijab qabul (kalau agama Islam) dan panggih. Tradisi malam midodareni dilaksanakan di rumah mempelai putri. Inti dari upacara itu pada zaman dahulu adalah lek-lekan (istilah Jawa) atau berjaga tidak tidur untuk menunggu turunnya wahyu dari para bidadari yang akan memberi restu kepada pengantin putri.

Tradisi malam midodareni tidak terlepas dari kisah Jaka Tarub yang memperistri seorang bidadari bernama Dewi Nawangwulan. Setelah menikah dengan Dewi Nawangwulan, Jaka Tarub mendapat seorang anak putri yang cantik bernama Dewi Nawangsih. Beberapa tahun kemudian, Dewi Nawangwulan menemukan kembali selendang saktinya yang bisa dipakai terbang kembali ke kahyangan.

Dewi Nawangwulan kembali ke kahyangan disaksikan Jaka Tarub. Sumber Ilustrasi: Istimewa
Dewi Nawangwulan kembali ke kahyangan disaksikan Jaka Tarub. Sumber Ilustrasi: Istimewa

Selendang itu ditemukan kembali oleh Dewi Nawangwulan di tempat penampungan padi atau lumbung, yang kebetulan saat itu persediaan padi di dalam lumbung semakin menipis karena paceklik. Bisa jadi pula, padi di dalam lumbung akan habis, karena setiap hari Dewi Nawangwulan terpaksa harus menumbuk padi, setelah kesaktiannya menanak nasi dilenyapkan oleh Jaka Tarub yang tidak bisa memegang janji.

Setelah menemukan selendang saktinya, ia berpamitan kepada Jaka Tarub untuk pulang ke kahyangan. Betapa sedih Jaka Tarub melepas kepergian istrinya. Namun ia tidak bisa menghalang-halanginya. Sebelum ke kahyangan, Dewi Nawangwulan berpesan kepada Jaka Tarub untuk menjaga Dewi Nawangsih hingga dewasa. Jika suatu saat putrinya akan menikah, ia berpesan kepada Jaka Tarub untuk memingit putrinya di senthong (bilik) rumah Jawa. Setelah itu Jaka Tarub disuruh untuk memanggilnya di malam pernikahan putrinya. Di malam pernikahan itulah, ia beserta dewi-dewi kahyangan lain hendak merestui pernikahan putrinya. Untuk itu, di malam pernikahan putrinya itu, Jaka Tarub diminta untuk mengadakan tuguran, lek-lekan atau berjaga dari tidur.

Konten Terkait:  Beginilah Proses Panjang Kelahiran Lambang Negara Garuda Pancasila
Senthong tengah tempat yang sering digunakan oleh masyarakat Jawa dulu untuk menempatkan calon pengantin wanita dalam upacara malam midodareni. Foto: Suwandi
Senthong tengah tempat yang sering digunakan oleh masyarakat Jawa dulu untuk menempatkan calon pengantin wanita dalam upacara malam midodareni. Foto: Suwandi

Dari kisah itulah, kemudian secara turun-temurun, masyarakat Jawa mengaktualisasikan kisah itu dalam sebuah adat tradisi pernikahan, yang dipercaya bahwa para bidadari akan merestui pernikahan anak mereka di malam menjelang ijab qabul dan panggih. Itulah kisah di balik tradisi malam midodareni yang dipercaya oleh masyarakat Jawa. Senthong adalah bilik kamar yang sakral bagi masyarakat Jawa. di tempat itulah para bidadari merestui calon pengantin putri dan di depan tempat itulah biasanya masyarakat Jawa menempatkan pelaminan bagi kedua mempelai. Salah satu museum yang masih memiliki senthong adalah Museum Tembi Rumah Budaya Yogyakarta. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here